
Farah dan Anelis saling berpandangan, entah mengapa Anelis menatap tajam kearah Farah.
"Maaf, jika tidak ada yang penting silahkan pergi, karena masih banyak yang harus aku kerjakan" ujar Farah
"tunggu!" cegah Anelis.
"aku mau tahu, apa hubunganmu dengan Hans?" tanya Anelis
"hmmm kenapa kamu bertanya hal itu? apa itu penting?" Farah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
"terlalu angkuh" kata Anelis.
"baiklah, jika kamu tidak mau menjawabnya, tapi aku punya hal yang harus disampaikan!" kata Anelis.
ceklek
Anelis dan Farah menoleh ke arah pintu yang dibuka oleh seseorang, tak lama terlihat Hans dari balik pintu.
"Anelis, sepertinya kamu salah tempat, silahkan pergi, banyak hal yang perlu Farah kerjakan!" Hans beranjak dari tempat berdirinya dan dia mengajak Anelis untuk keluar dari ruang tamu restoran.
*****
"Hans lepaskan aku!" teriak Anelis dan dia langsung menarik lengannya dari genggaman Hans.
"Anelis! aku tidak suka kamu mengganggu Fatah!" tegas Hans
"ooh, ternyata dia wanita yang selama ini menggantikan posisi ku dihati mu?" tebak Anelis sambil melipat tangannya dan diletakkan didada.
"Anelis, hubungan kita sudah berakhir, tidak ada lagi hal yang perlu kau campuri tentang ku!" bentak Hans pada Anelis.
"hubungan kita dulu memang sudah berakhir Hans, tapi kakek mu yang meminta kepada keluarga ku agar kita bertunangan" jelas Anelis.
"aku tahu itu, tapi sayangnya hal itu dilakukan diluar kemauan ku, jadi jangan harap pertunangan itu akan terjadi!" Hans menegaskan bahwa dia tidak setuju dengan rencana kakeknya.
Anelis memandang Hans kesal, dia tau Hans akan menolak perjodohan ini sebab dulu Anelis lah yang telah meninggalkan Hans karena telah jatuh cinta kepada pria lain saat dia sedang study ke Amerika.
Anelis kini hanya bisa menelan ludah dari apa yang telah ia perbuat dulu, tapi bukan Anelis namanya jika ia harus menyerah sebelum berperang.
*****
"Farah" panggil Hans saat membuka pintu ruang kerja Farah.
"masuk kak" ucap Farah.
"boleh aku duduk?"
"boleh dong kak, nanti kalo kakak berdiri terus makin tinggi lagi" celoteh Farah.
wanita yang cantik tapi suka membuat orang lain disekitarnya merasa nyaman dan senang adalah keahlian Farah.
"Anelis ..."
"sudah kak, tidak perlu difikirkan, mungkin dia hanya iseng saja mampir ke restoran." Farah tak mau Hans merasa bersalah dengan kehadiran Anelis.
"baik lah" kata Hans melupakan semuanya.
__ADS_1
"apa malam ini kamu ada acara?" tanya Hans
"Im free" jawab Farah.
"can you have dinner with me?" tanya Hans.
"yes, I can" jawab Farah dengan mantap.
Hans tersenyum, dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajah senangnya.
******
Hans terus senyum-senyum mengingat Farah menerima ajakan makan malamnya.
"aku akan berusaha mendapatkan hati mu Farah, mungkin ini awal baik untuk hubungan kita"
******
Kriiiing Kriiiing Kriiiing
dering ponsel terdengar, Farah langsung meraih ponsel yang ada di atas meja kerjanya.
dilihat nomor telepon dari Indonesia.
dengan ragu-ragu dia mengangkat telepon itu namun Farah tak bersuara.
"hallo Farah" sapa seorang wanita yang saat ini dirindukan oleh Farah
"mama" panggil Farah ditelepon, saat dia sadar itu adalah suara mamanya Kevin.
Farah melepas rindu dengan mertuanya yang sudah dia anggap mama ya sendiri.
Farah terdiam sejenak, dia bukan tak mau kembali tapi dia takut akan kecewa lagi.
"aku belum bisa memutuskan apapun mam, meski Kevin sudah menemukan buktinya aku tak bisa berjanji akan kembali dengannya"
"mama tau, kalian dulu menikah tanpa cinta, kami bersalah karena membuat takdir buruk diantara kalian berdua, tapi mama yakin ada sedikit rasa dihati kalian masing-masing hanya saya tak terlihat dengan jelas" lirih Ratih yang penuh harap.
Farah dan Ratih menyudahi pembicaraan mereka lewat telepon.
Farah kembali terdiam, dia mengingat percakapannya tadi pagi bersama Hans ketika diajak makan malam.
"aku belum bisa menentukan atau mengambil pilihan, tapi aku akan mencoba membuka hati ini untuk kak Hans" cicit Farah pada dirinya sendiri.
*****
Kevin pergi kerumah mama nya untuk bertanya tentang keberadaan Farah, Kevin yakin dan sangat yakin bahwa mamanya tahu dimana saat ini istrinya berada.
Kevin sadar keluarga Farah tak mau dia dan Farah meneruskan pernikahan ini, tapi dia tak akan pernah menyerah.
"selamat pagi pak Kevin" sapa salah seorang satpam.
"dimana mama?" tanya Kevin tanpa menoleh kesatpam yang membukakan pintu mobil untuknya.
"nyonya ada didalam kok tuan" jawabnya.
__ADS_1
Kevin merapihkan jasnya dan langsung masuk kedalam rumah orang tuanya.
Kevin melihat mamanya baru saja selesai menelepon seseorang tapi anehnya wajah mamanya menunjukkan ekspresi seperti orang yang sedih.
"pagi mam" sapa Kevin.
"hai sayang, kamu tumben jam segini kerumah mama? apa kamu tidak bekerja?" tanya Ratih yang terkejut putranya berada dirumahnya sesiang ini.
"mam, Kevin mohon sekali" Kevin menyentuh tangan mamanya dan bersimpuh.
"mam, kasih tau Kevin dimana Farah?"
"Kevin! kamu sudah berjanji kan, bahwa kamu akan membawakan mama dan papa bukti bahwa anak yang ada didalam kandungan Santi bukan lah anakmu, jika hal itu sudah terbukti mama bukan hanya akan memberitahukan mu dimana Farah tapi mama akan membawa mu kehadapannya" tegas Ratih.
menjadi seorang ibu yang tegas memang sudah Ratih lakukan sejak Kevin masih kecil namun sayangnya ada satu kegagalan yaitu tidak mengajarkan Kevin cara mencintai seseorang dengan benar.
Ratih sebenarnya sangat iba dengan keadaan Kevin saat ini, tapi dia tak mungkin memberitahukan keberadaan Farah sekarang sebelum Kevin bisa membuktikan semuanya, karena percuma pasti keluarga Farah tak akan menerima kehadirannya.
*******
Farah bersiap untuk pergi makan malam bersama Hans.
"sudah siap tuan putri?" tanya Hans kepada Farah.
"aku siap" jawab Farah.
Hans menggandeng tangan Farah dan membawanya masuk kedalam mobil.
*******
Farah dan Hans tiba di sebuah restoran mewah.
Hans telah membooking restoran itu khusus karena hanya ingin berdua saja dengan Farah.
"silahkan" kata pelayang yang menghidangkan makan malam.
"waaaw kak Hans, kamu sangat tahu menu kesukaanku" kata Farah takjub.
"aku tau jadi aku bawa kamu kemari restoran yang menyediakan masakan kesukaan mu dan rasanya tidak akan mengecewakan lidah mu" tutur Hans.
Hans memang pria yang sangat perhatian, dia bahkan bisa lebih tahu semua yang disukai maupun yang tidak disukai oleh Farah, tidak seperti Kevin meski sudah dua tahun menikah dia tidak banyak tahu tentang Farah.
alunan musik klasik nan romantis terdengar ditelinga dua manusia yang sedang menikmati kebersamaan mereka.
"cheers dulu" kata Hans dengan mengangkat gelas miliknya.
"cheers" ujar mereka berdua.
Hans dan Farah meneguk minuman mereka sambil saling berpandangan.
malam yang indah bertaburan bintang membuat kedua anak manusia ini terlena dengan kebersamaan mereka.
"terimakasih Farah kamu sudah mau membuka hati mu untukku" gumam Hans.
********
__ADS_1
"Farah, Hans kalian tidak akan pernah bersama!"
seseorang mengintip Hans dan Farah yang tengah menikmati makan malam indah.