
Kevin mulai mencari tahu tentang siapa dalang dibalik kecelakaan mobil yang tempo hari di alami Farah dan juga kasus lift.
"lapor pak, saya sudah mencoba mencari rekaman video cctv dari sudut lain namun tidak ketemu, tapi ada satu hal yang janggal" papar Ronal.
"apa itu?" tanya Kevin
"seorang pria yang menjadi penjaga keamanan hotel, tiba-tiba mengundurkan diri tanpa sebab apapun, padahal menurut beberapa karyawan dia salah satu karyawan teladan di sana!" pungkasnya.
Kevin tercenung mendengar penjelasan dari personal asistennya. dia juga merasa ada yang janggal dari cerita Ronal.
"selidiki siapa namanya dan di mana dia tinggal, kita harus mencarinya agar bisa mencari dalang dibalik semua kejadian ini!" Kevin kembali memberi perintah kepada Ronal.
Kevin menaruh kedua tangannya dimeja dan dia mulai menyusun rencana.
******
"dek, kamu mau makan apa?" tanya Devan yang kini menemani Farah di rumah sakit.
"aku makan masakan dari rumah sakit saja kak," jawabnya.
"dek, maaf, kan kakak yang tidak berada di sampingmu saat kejadian itu terjadi" Devan merasa menyesal tidak jadi pulang ke Singapura karena harus bertemu seorang klien penting di Indonesia.
"Kaka tidak perlu bicara seperti itu, semua ini sudah takdirku kak, mau kakak ada di sini, aku yakin akan tetap terjebak di sana" Farah berusaha menghentikan rasa bersalah yang menghampiri hati kakaknya.
Farah yakin betul, ada siapapun disisinya saat itu, mereka berdua yang akan terjebak di sana bukan hanya Farah, karena Farah ingat betul kalau di sana tidak ada papan peringatan kalau lift sedang rusak dan dalam perbaikan.
"aku akan menghukum siapapun yang tega melakukan hal itu kepadaku!" batin Farah.
Farah tidak mau menduga atau menuduh bahwa Anelis yang melakukan hal itu kepadanya, tapi dia juga harus ikut menyelidikinya.
"jangan lakukan apapun! biar kakak, Kevin dan Hans yang menyelidikinya, aku juga melarang Michael terlibat karena dia punya baby dan juga kakak iparku, aku tidak mau mereka juga celaka sepertimu!" Devan bicara seakan tahu apa yang ada di dalam fikiran adiknya saat ini.
Farah mengangguk tanda mengerti, sementara ini dia harus menuruti perkataan kakaknya sampai kondisinya benar-benar pulih.
******
"halo, Hans" sapa Kevin melalui telepon genggamnya.
"ada apa?" tanya hanya yang menjawab panggilan teleponnya.
"coba kamu kerumah Anelis, selidiki dia di rumahnya, kamu pura-pura lah main kerumahnya."
"untuk apa?" tanya Hans.
__ADS_1
"aku dapat informasi bahwa penjaga keamanan di hotel tempat Farah terjebak di lift, mengajukan surat pengunduran diri hari itu juga" jelas Kevin.
"aku akan coba kesana, nanti aku kabari jika ada suatu hal yang mencurigakan"
Hans menutup teleponnya dan mulai bersiap untuk pergi kerumah Anelis.
Hans berjalan keluar dari ruangannya dan mencari seseorang.
"di mana Maria?" tanya Hans kepada Jono.
"oh, Bu maria ada di dapur pak, dia sedang cek persediaan bahan makanan kita" kata Jono.
"terima kasih" kata Hans.
Hans berjalan ke dapur untuk menemui Maria.
"Maria" panggil Hans.
"Iyah pak" sahut Maria.
"saya ada perlu duku sebentar, saya titip restoran dan kemungkinan besok juga saya harus menjaga Farah di rumah sakit" jelasnya.
"baik pak, salam untuk Bu Farah, mungkin besok beberapa staff akan menjenguk kesana" ujar Maria.
"ya sudah, tapi diatur agar restoran tetap kondusif" pesan Hans.
******
"ada info terbaru?" tanya Kevin kepada Ronal yang masuk keruang kerjanya.
kini Kevin tinggal di rumah yang sudah dia beli beberapa hari lalu, dia butuh ruang yang lebih banyak untuk kerja, Ronal juga tinggal bersamanya.
"belum ada pak, tapi ada panggilan dari kantor kita di Indonesia" kata Ronal sambil memberikan tabletnya.
"hallo" sapa Kevin.
Kevin berkomunikasi dengan beberapa karyawannya yang ternyata sedang mengadakan meeting dadakan.
"pak, pemesanan beberapa produk kini sudah mulai stabil, bahkan beberapa mitra kerja kita sudah kembali menjalin kerjasama" kata sekertaris Kevin yang berada di kantor.
Fenita sekertaris Kevin yang sudah dia percaya bertahun-tahun mengurus semua urusan perusahaannya, dia juga yang dipilih Kevin untuk menyebarkan berita bahwa Kevin dan Farah kembali menjalin hubungan.
sekertarisnya itu sangat andal dalam mengelola berita melalui media sosial karena memang dia adalah seorang yang aktif di media sosial, bahkan pengikutnya sudah menyaingi artis.
__ADS_1
perusahaan Kevin semakin kesini mulai mengalami kemajuan kembali, sehingga membuatnya semakin tenang untuk mengejar cinta Farah.
*****
"maaf Anda mencari siapa?" tahan satpam kepada Hans
"saya mencari Anelis" kata Hans
Anelis samar-samar mendengar suara yang familiar ditelinga. dia langsung keluar dari kamarnya dan berlari menuju teras rumahnya.
"Hans" panggil Anelis dengan wajah penuh suka cita.
satpam membukakan pintu untuk Hans dan dia pun masuk ke dalam rumah yang sebenarnya malas untuk dia singgahi.
"kau kemari? pasti mau membicarakan tentang pertunangan" kata Anelis sambil memegang tangan Hans.
Hans melepaskan genggaman tangan Anelis, dia sangat tidak suka jika Anelis bersikap seolah-olah seperti pacarnya.
"aku ke sini, karena ada perlu dengan mu!" kata Hans dengan tatapan nanar.
"aku senang kau kemari, sering-seringlah kemari meski tidak ada perlu" senyum Anelis.
"Anelis, apa kau yang melakukan semua hal buruk kepada Farah?" tukasnya.
"apa maksudmu? aku sama sekali tidak mengerti" elaknya.
"Anelis ... Anelis, kau tau persis seperti apa kakekku, seorang yang patuh hukum, tidak suka kekerasan apalagi sampai ada korban dan satu lagi dia sangat benci kepada orang yang bersikap gegabah!" Hans memaparkan semua yang dia tahu tentang kakeknya.
mata Anelis terbelalak sangking kagetnya tapi untungnya Hans tidak menyadari itu.
"Hans kau terlalu berlebihan menuduhku! memang apa yang terjadi kepada Farah?" tanya Anelis dengan wajah yang sangat sempurna untuk menipu setiap orang.
"Anelis, kau tidak perlu berpura-pura dihadapnku! aku tau betul seperti apa perangaimu!" Hans mulai menunjukkan kemarahannya.
Anelis masih bungkam, dia masih menunjukkan wajah polos seakan tidak tahu apa-apa.
"aku benar-benar tidak tau apa-apa Hans!" ujar Anelis.
"aku akan mencari tau, apa kau terlibat dalam kondisi Farah saat ini atau tidak! jika kau terlibat! aku sendiri yang akan menyeretnya ke penjara!" ancam Hans.
"Hans! kau tidak bisa bersikap seperti ini terus kepada ku! kita akan bertunangan sebentar lagi!" teriak Anelis ketika Hans mulai berjalan menjauh darinya.
"andai kau menjadi pribadi yang lebih baik! menjadi wanita yang berkelas dan menjadi wanita yang memiliki etika, mungkin aku akan mempertimbangkan dirimu!" Hans menoleh sedikit kearah Anelis dan keluar dari rumah yang membuatnya muak.
__ADS_1
Anelis kesal dengan perkataan Hans yang menyudutkannya.
"awas kau Farah! aku akan kembali membuat perhitungan dengan mu!"