Pesona Istri Yang Terabaikan

Pesona Istri Yang Terabaikan
Kau terlihat!


__ADS_3

" Bu Farah, selamat kondisi anda sudah semakin stabil, hari ini anda boleh pulang ke rumah" dokter yang merawat Farah sudah menyatakan bahwa Farah sudah siuman.


"terima kasih dokter telah berusaha merawat dan menyembuhkan saya" Farah menunduk tanda sangat berterima kasih.


"dokter, saya mohon untuk kerjasamanya sesuai yang tadi saya dan adik ipar saya bicarakan kepada dokter" kata Devan.


"tenang pak Devan, saya akan melaksanakan sesuai dengan rencana bapak" tutur sang dokter yang juga sebagai kolega dekat keluarga william.


******


Farah akhirnya bisa menghirup udara segar, selama lima hari dia harus dirawat di rumah sakit, sudah sangat remuk rasanya tubuhnya tidur diatas ranjang rumah sakit.


Farah yang sudah bosan dengan bau rumah sakit, ketika keluar dari sana, dia merasa seperti orang yang habis bebas dari dalam penjara.


"Dev, aku harus melanjutkan rencana kita agar semuanya segera terbukti" kata Kevin


"baiklah, aku dan Farah kembali kerumah dulu, kau hati-hatilah" kata Devan seraya menepuk bahu adik iparnya.


Devan memang belum bisa menerima Kevin, begitu banyak kesalahan Kevin yang dilakukan kepada adiknya, namun saat ini dia juga membutuhkan bantuan Kevin, cara kerja Kevin dalam menemukan seseorang dan juga dalam menangani masalah sangatlah terampil.


"kakak sudah berbaikan dengan Kevin?" tanya Farah saat di dalam mobil.


"belum, hanya saja saat ini kakak rasa, kita butuh gencatan senjata sementara" kata Devan.


"haha ... sejak kapan ada gencatan senjata dalam kamus kakak? bukannya musuh tetaplah musuh bagimu?" gelak tawa Farah terdengar.


"ini semua demi dirimu, aku tidak terlalu mahir mencari informasi dengan sangat cepat seperti Kevin, cara kerjanya sangat cekatan" kata Devan dengan sedikit pujian untuk pria yang masih berstatus adik iparnya itu.


"dia memang pintar, hanya saja terlalu bodoh saat sudah jatuh cinta" Farah kembali mengingat masa dimana Kevin benar-benar mencintai Santi.


"jangan dipikirkan! semua sudah masalalu" Devan menepuk punggung tangan adiknya.


Farah tersenyum kecil kearah Devan.


******


"kita harus menangkap basah dirinya!" kata Kevin kepada Hans.


"jadi apa rencana kita?" tanya Hans.


Kevin menjelaskan bagaimana cara untuk menangkap pelaku kecelakaan Farah dan juga kasus terjebaknya Farah di dalam lift hotel.


"baiklah, aku akan meminta seseorang mengirimkan pesan anonim kepadanya, semoga dia terpancing untuk datang" kata Hans.


Hans mulai mengerjakan tugasnya dan Kevin juga mulai mengerjakan tugasnya, mereka berdua berbagi tugas yang penting dalam mencari pelaku sebenarnya.


Farah masih belum bisa ditanyai tentang siapa orang yang mendatanginya tempo hari saat di rumah sakit.


"Ronal sekali lagi kau cari rekaman cctv, cari sekecil apapun itu jika memang ada yang menunjukkan benar dia yang membuat Farah menderita" kevin kembali memerintahkan Ronal untuk mencari rekaman cctv.

__ADS_1


mereka semua mulai bergerak, Kevin masuk kedalam ruangan perawatan Farah dan dia berjaga disana.


Hans menerima informasi bahwa suratnya sudah disampaikan kepada seseorang yang alamatnya tertera di amplop surat.


"kali ini jika benar, kena kau!" Hans sedikit menyeringai, membayangkan usaha mereka akan segera membuahkan hasil.


*****


"istirahat, jangan banyak berpikir dan ingat satu hal, ini rumah kita, pasti aman dan pelakunya juga akan segara tertangkap" kata Michael yang mengantar Farah ke kamarnya.


"kak, apa kalian percaya dengan Kevin? percaya rencananya akan berhasil?" tanya Farah.


"aku percaya dia akan berhasil, jika tidak berhasil dia akan terus mengejarnya tikus nakal itu, dan kalau dia terus gagal maka kesempatannya kembali kepada mu hangus!" Michael bicara sambil sedikit menggoda adiknya.


"lelucon mu terlalu garing!" kata Farah yang mengkritik kakaknya.


"tidur" Michael menyelimuti Farah dan dia membiarkan Farah beristirahat.


******


"Dev" panggil Michael ketika sudah berada dilantai dasar rumah mereka.


"kau jadi pergi ke kantor polisi?" tanya Michael.


"ya aku akan kesana setelah mendapat pesan dari mereka" kata Devan.


*****


"pak aku menemukannya" kata Ronal dan dia menunjukkan rekaman cctv itu kepada Hans dan Kevin.


"kau terlihat!" kata Kevin saat melihat wajah sang pelaku.


"kini tinggal kita mendengar langsung pengakuannya" kata Hans yang sudah gemas.


tak tak tak


terdengar suara sepatu berjalan menuju kamar perawatan Farah.


"cepat kalian bersembunyi" kata Kevin.


mereka bertiga bersembunyi di tempat yang berbeda sesuai dengan kesepakatan.


ceklek suara pintu terbuka terdengar.


"hmmm ternyata benar berita bahwa kau benar-benar seperti orang yang sakit jiwa!"


Hans bersiap di persembunyiannya, dia berperan sebagai perekam pembicaraan pelaku, Kevin terbaring di tempat tidur berperan sebagai Farah yang seakan-akan sedang ketakutan, dan Ronal merekam setiap gerakan pelaku dengan cahaya inframerah agar semakin sukses rencana mereka.


"Farah ... Farah, seharusnya sejak awal kau mendengarkan ucapan, jauhi Hans, maka kecelakaan mobil itu tidak akan pernah terjadi dan juga kecelakaan di lift yang rusak!" Anelis mengakui semua yang di lakukan.

__ADS_1


"sekarang, aku akan membuat kondisimu lebih buruk lagi, aku pastikan kali ini kau akan mendekam di rumah sakit jiwa!" tutur Anelis.


klak klak


lampu menyala dengan terang benderang di kamar perawatan Farah.


Kevin membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya agar Anelis tidak curiga.


Hans keluar dari balik hordeng dekat kamar mandi dengan sebuah rekaman suara pengakuan Anelis.


Ronal juga keluar dari persembunyiannya dan merapihkan kameranya yang tersembunyi.


Anelis terkejut melihat ketiga pria itu berada di kamar wanita yang diancam olehnya tadi.


"Hans! kenapa kamu ada di sini?" tanya Anelis yang melihat Hans keluar dari balik hordeng.


"aku di sini untuk menangkap basah dirimu" tunjuk Hans.


"kami di sini untuk mengungkap kejahatan mu!" kata Kevin.


Kevin berjalan kearah Anelis. Anelis yang dihampiri Kevin mulai berjalan mundur dan dia terjebak diantara Kevin dan tembok rumah sakit.


"aku tidak bersalah! wanita itu yang bersalah! dia seenaknya menggoda pria yang sudah memiliki calon tunangan! dia wanita yang tidak memiliki moral!" maki Anelis.


"jangan pernah menghina istriku!" Kevin membentak Anelis dan memukul keras tembok yang berada di belakang Anelis.


"hah! istri katamu?" tanya Anelis sambil membuang wajahnya tak percaya dengan perkataan Kevin.


"dia istriku! dia bukan wanita seperti yang kau tuduhkan tadi! dia wanita yang bermoral! kau wanita ****** yang tak memiliki etika dan rasa kemanusiaan!" Kevin membalikkan semua hinaan itu kepada Anelis.


ceklek


pintu terbuka.


Devan datang bersama beberapa polisi, mereka memborgol kedua tangan Anelis.


"tidak! aku tidak bersalah!" teriak Anelis mengelak apa yang sudah dia lakukan.


"jelaskan nanti di kantor polisi" kata polisi sambil membawa Anelis keluar kamar perawatan.


"terima kasih, atas kerjasamanya dokter" Devan berjabat tangan dengan dokter.


"sama-sama pak Devan, senang bisa membantu keluarga William" kata dokter.


"pak ini beberapa bukti yang kami kumpulkan, ini ada rekaman cctv saat Anelis sedang mengintai Farah" kata Hans memberikan semua bukti-bukti kepada polisi.


"baik! kamu akan proses segera" kata polisi.


Anelis dibawa ke kantor polisi dengan berbagai macam bukti yang didapatkan dan itu akan memberatkan Anelis dipersidangan.

__ADS_1


__ADS_2