
"besok kamu sudah harus memimpin restoran kita, buatlah beberapa inovasi baru dan perkenalkan kepada dunia bahwa kamu bisa menjadi pemimpin perusahaan yang mumpuni" ujar Eliz kepada Farah.
"hmmm nenek terlalu berlebihan, memperkenalkan kepada dunia sebuah inovasi itu sangat sulit"
"dengan mimpi dan harapan, mewujudkannya sangatlah mudah walau jalannya berliku" kata-kata Eliz membuat Farah semakin bersemangat.
"andai dari dulu kamu kembali dan papamu tidak menikahkan mu dengan pria b*doh itu, pastinya kamu sudah menjadi seorang CEO di salah satu cabang perusahaan Williams Group" Eliz menyayangkan kejadian masalalu.
"nek, tidak ada yang perlu disesalkan, semua perjalanan hidup bukankah sebuah pelajaran yang bisa membesarkan kita?"
"cucu nenek memang paling pintar, pantas saja kakekmu dulu sempat ingin kau yang menjadi pewaris Williams Group" senyum Eliz.
pasangan nenek dan cucu ini memang benar-benar sangat membuat haru, membuat iri dan sangat manis satu sama lain.
*******
"besok aku pakai baju apa ya? yang sopan tapi tetap berkharisma" Farah membongkar baju-baju yang dia miliki didalam lemari pakaian.
"kamu sedang apa sih de?" tanya Michael setelah berada didalam kamar Farah dan melihat kasur adiknya dipenuhi baju.
"aku rasa perlu memilih baju untuk besok, besok kan acara penyambutan ku" kata Farah sambil terus memilih-milih baju yang akan ia kenakan besok.
Michael tertawa kecil mendengar kegusaran adiknya tentang baju yang akan adikknya gunakan besok.
__ADS_1
"apa sebaiknyaaa, kamu memakai baju ini?" Michael menunjukkan paperbag berukuran sedang kearah Farah, tepat didepan wajah adikknya itu sehingga membuat wajah Farah ketutupan.
melihat paperbag yang ada dihadapannya membuat Fatah bersemangat untuk meraihnya, dia langsung menggerakkan kedua tangannya untuk meraih kotak tersebut.
"eits jangan terlalu terburu-buru" pinta Michael.
"tebak dulu apa isi paperbag ini?" lanjut Michael.
"hmmm...aku pasti bisa menebaknya" kata Farah penuh percaya diri.
"Baju untukku" tebak Farah.
"haaaah! kamu memang selalu bisa menebaknya" kata Michael.
adik kakak ini memang selalu mengesankan, mereka bertiga selalu bisa memahami satu sama lain, seperti Devan yang sudah mencurigai bau tak sedap dari pernikahan adiknya namun Farah selalu berusaha menutupinya senggi Devan tak bisa berbuat apa-apa jika adiknya tak mau bicara, begitu juga dengan Michael seorang anak tengah yang penuh perhatian kepada adiknya dan kakaknya, dia tau adikknya jika ada momen baru pasti sibuk mencari baju dan dia selalu memberikan baju baru untuk Farah.
"untuk adikku tersayang, mulai saat ini berjanjilah kepada kakak, kamu tidak akan menyembunyikan hal sekecil apapun, aku kakak mu berbagilah suka suka dengan ku selama kau belum menemukan pria yang bisa menjaga dan melindungi mu" kata-kata Michael membuat haru Farah sehingga matanya berkaca-kaca.
"Kaka sangat menyayangi mu" lanjut Michael dan mereka berdua berpelukan erat.
"aku akan mengingatnya ka" ujar Farah.
*****
__ADS_1
hai semuanya baca juga karya teman ku...
pagi menjelang, Farah sudah sibuk sejak pagi hari, ia sudah memakai baju pemberian Michael, berdandan dan siap turun kebawah dengan tas bermerk nya.
"waaaooow cantik sekali tuan putri kami" puji Eliz saat melihat cucu cantik nya menuruni anak tangga.
"nenek bisa saja memujinya" Farah tersipu-sipu.
"tak ada satu kata yang keluar dari mulut nenek sebuah kebohongan tentang mu sayang, pujian itu pun benar adanya, wajah cantik, tinggi semampai, membuat semua orang mungkin akan mengira kau putri dari negeri dongeng" Eliz terus menerus memuji cucunya.
"ayo kita sarapan dulu, setelah itu kita pergi ke restoran memperkenalkan direktur utama Restoran Bakoste" ujar Michael
mereka semua sarapan disatu meja bersama-sama.
*****
"Aku belajar menerima dan mencintai mu dengan sepenuh jiwa, tapi kau malah main belakang dengan kakakku"
Kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali, dengan matanya ia melihat sang kakak berada dalam kungkungan suaminya. Rasa bergetar, panas, dingin semua menyatu merasuk dalam jiwa hingga membentuk menjadi amarah, dendam dan rasa ingin menghancurkan yang besar.
Akan tetapi kenyataan lain menampar kesadarannya, kenyataan yang membuat seluruh sarap kewarasannya menoleransi semuanya.
Akankah Namira bertahan dan menerima semuanya begitu saja?
__ADS_1