
Ting Ting Ting
suara sendok yang berputar didalam gelas mengeluarkan suara yang sangat nyaring, Farah sedang membuatkan teh hangat untuk dia, Hans dan dua orang koki, mereka semua sedang bekerja lembur karena akan ada lomba memasak untuk para koki dua hari lagi.
Farah membuat konsep bersama sang koki di restorannya sedangkan Hans membantu untuk dekorasi yang akan menjadi hiasan.
"silahkan diminum teh hangatnya" Fatah meletakkan teh hangat diatas meja meeting.
"terimakasih Bu Farah" kata kepala koki.
Hans menyesap teh buatan Farah, teh hangat yang juga menghangatkan hatinya karena saat ia meneguk teh Farah tersenyum kepadanya.
mereka semua kembali membuat konsep agar siap dalam menghadapi lomba, karena lomba ini menjadi salah satu langkah menuju kesuksesan untuk restoran keluarga Farah.
"ini lebih bagus disini"
"benar, dan warnanya diganti dengan warna gold pasti lebih elegan" kata Hans yang setuju dengan ide Farah.
kepala koki merubah letak dan juga mengganti bola-bola biru menjadi bola-bola gold.
mereka berusaha dengan keras agar bisa membuat desert yang lezat dan cantik.
"sepertinya cream ini kurang lembut, buat cream ini saat dimakan seperti sedang memakan ice cream, lembut, creame, dan tapi tidak mudah meleleh" usul Farah saat asisten koki sedang membuat cream untuk topping kue.
sesuatu yang benar-benar pengalaman untuk pertama kali bagi Farah, dia berharap menang di perlombaan kali ini.
******
"terimakasih ka Hans atas tumpangannya" kata Farah ketika Hans mengantarnya pulang.
Hans kembali melajukan mobilnya untuk pulang kerumahnya.
Hans sampai dirumahnya dan dia melihat rumahnya sedang ada tamu.
"tuan, ada kakek anda didalam" kata asisten rumah tangga Hans.
"saya sudah tahu" jawab Hans dan dia melihat kakek serta Anelis ada didalam ruang tamu sedang berbincang-bincang.
"malam" sapa Hans
"kemana saja kamu? seharian baru pulang kerumah, apa boss mu itu memintamu bekerja dengan sangat keras dan lembur?" tanya kakek Hans dengan menyindir boss Hans yang bukan lain adalah Farah.
__ADS_1
"tidak usah memasukkan dia dalam urusan kita!" tegas Hans yang tak suka jika Farah dipandang buruk.
"sepertinya begtu, kak Hans terlalu diforsir tenaganya oleh wanita itu" celetuk Anelis yang membuat Hans terbakar api amarah.
"diam kamu Anelis!!!" teriak Hans denga membentak Anelis
sontak Anelis terkejut Hans segitu marahnya ketika dia berkata hak buruk tentang Farah.
Hans naik kekamarnya tanpa berpamitan dengan kakek nya, terlebih kepada Anelis yang benar-benar tidak ingin dia sapa.
*****
"Ronal, bagimana apa sudah kamu ketahui dimana keberadaan Farah?" tanya kevin sat perjalanan pulang dari kantor menuju rumahnya.
"belum pak" kata ronal sambil terus menyetir.
"jika dimana-mama tidak ditemukan ... apa jangan-jangan dia pulang ke Singapura?" tiba-tiba Kevin memiliki pemikiran Farah berada di Singapura.
"benar pasti dia disana, Farah tunggu aku, aku akan menyusul mu dengan membawa bukti!"
*****
tirai hordeng dibuka sehingga membuat sinar matahari masuk kedalam melalui kaca jendela.
"bangunlah, pulang pukul berapa kamu sampai jam segini belum juga siuman?" tanya Eliz kepada Farah cucunya.
"aku pulang jam satu malam dengan diantar kak Hans" jelas Farah yang kini menyeret tubuhnya yang masih lemas untuk duduk di sandaran tempat tidur.
"pantas saja kamarmu seperti kapal pecah begini" Eliz berbicara sambil memunguti satu persatu barang yang berserakan di kamar cucunya.
"heheee, maafkan aku nek, semalam aku sangat lelah sekali" ujar Farah sambil cengengesan.
"bangunlah, mandi lalu segera sarapan, kamu tahu baby sudah menunggu mu" kata Eliz dengan memberitahu bahwa keponakan Farah sedang menantinya dibawah.
"apa aku ada janji dengan baby?" tanya Farah dengan wajah sedikit cengo karena mengingat-ingat apakah dia berjanji sesuatu.
"kamu tidak berjanji apapun, hanya dia sejak tadi tidak mau makan dan kakak ipar mu serta baby sitter sudah kewalahan, baby sepertinya hanya ingin bubur buatanmu" jelas Eliz.
"huft baiklah baby, aku mulai hari ini akan menjadi chef pribadimu!" Farah mengikat rambutnya dan mengencangkan ikatannya.
*****
__ADS_1
Farah merendam nasi kedalam sebuah panci dan menutupnya agar lebih cepat matang, sedangkan di tungku lainnya dia mengolah SOP yang nantinya akan di blender bersamaan dengan nasi yang sudah menjadi lebih lembut.
"nanti setiap malam aku akan menyiapkan bumbu untuk dimasukkan kedalam bubur baby, kamu bisa mengolahnya sendiri sesuai dengan takaran yang aku sudah catat" Farah memberikan arahan kepada baby sitter keponakannya.
"katanya kamu yang akan menjadi chef pribadinya baby, kenapa sekarang menyuruh orang lain untuk mengerjakannya" cetus Eliz saat memasuki dapur.
"nenek, aku kan setiap hari bekerja, jika harus bangun subuh aku bisa-bisa tertidur dikantor nanti" kata Farah dengan berbicara tanpa jeda.
"hahahaha makanya jangan suka asal bicara, nanti kamu sendiri yang akan kena batunya" ledek Michael.
"haaah tukang meledek, ini semua kan untuk asupan makan anak kakak! harusnya kakak yang memasak" celetuk Farah sambil mencibirkan bibirnya.
"jadi maksudmu, aku atau kakak mu yang harus memasak? itu sindiran untukku atau untuk kakakmu?" kata kakak iparnya yang sudah ketularan suaminya.
Farah habis dirundung oleh kakaknya dan juga kakak iparnya, mereka senang sekali melihat wajah Farah yang menyerah karena sering digoda oleh mereka.
"kalian sungguh terlalu!" Farah kesal dan meninggalkan dapur.
"dek ini buburnya belum selesai" teriak Michael ketika Farah berjalan menjauh dari dapur.
"kerjakan saja sendiri, habis kalian senang sekali menggoda ku!" Farah tak peduli lagi dengan bubur yang akan dia buat untuk baby.
"kamu sih sayang, ngeledekin Farah terus" kesal istri Michael.
"sayang kamu juga salah, pakai ikut-ikutan aku meledeknya"
kini Michael dan istrinya saling menyalahkan satu sama lain, di suatu sudut Farah memperhatikan kelakuan mereka berdua.
"hihihihi, biar tau rasa kalian, sekarang kalian kan yang saling menyalahkan" setelah menyaksikan kejadian itu Farah berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
******
"aku akan segera kesana!" Kevin menutup telepon.
Kevin masuk kedalam ruang meeting yang sudah dipenuhi oleh orang-orangnya, Kevin akan mengadakan rapat besar hari ini bersama dengan beberapa pemegang saham di perusahaannya.
"pak Kevin, bagaimana ini saham kita sudah mulai anjlok yang tadinya seratus persen sekarang turun dua puluh lima persen sehingga menjadi tujuh puluh persen!" kata salah satu pemegang saham dengan berteriak kepada Kevin.
kevin merasa kini dirinya tidak lagi dihargai sampai mereka dengan santainya meneriaki ketidak mampuan Kevin dalam menghandle perusahaan saat berita viral rumah tangganya.
"bisa tenang sebentar, saya akan memberikan solusi terbaik untuk masalah perusahaan kita!"
__ADS_1
mereka semua saling berpandangan dan memutuskan duduk untuk mendengar penjelasan dan solusi dari Kevin.
Kevin memberitahukan semua hal yang sedang dia rencanakan kedepan, memang semua ini dampak dari kebodohannya yang lebih memilih Santi sehingga saat berita tentang rumah tangganya yang kacau tercuat ke media memberikan efek negatif untuk perusahaan yang sedang ia pimpin.