
Farah melihat ponselnya, dia takut terlambat dalam menemui Kevin.
hati Farah sangat berdebar kencang, tangannya berkeringat dingin, dia terlihat sangat kebingungan, dia benar-benar merasa gugup.
Farah kembali bekerja setelah dia lihat, jam makan siang masih lama.
"ya Tuhan, aku sangat gugup, apa ini benar-benar keputusan terbaikku?" gumamnya sambil terus *******-***** jarinya.
*****
"tralalala lililili" Kevin terus bersenandung didalam kamarnya sambil mengeluarkan bajunya dari lemari dan memilih-milih baju yang akan dia kenakan saat bertemu dengan Farah diacara makan siang mereka.
"baju yang mana ya, yang ini terlalu formal, ini terlalu casual" Kevin berfikir keras tentang penampilannya.
Kevin sangat bersemangat sekali, dia berharap ini adalah awal dari dia memulai hubungan yang baik dengan Farah.
baginya kini dirinya seperti sangat hidup, mengejar cinta wanita yang disukainya, sungguh sangat menantang.
******
"apa yang harus aku lakukan? aku bahkan tak bisa berfikir" gumam Hans
Hans mengangkat kepalanya dan menopangnya dengan kedua tangannya, dia memikirkan apa yang harus dia lakukan agar bisa membuat Farah jatuh cinta kepadanya.
"come on Hans, berfikirlah" Hans kini memukul-mukul kepalanya yang tak memiliki ide satupun.
Jono yang hendak mengetuk pintu ruangan Hans melihat pria itu seperti sedang kebingungan.
"ada apa dengan pak hans?" Jono bertanya-tanya.
tok tok tok
"masuk" jawab Hans.
"permisi pak, saya ada yang mau dibicarakan" kata Jono.
"silahkan" kata Hans sambil merapihkan kembali rambutnya.
"pak, bapak sedang stres ya?" tanya Jono.
"ah, tidak pak Jono, saya biasa saja kok" elak Hans.
"pak, saya hanya ingin memberikan satu sarana untuk bapak, kemarilah"
Hans memajukan kepalanya dan Jono membisikkan sesuatu ke telinga Hans.
Hans yang mendengar saran dari Jono, seketika langsung bibirnya langsung merekah.membentuk senyuman.
"ide brilian, pinter juga pak Jono" puji Hans.
"Jono" bangganya setelah mendapat pujian dari Hans.
******
waktu menunjukkan pukul dua belas tepat, Farah bersiap untuk menemui Kevin di restoran yang telah mereka sepakati.
"sudah mau pergi?" tanya Hans yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan Farah
"Iyah kak, aku titip restoran dulu ya, aku mungkin akan sedikit lama" kata Farah sambil merapihkan meja kerjanya dan memasukkan barang-barang yang akan dia bawa.
__ADS_1
Farah hendak berjalan menuju pintu namun Hans menahannya.
Hans memeluk Farah dengan cepat, membuat Fatah terkejut dengan sikap tiba-tiba Hans yang tak biasanya.
"sebentar saja seperti ini" ucap Hans yang memeluk Farah lebih erat lagi.
Farah merasa pelukan ini begitu nyaman, tak pernah dia dipeluk oleh pria lain selain kakak dan papanya.
Farah mulai terbawa suasana, dia hendak memeluk Hans namun dia ragu, perlahan dia gerakkan kedua tangannya untuk memeluk Hans, namun dia urungkan, dia masih bingung dengan perasaannya sendiri, jadi dia tidak ingin gegabah, Farah tidak ingin memberikan harapan lebih.
"terima kasih, Farah" Hans melepas pelukannya.
Farah masih mematung kaku, hingga Hans membuyarkan lamunannya dengan mengacak-acak rambut Farah
"hati-hati dijalan" ujar Hans sambil tersenyum dan menarik tangannya dari kepala Farah.
Farah yang sudah sadar, merapihkan kembali rambutnya yang dibuat berantakan oleh Hans.
******
"yes" ujar Hans dengan gayanya.
Hans seperti mendapatkan sinyal baru didalam dirinya, entah apa maksud dari pelukan Hans tadi kepada Farah, hanya dialah yang tau alasannya melakukan hal itu.
*****
Farah mengendarai mobilnya dan melakukannya dengan cepat, dia tidak mau Kevin menunggunya terlalu lama.
dalam perjalanannya Farah terus merangkai kata yang perlu dia bicarakan kepada Kevin.
"Kevin, aku ...." Farah menghentikan kata-katanya dan menggeleng
"tidak-tidak bukan begitu, hmmm..." Farah berfikir dalam-dalam.
mobil Farah berhenti disebuah restoran yang sudah dia booking pagi tadi.
Farah melangkah masuk dengan menaiki tangga, namun tiba-tiba kakinya terasa lemas dan hampir dia terjatuh, untung saja tangan besar itu langsung menangkap tubuh Farah.
Farah yang merasa tubuhnya ditopang seseorang langsung menoleh dan ternyata Kevin yang berada tepat dibelakangnya.
Farah memandang wajah Kevin, hal itu semakin membuatnya merasa bingung, Farah berdiri kembali dan melangkah masuk kedalam restoran tanpa bicara sepatah katapun kepada Kevin.
Farah duduk dibangku dan bersikap seperti orang yang salah tingkah.
"kalau jalan hati-hati, lihat jalannya jangan kebanyakan berfikir" celetuk Kevin.
"orang itu juga udah lihat jalan kok" sahut Farah.
"sudah, jangan dibahas, kakimu baik-baik saja?" Kevin bertanya sambil menggenggam tangan Farah.
Farah menarik tangannya dan melipat kedua tangannya diatas meja.
"kakiku, baik-baik saja" kata Farah.
"permisi, ini buku menunya" seorang waiters mendatangi meja mereka berdua.
"keluarkan saja menu spesial disini" kata Kevin sambil memberikan black card miliknya.
"baik pak"
__ADS_1
waiters itu membawa black card milik Kevin dan meninggalkan meja mereka.
"kan aku yang ajak kamu makan, kok malah kamu yang bayar sih?" Farah sedikit tersinggung.
"diundang makan siang saja, aku sudah sangat bahagia" Kevin menunjukkan senyumnya.
Farah menjadi serba salah, dia mengundang Kevin hanya untuk berterima kasih atas semua bantuannya kemarin.
"Kevin, aku ingin berterima kasih kepadamu, kamu sudah susah payah membantu ku" Farah memandang kearah Kevin.
"semua itu seharusnya memang kewajibanku, hanya saja karena hubungan kita yang kurang baik, membuat semua seolah sebuah pertolongan" ujar Kevin.
"kamu memang telah menolongku Kevin"
"aku terima ucapan terima kasih darimu" kata Kevin.
Kevin memajukan duduknya dan dia meraih tangan Farah yang diletakkan di atas meja.
"Farah, bisakah kamu memberikan aku kesempatan kedua?" tanya Kevin.
Farah menjadi kaku, ini yang dia takutkan, dia belum siap memberikan jawaban apapun kepada Kevin.
"permisi, ini menu spesial dari restoran kami" waiters meletakkan beberapa piring berisikan masakan.
"kita makan dulu, baru pembicaraannya kita lanjutkan" kata Farah untuk sedikit memberikan waktu baginya.
Farah makan bersama namun tetap berfikir keras tentang apa yang harus dia ucapkan kepada Kevin.
"masakannya sungguh lezat, kamu pintar memilih restoran" kata Kevin.
"bukan aku yang pintar, tapi tempat ini yang pernah aku datangi bersama kak Hans" batin Farah di dalam hatinya.
mereka menyelesaikan makan siang mereka, disaat selesai Farah kembali canggung.
"Farah, kamu kenapa? seperti sedang berfikir sesuatu?" tanya Kevin yang sejak tadi memperhatikan raut wajah Farah
"hmmm, enggak apa kok" kata Farah.
"Kevin" panggil Farah.
"hmm" jawab Kevin.
"aku boleh bertanya sesuatu?"
"tentu saja boleh" kata Kevin.
"apa kamu benar-benar mencintaiku?"
pertanyaan Farah membuat Kevin tersentak, Kevin bingung harus bicara apa.
"apa aku harus mengutarakan perasaan ku sekarang? atau ?! ah" Kevin kesal pada dirinya sendiri karena terdiam membisu tak bisa menjawab pertanyaan dari wanita yang masih berstatus sebagai istrinya.
.
.
.
hi para riders ku,,,,
__ADS_1
terimakasih sudah membaca karyaku, mohon berikan vote, bunga, tap favorit dan likenya ya...
terimakasih