Pesona Istri Yang Terabaikan

Pesona Istri Yang Terabaikan
Tamu Istimewa


__ADS_3

Tuk Tuk Tuk


Sebuah pisau menari diatas papan kayu berukuran 25cm x 15cm, memotong dan merajang beberapa bahan masakan.


Wortel, kol, sawi, jagung, jamur, bakso dan beberapa seafood seperti udang dan cumi siap dimasak menjadi satu dalam wajan besar.


Sreng Sreng Sreeng


Suara sutil dan wajan menggema didalam satu ruangan yang membuat beberapa orang yang melihatnya sangat terkesima, kemampuan memasak yang sekelas dengan seorang koki hebat, dikeluarkan oleh Farah saat berada didalam dapur rumahnya, Farah memang sangat terampil dalam memasak.


"Farah benar-benar koki yang handal"


"No! dia sangat handal di segala hal"


kedua kakaknya tidak hanya sangat kompak saat menjahili Farah namun juga sangat kompak dalam memuji adiknya yang multitalenta.


Syuuuuuuuur


Nasi putih terjun dari wadah nya masuk kedalam wajan besar, yakin lah kalau nasi-nasi itu sangat bahagia saat tau akan masuk kedalam wajan dan akan dihidangkan sebagai makanan yang sangat lezat bersama teman-teman lainnya yang juga ikut tercampur bersama dirinya.


"Sarapan pagi siap"


Makanan tersaji sekejap mata di atas meja, harum masakan yang sangat menggoda membuat beberapa orang yang duduk disana akan memperebutkannya.


"Satu porsi bubur Tim untuk keponakan aunty yang cantik" Farah tak lupa membuatkan menu sarapan berupa bubur nasi untuk keponakannya yang sudah berumur delapan bulan saat ini.


"thank you aunty" kakak ipar Farah sangat senang ketika dia harus libur untuk membuat bubur Tim anaknya.


setiap kali Farah berada didapur dia tak pernah lupa untuk membuat dua porsi bubur dengan aneka topping yang sudah di haluskan untuk keponakannya dan membuat kakak iparnya selalu memanfaatkan momen tersebut untuk libur membuat makanan pendamping buah hatinya.


"Satu mangkoknya sudah aku simpan di dalam penghangat ya kak biar baby bisa makan sore pakai bubur buatan aunty" Farah mencubit kecil pipi keponakannya yang sangat tembam persis kue bakpao.


Ting Tong


"Bi, bukakan pintu, sepertinya tamu istimewanya sudah datang" teriak Devan.


"tamu istimewa?" tanya Farah yang tidak tahu kalau akan ada seorang mau yang datang ke rumah neneknya sepagi ini.


"bukannya kamu masak hidangan lezat ini untuk menyambut seorang tamu yang sangat istimewa?" Devan bukannya menjawab pertanyaan adiknya malah berbalik bertanya.


"tidak!, kalau aku tahu, aku pasti akan membuatkan porsi lebih" kata Farah yang masih bingung siapa sebenarnya tamu itu.

__ADS_1


"selamat pagi semuanya" salam pagi di sampaikan oleh pria tampan dengan setelan jasnya.


"pagi Hans, duduklah, bergabunglah bersama kami untuk menikmati hidangan spesial ini" kata Kusumo yang mempersilahkan Hans bergabung dengan keluarganya.


"Farah siapkan satu piring lagi untuk Hans" perintah Eliz.


"tunggu!, kenapa sangat pas sekali aku membuat nasi goreng atas desakan kakak iparku dan ternyata ada kak Hans yang datang sepagi ini untuk bertamu, aku yakin pasti ada udang dibalik bakwan!" cicit Farah sambil sedikit memicingkan matanya.


"aku diminta Michael untuk datang karena ada satu projects yang harus kamu bahas berdua" jelas Hans


"hmmm benar saja, semua ini sudah settingan mereka berdua, tak habis fikir kakak iparku fikirannya sudah terkontaminasi dengan kejahilan kakakku!" umpatan untuk kakaknya Farah lakukan didalam hatinya.


"harumnya sampai kedepan, baru masuk saja sudh dimanjakan dengan harumnya" ujar Hans dengan menghirup bau harumnya.


"hmmm ... saat kau memakannya sudah pasti lidah mu di manjakan dengan nikmatnya rasa nasi goreng ini" ujar Devan menyambung kata-kata Hans.


"ayo kita makan, ayo Hans silahkan" kata Kusumo yang mempersilahkan Hans untuk mencicipi nasi goreng buatan putrinya.


mereka makan dalam satu meja yang sama dan Farah pun tak lupa menyisihkan nasi goreng yang dia buat untuk para pekerja dirumahnya, para pekerja pun makan bersama di dapur yang tersedia meja makan juga.


*******


"de, pergilah bersama Hans, kalian kan sekarang satu tempat kerja lagi jadi lebih baik pergi bersama" tutur Michael.


"bukannya kalian bertiga ada yang mau dibicarakan?" tanya Farah.


"sudah ... sudah selesai" celetuk Devan.


Hans yang melihat kelakuan dua kakak beradik ini menjadi heran pasalnya mereka bahkan belum berbicara apapun untuk membahas project yang sedang dikerjakan bersama.


"tapi ... tapi" Hans mulai kikuk dan menggaruk rambutnya padahal tidak gatal hanya ingin saja menggaruk karena kelakuan dua kakak beradik itu.


"sudah pergi lah" Devan menarik tangan Hans hingga terbangun dari duduknya dan dia langsung mendorong tubuh temannya untuk segera pergi bersama Farah.


"ini kesempatan mu" bisik Devan yang dimengerti oleh Hans.


Hans pun berjalan keluar rumah keluarga Williams dan dia langsung masuk kedalam mobilnya bersama dengan Farah yang kini sudah duduk disampingnya.


"maafkan kedua kakak ku yang kelakuannya sungguh menyebalkan itu" Farah sedikit malu kepada Hans karena kelakuannya.


"aku sudah berteman dengan mereka selama sepuluh tahun jadi sudah terbiasa dengan sikap mereka berdua hanya saja masih suka terkejut dengan sikap tiba-tiba nya mereka"

__ADS_1


Hans dan Farah tertawa kencang sehingga suaranya memenuhi dalam mobil.


*****


"Bu Farah, ditunggu di ruang tamu" kata Maria, saat Farah tiba tepat di depan pintu restoran bersama Hans.


"siapa?"


"Ibu Anelis, itu namanya" ucap Maria yang terdengar di telinga Hans.


"Anelis?" Hans bingung untuk apa Anelis ingin bertemu dengan Farah.


Farah melangkah dengan anggun menuju ruang kerjanya, memakai baju jumpsuit berwarna biru langit, heels dan tas branded ditangannya membuat kesempurnaan Farah semakin menonjol, memang benar dia bagaikan bidadari tak bersayap, baik hati dan cantik.


ceklek


Farah membuka pintu ruangan nya dan menyimpan tas yang dia bawa.


Farah menoleh ke arah pintu ruangan yang menyambungkan antara ruang kerjanya dengan ruang tamu.


"untuk apa Anelis kemari? apa ada urusan pekerjaan atau urusan pribadi? tapi kalau urusan pribadi tidak mungkin, aku kan baru saja mengenalnya semalam" Farah berbisik kepada dirinya sendiri, menerka-nerka apa tujuan Anelis bertemu dengan dirinya.


******


"selamat pagi" salam Farah yang ditujukan kepada tamu yang sedang menunggunya diruangan itu.


Farah melihat sosok wanita yang cantik dan sedikit berwajah Chinese sedang duduk di sofa.


"selamat pagi, Farah" dia membalas salam pagi Farah dan langsung berdiri.


"maaf jika sudah menunggu lama, karena aku tidak tahu kamu akan datang ke restoran sepagi ini" ujar Farah yang sudah duduk di sofa kebesarannya yang di buat khusus untuk dirinya.


"silahkan duduk" ujar Farah.


"maaf jika aku datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, aku hanya ingin menyapa lebih pribadi direktur baru restoran bakoste" tuturnya dengan wajah yang seakan sedang meledek Farah.


"tidak apa, aku hanya bingung ada urusan apa anda datang sepagi ini?" tanya Farah dengan sangat sopan meski dia melihat ketidak sukaan diwajah Anelis untuk dirinya.


"aku ...,"


bersambung

__ADS_1


__ADS_2