
Farah yang terbiasa bekerja mulai merasa bosan karena hanya berada dikamar saja seharian.
"huft, sangat bosan."
Farah membuka buku-buku yang tersusun rapih di rak nya.
Farah menyentuh satu persatu buku untuk memilih buku apa yang akan dia baca untuk menghilangkan rasa penatnya.
"nah, aku coba baca buku genre fantasi saja, biar ada imajinasi"
Farah kembali merebahkan tubuhnya di kasur dan dia mulai membuka halaman pertama buku yang akan dibacanya.
"hahahahaaa, lucu banget sih, ini fantasi komedi kali ya, bikin perut sakit bacanya" Fatah tertawa karena membaca beberapa kalimat yang menurutnya lucu.
tak lama membaca Farah merasakan kantuk dimatanya, dia meletakkan buku disamping tubuhnya lalu mulai memejamkan matanya untuk menyusun mimpi.
******
Hans diserbu beberapa staff restoran yang bertanya kemana Farah.
"pak Hans, kemana Bu Farah kenapa tidak masuk kerja?"
"benar pak Hans, rasanya sepi sekali tanpa Bu Farah disini" ujar yang lainnya.
Hans geleng-geleng kepala karena begitu banyak pertanyaan yang menyerbunya.
"stop!" kata Hans.
semua staff berhenti bertanya kepada Hans, mereka mulai sadar bahwa apa yang dilakukan oleh mereka membuat Hans merasa terganggu.
"Bu Farah sedang sakit jadi tidak bisa datang ke restoran, sekarang kalian sudah tahu jadi kembali bekerja" Hans menerobos kerumunan.
"tapi pak, sakit apa Bu Farah?" tanya Jono namun Hans terlalu cepat menghilang dari pandangan mereka sebelum Jono menyelesaikan kalimatnya.
"sudah bubaaar!" teriak Maria.
mereka semua pun akhirnya bubar dan beberapa staff langsung bersiap untuk membuka restoran.
"kira-kira Bu Farah sakit apa ya?"
"aku juga penasaran, rasanya sepi sekali dia hari tanpa Bu Farah"
"kerja jangan merumpi terus, sebentar lagi waktunya restoran buka, ayo tap tap tap jangan lambat" seru Maria dengan nada yang cukup tinggi.
******
"papi kekamar aunty dulu ya sayang, aunty lagi sakit, baby doain ya supaya aunty lekas sembuh" Michael berbicara dengan baby.
__ADS_1
baby menjawab perkataan ayahnya dengan senyuman dan sedikit celotehan khas bayi.
"aku kekamar Farah dulu ya sayang"
Michael menaiki anak tangga dirumahnya yang menuju kamar adik tercinta, Michael kemudian membuka pintu dan masuk kedalam kamar.
Michael Farah sedang tertidur pulas dengan buku disampingnya, melihat adiknya tidur penuh dengan ketenangan membuat Michael tersenyum.
"kakak berharap kamu mendapatkan laki-laki yang terbaik dan kakak lihat itu ada pada Hans" kata Michael dengan suara yang sangat pelan agar adiknya tidak terbangun.
Michael yang duduk di sisi tempat tidur Farah kini sudah berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar sang adik.
********
Hans mulai sibuk dengan semua kegiatannya di restoran, walaupun berjalan dengan baik namun dia merasa kehilangan semangatnya.
"benar juga kata yang lain tadi, ketidak hadiran Farah di restoran membuat suasana ramai tapi terasa sepi" Hans melihat setiap meja tamu tersisa penuh namun terasa sepi.
"pak, lagi kesepian ya?"
"Iyah"
"karena enggak ada Bu farah kan?"
"Iyah" lagi-lagi Hans menjawab dengan spontan karena dia memang sedang melamun.
"i ... iy ...," Hans menoleh dan dilihatnya Jono dan Basuki sedang mengapit dirinya yang berdiri sambil melamun.
"kalian!" Hans yang tersadar langsung sedikit berteriak kesal karena berhasil dikerjai oleh kedua anak buahnya.
"ma ... maaf pak, kami permisi"
mendengar Hans berteriak kecil, mereka berdua, langsung pamit untuk kembali bekerja, selama perjalanan menuju ruang dapur Jono dan Basuki mentertawakan Hans pelan, terlihat ekspresi senang karena berhasil menjahili Hans.
"dia mengaku walaupun malu-malu" kata Jono berbisik.
"Iyah terlihat sekali wajahnya sangat kehilangan" bisik Basuki.
*****
"saya mau pergi ke restoran bakoste" kata Anelis kepada anak buahnya ketika mereka sudah didalam mobil.
"baik bos" jawab sang anak buah.
"kamu sudah singkirkan semua jejak kedua anak buah mu?" tanya Anelis kepada sang supir yang sekaligus bodyguard nya.
"sudah boss, bahkan mereka saya suruh tinggal di kota yang agak jauh dari ibu kota Singapura" tuturnya.
__ADS_1
Anelis tersenyum, kali ini rencananya berhasil tidak akan ada yang tahu kalau dia lah yang mencelakai Farah meski bukan dengan tangannya sendiri.
*****
"pak Kevin, lihat ini, ada siaran acara perlombaan yang di selenggarakan di singapura, a... aku merasa ini adalah Bu Farah" kata Ronal.
"berikan kepada ku tab mu, aku mau melihatnya untuk memastikan benar atau bukan itu adalah dia"
Ronal langsung memberikan tabletnya kepada sang bos, Kevin menonton acara nya sampai habis dan benar saja dia melihat Farah dan dua kokinya berada diatas panggung untuk menerima piala sebagai pemenang juara satu.
"Hans!" pekiknya saat melihat ada Hans disamping Farah.
"Hans?" ujar Ronal mengingat sosok Hans.
"dia juga ternyata ada di singapura bersama Farah, apa yang mereka lakukan disana? apa sekarang Farah sudah membuka hatinya untuk Hans?" jerit kecil kevin yang membayangkan jika Farah dan Hans menjadi sepasang kekasih.
"ti ... tidak mungkin pak Kevin, bapak lihat sendiri kan di hotel pun pak Hans selalu menempel dengan Bu Farah, tapi Bu Farah hanya menganggapnya teman kerja" gugup Ronal yang tidak mau boss nya berkecil hati.
"kau benar Ronal, pasti yang terjadi sekarang juga sama, dia mengekori Farah sampai ke Singapura" Kevin memberi keyakinan pada hatinya.
"Hans! aku tidak akan pernah melepaskan Farah apapun yang terjadi, aku tidak mau kehilangan berlian yang berharga dalam hidupku!" Kevin kembali membulatkan tekadnya untuk bersama Farah lagi.
"Ronal, segera cari tahu semua tentang Santi dan dokter itu, desak dokter itu agar mau bicara jika tidak ancam dengan hukuman penjara!" tegas Kevin saat memberikan tugas kepada Ronal.
"siap pak bos laksanakan!" Ronal pun bersemangat, dia mau bos nya mempertahankan rumah tangganya.
"aku akan segera menyusul mu ke Singapura Farah, tunggu aku dan jangan berikan hatimu untuk pria itu" gumam Kevin.
*****
"hai Hans" sapa Anelis yang tiba di restoran.
"untuk apa kamu kemari Anelis?" tanya Hans kasar.
"jangan terlalu kasar Hans kepada wanita nanti kamu bisa jatuh cinta" ujar Anelis.
"mau apa kamu kemari?" Hans sedikit menaikan intonasi suara nya.
"aku hanya mencari Farah! aku ingin meminta maaf kepadanya atas kejadian di lomba kemarin!" kata Anelis sambil celingak-celinguk seakan mencari keberadaan Farah.
"dia tidak ada disini, sebaiknya kamu pergi!" usir Hans.
"oh ya? apa dia sakit?" tanya Anelis.
"tidak perlu kamu tahu apapun! pergi saja dari sini dan jangan pernah kamu kembali!" Hans kembali mengusir Anelis dengan wajah yang super kesal.
melihat Anelis saja membuatnya muak apalagi jika harus bertunangan dengannya, mungkin Hans akan menjadi jamuran karena terkontaminasi dengan sikap licik Anelis.
__ADS_1
sebenarnya Anelis adalah anak yang manis, maka dari itu Hans dulu menyukainya, namun entah kenapa Anelis bisa berubah drastis seperti ini.