
hari ini hujan deras, hujan diibaratkan sebagai air mata langit atau langit yang sedang menangis, turunnya juga mewakili perasaan Kevin saat ini.
penolakan yang dilakukan mertuanya membuat Kevin bagaikan pohon besar yang tumbang sekali tebasan.
"kenapa aku baru sekarang memperjuangkan pernikahan ku disaat wanita yang menjadi istriku tidak lagi berada di sisiku" Kevin merenungi sikapnya yang tidak pernah berjuang.
"Farah, papa mu tidak mengizinkan ku untuk pergi menemui mu di Singapura" lirih Kevin sampai tak menyadari telah menitikkan air mata.
flashback on
Kevin masuk kedalam hotel dan pergi keruangan mertuanya kusumo yaitu ayah dari Farah Quinn Praga.
Tok Tok Tok
Kevin mengetuk pintu ruang kerja mertuanya.
"masuk" Kusumo mengizinkan si pengetuk pintu untuk masuk ke ruangannya.
ceklek
"Kevin boleh masuk pah?" tanya kevin saat masih berdiri di balik pintu.
"masuk lah!" Kusumo memberikan izin kepada Kevin untuk masuk ke ruangannya.
__ADS_1
"apa kabar lah?" tanya kevin.
"langsung keintinya saja tidak perlu basa basi" ujar Kusumo tanpa melihat kearah Kevin.
Kusumo sibuk dengan laptop yang ada di atas mejanya, dia bahkan tidak menghiraukan keberadaan Kevin yang duduk di depannya.
"pah, Kevin berencana untuk pergi ke Singapura, Kevin sudah mendapatkan bukti bahwa Santi tidak mengandung buah hati ku, jadi aku sudah memastikan bahwa aku bukan ayah bayi yang ada didalam kandungannya" jelas Kevin dengan antusias.
"semua bukti itu percuma Kevin dia anakmu atau bukan intinya kau memang berselingkuh di depan Farah, itu yang tidak bisa kami terima, memang benar Farah yang menyetujui semuanya dan kalian membuat kesepakan tapi sadarkah kamu Kevin? hati kami bahkan mungkin hati Farah lebih hancur dari kami!"
Kusumo sejak dulu selalu baik terhadap ke in bahkan Kevin selalu menjadi menantu yang dia banggakan didepan semua koleganya, namun sekarang semua hancur, tidak ada lagi sanjungan untuk Kevin yang keluar dari mulut Kusumo, hati Kusumo sangat hancur ketika tahu putrinya di sakiti secara batin.
"pah, berikan Kevin kesempatan, sekali ini saja, Kevin janji akan menjaga dan mencintai Farah sepenuh jiwa dan raga Kevin pah" Kevin terus memohon.
Flashback off
"andai kita saling jatuh cinta, mungkin saat ini rasa hanya milikku, aku pun belum terlalu pasti perasaan apa ini yang hinggap di hatiku, tapi rasanya sakit saat tidak ada dirimu dan rasanya hampa tanpa kau di sisi ku"gumam Kevin.
Kevin kemudian teringat kata-kata mertuanya yang mengatakan.
"kecuali kalau aku dan Farah saling jatuh cinta, benar itu seperti kode untukku agar pergi menemui Farah dan membuatnya jatuh cinta!" Kevin menyadari signal yang diberikan oleh mertuanya.
Kevin melihat cuaca yang sudah kembali bersinar persis seperti hatinya yang kembali bersemangat.
__ADS_1
"langit, aku mohon jangan lah menangis, teruslah bersinar terang agar hidupku pun bisa seterang sinar mu" ujar Kevin sambil menatap langit yang semakin menunjukkan sinarnya.
Kevin meraih jas yang tergantung di sandaran kursinya dan dia langsung memakainya sebelum kembali pulang kerumahnya.
Kevin benar-benar mendapatkan kesempatan kedua yang mertuanya berikan, dia sangat yakin itu adalah petunjuk untuknya agar bisa mempertahankan pernikahan mereka berdua.
******
"sesuai prediksi mu, Kevin menemui ku dan meminta kesempatan kedua" ujar Kusumo sambil menyesap kopi hitam pahit miliknya.
"aku sudah yakin dia pasti akan menemuinya, dia tidak akan menunggu ku untuk berubah fikiran, jika dia sudah menginginkannya maka dia pasti akan mengejarnya!"
Kusumo dan Atma Jaya kini sedang bersebelahan sambil menikmati kopi hitam pahit milik mereka masing-masing.
"seperti kopi kehidupan juga ada rasa pahit namun manis diakhir"
"semoga Kevin menyadari kode dari ku" kata Kusumo.
"pasti" jawab Atma Jaya
kedua pria itu saling tersenyum.
seseorang yang menguping pembicaraan mereka sangat terharu dengan apa yang direncanakan dua besan yang sudah bersahabat lama, meski anak-anak mereka terjerat permasalahan namun persahabatan itu tetap terjalin dengan baik.
__ADS_1
"terima kasih Tuhan kau telah melunakkan hati keduanya sehingga kedua anakku kelak bisa saling mencintai" haru Ratih yang menguping di balik pintu.