Pesona Istri Yang Terabaikan

Pesona Istri Yang Terabaikan
Terkena mental


__ADS_3

semalaman Farah terjaga, dia masih sedikit ketakutan dengan peristiwa di lift.


gelapnya ruangan di dalam lift, guncangan keras saat lift tiba-tiba terhenti, semua masih terbayang dibenaknya, bahkan dia terkadang takut walau hanya menginjakkan kakinya di lantai rumah sakit.


Farah masih dalam tahap observasi, karena dokter masih menemukan gejala syok di diri Farah.


"pak Devan, bisa kita bicara di ruangan saya?" tanya dokter


"bisa dokter" jawab Devan yang kemudian mengikuti langkah dokter menuju ruangannya.


"silahkan duduk" kata dokter.


"ada apa dokter?" tanya Devan penuh kecemasan


"begini pak Devan, sepertinya Bu Farah mengalami trauma atau dalam medis disebut posttraumatic stress disorder, ciri-cirinya Bu Farah mengalami gangguan tidur karena takut gelap, walaupun di dalam ruangan lampu tetap menyala namun saat dia memejamkan mata maka semuanya terasa gelap, dan Bu Farah takut dengan lantai atau nanti akan takut dengan lift jika melihatnya"


dokter memaparkan semua tentang trauma yang dialami oleh adikknya saat ini, mendengar semua itu membuat Devan semakin kesal.


*****


Farah tidak tau apa yang harus dia lakukan sekarang, dia hanya bisa terbaring di ranjang rumah sakit, melawan rasa ketakutannya saja dia belum bisa, apalagi mencari siapa pelaku dibalik nasib buruknya itu.


"aku harus kuat, aku harus melawan rasa takut didalam hati dan pikiranku! aku tidak mau seperti ini terus" ujar Farah yang berusaha membangkitkan keberaniannya lagi.


*****


"bos, kita mau kemana?" tanya salah seorang anak buah Anelis.


"kita pergi kesuatu tempat untuk mengunjungi seorang sahabat" Anelis menyunggingkan sedikit senyuman.


Anelis tak perduli dengan ucapan Hans kemarin, dia yakin kakek Hans akan tetap mendukung hubungannya dengan Hans meski dia telah bertindak gegabah.


"kakekmu tidak mungkin membatalkan pertunangan kita Hans, karena dia sangat menginginkan mu segera menikah!"


Anelis duduk dikursi belakang penumpang, dengan dua orang anak buahnya yang duduk dikursi depan, mereka bertiga menuju sebuah tempat, Anelis memiliki rencana besar setelah mendengar kondisi seseorang, Anelis sangat senang usahanya kini berhasil dan memberikan dampak mental.


Anelis turun dengan salah satu anak buahnya, sebelum sampai di sebuah kamar, Anelis menutup wajahnya dengan masker.


*******


"selamat siang nona cantik" sapanya.


"siapa kamu?"


"kamu tidak perlu tahu siapa aku, tapi yang jelas, kamu harus terus waspada karena seseorang sedang mengincar mu! aku yakin kejadian dilift tempo hari, kamu tidak ingin hal itu terjadi lagi kan? terjebak di dalam ruangan yang gelap gulita ... sesak dan sangat panas!" ujarnya dengan mendekatkan wajah agar bisa membuat mangsanya lebih tertekan.


"apa mau mu?"jerit Farah.


"mau ku? aku mau kau lenyap dari dunia ini!" sebuah pisau diacungkan tepat didepan wajah Farah membuat Fatah semakin ketakutan.


"dengar ini kali terakhir aku peringatkan! jauhi Hans!" ujarnya dengan melipat kembali pisau ditangannya dan memasukkannya ke dalam sakunya, dia membuka pintu kamar dan keluar.

__ADS_1


"A ... Anelis!" Farah baru menyadari bahwa itu adalah Anelis.


Farah yang ketakutan dengan kehadiran Anelis dan ancamannya langsung turun dari tempat tidur dan mengunci pintu kamar perawatannya.


Farah meringkuk di ranjangnya sambil menggigit ujung jari jempolnya, bagaikan anak kecil yang sedang ketakutan.


Farah benar-benar terkena mental karena baru kali ini dia mendapat perlakuan kasar dan menyeramkan, bayangan pisau yang dipegang Anelis semakin terbayang di wajahnya saat hendak menyentuh pipinya, hampir saja kulitnya yang begitu halus dan kenyal tersayat pisau.


*****


"terimakasih dokter atas penjelasannya" Devan dan dokter saling berjabat tangan.


Devan meninggalkan ruangan dokter yang merawat Farah. dalam perjalanan menuju kamar Farah, dia bertemu dengan Kevin dan Ronal yang hendak mengunjungi Farah.


"ada perkembangan Dev?" tanya Kevin.


Devan menjelaskan sedikit apa yang tadi dokter bicarakan kepada Devan.


"berapa lama kamu di ruangan dokter?" tanya Kevin.


"sekitar empat puluh menit sampai satu jam, karena dokter menjelaskan beberapa hal yang akan dia lakukan untuk menghilangkan trauma Farah" papar Devan.


"Farah ada yang menemani?" tanya Kevin.


"dia sendirian tapi, tadi saat aku pergi dia sedang tertidur" ujar Devan.


"Dev, sebaiknya saat kondisi seperti ini kau jangan meninggalkannya sendirian, aku khawatir seseorang akan menyakitinya!" tegas Kevin.


Kevin dan Devan akhirnya bergegas menuju ruang perawatan Farah, sesampainya disana Kevin hendak membuka pintu namun dia mendapati pintu terkunci dari dalam.


"Dev, pintunya terkunci!" ucap Kevin


"tidak mungkin Farah menguncinya" Devan mencoba membuka pintu karena tidak percaya dengan perkataan Kevin.


benar saja pintu terkunci dari dalam, Devan mengintip di kaca pintu dan dilihatnya Farah sedang meringkuk ketakutan.


"Farah buka pintunya ini kakak" teriak Devan.


"Farah" teriaknya lagi tapi tak didengar.


"dia tidak bisa mendengar mu karena dalam posisi ketakutan!" kata Kevin sambil melihat Farah.


"minta petugas rumah sakit untuk membuka pintunya, cepat!" Kevin meminta Ronal untuk meminta bantuan.


kevin dan Devan merasa sangat cemas ketika menunggu bala bantuan datang, sedangkan di suatu sudut rumah sakit, seseorang sedang menikmati pemandangan yang memuaskan baginya.


"ternyata, mentalmu tak sekuat dugaanku Farah!" tawa Anelis penuh rasa kepuasan.


*****


"mundur semua" ujar petugas keamanan rumah sakit.

__ADS_1


petugas mencoba membuka pintu dengan kunci serep namun tidak berhasil karena anak kunci masih terletak di lubang kuncinya.


"kita harus menjebol handle pintu, mohon ditunggu" kata petugas.


petugas itu membuka kotak peralatannya, dia mengeluarkan obeng untuk membuka skrupnya.


Kevin dan Devan menunggu dengan perasaan yang sangat cemas, rasanya waktu sangat lama dan petugas itu sangat lamban dalam bergerak.


"rasanya ingin ku dobrak saja pintu ini!" ujar Devan sambil terus bolak-balik seperti setrikaan.


"sabarlah!" kata Kevin.


"mana bisa aku sabar! adikku didalam sedang sendirian, mengunci pintu, bahkan dia tidak bisa mendengar panggilan ku!"


cekrek cekrek


pintu sudah dapat dibuka, Kevin dan Devan langsung masuk ke dalam kamar perawatan, dia melihat Farah yang masih meringkuk ketakutan.


"Farah" Devan menyentuh lembut wajah adiknya.


Farah yang melihat Devan datang langsung terperanjat dan memeluk Devan dengan erat.


"dia datang! dia datang menemuiku!" gumam Farah sambil ketakutan.


Devan melepas pelukan Farah dan memegang kedua pundak adiknya.


"Farah tenanglah, jelaskan kepada kakak siapa yang datang menemuiku?" tanya Devan


Farah menggeleng seakan dia tidak tau siapa yang menemuinya tadi.


"dia datang, mengancam ku, pisau itu" kemudian Farah menangis.


"panggil dokter" teriak Kevin


Ronal yang mendengar teriakan Kevin kembali mengerjakan apa yang diperintahkan oleh bosnya.


"Farah apa kamu tau siapa dia?" tanya Kevin.


Farah mengangguk.


"siapa dia?" tanya Devan ketika Farah me gangguk.


tiba-tiba Farah malah menggeleng ketika ditanya lagi.


"maaf bisa saya periksa dulu" kata dokter ketika sampai di ruangan Farah.


"suster, berikan obat penenang dulu untuk ibu Farah, setelah itu kita baru bisa kembali mengobservasi" perintah dokter.


"dokter, adik saya tadi terlihat ketakutan sekali!" kata Devan.


"kami sudah memanggil dokter psikiater, sebentar lagi dia akan datang, kita tunggu dia dulu, setelah itu baru kita tahu ada apa dengan ibu Farah" tegas dokter.

__ADS_1


"siapa yang menemuinya?" gumam Kevin.


__ADS_2