
Malam itu, Ricky sangat gelisah. Ia terus berguling-guling di atas tempat tidurnya. Pikirannya melayang entah kemana.
Karena tak juga berhasil memejamkan mata, Ricky turun dari tempat tidurnya dan menyalakan lampu kamarnya kembali.
Ricky membuka almari nya, dan mengambil sebuah surat yang terselip di antara pakaiannya.
Sebuah surat yang sudah mulai ia hafal tulisannya.
Selamat malam, pak.
Apakah saya telah membuat kesalahan kepada Anda? Jika iya. Saya mohon, maafkan atas kelancangan saya selama ini.
Tapi tolong, pak.
Anda tidak perlu menurunkan harga diri anda hanya untuk membuat saya jera.
Selamat beristirahat, pak. Deta
Ini sudah yang kesekian kalinya Ricky membaca surat dari Deta.
Tidak seperti biasanya, Ricky hanya terdiam saat membaca surat Deta kali ini.
Perasaan malu dan bersalah menghinggapi Ricky saat ini. Ia mengusap wajahnya kasar .
"Aku harus menemui gadis itu!" tegas Ricky.
***
Pagi hari yang sibuk bagi Deta. Di awali dengan membantu ibunya menyiapkan barang dagangan. Kemudian beralih membantu adik kecilnya untuk bersiap ke sekolah.
Deta sangat sibuk, ia terus berjalan kesana kemari. Sedangkan mulutnya tidak berhenti mengunyah makanan.
"Duduk, Kak!" Kedua bahu Deta di tekan untuk di paksa duduk oleh adiknya.
Deta pun tersenyum dan menuruti perintah adik laki-lakinya itu.
"Kakak habiskan sarapan dulu. Biar aku yang menyelesaikan semuanya."
"Baiklah." jawab Deta dengan mulut yang penuh makanan.
Dito Riady, adik laki-laki Deta. Pria bertubuh tinggi dan kurus. Wajahnya cukup tampan tapi jarang sekali tersenyum. Kesan pertama yang di timbulkan dirinya adalah sosok yang sangat angkuh. Tapi di balik itu semua, dia begitu menyayangi kakak perempuannya.
Dito menghampiri Dania yang sedang kesusahan memakai sepatu. Karena menyadari ada yang menghampirinya , Dania langsung mendongakkan kepala.
Tapi begitu tahu bahwa yang menghampiri nya adalah kakak laki-lakinya. Seketika tangan Dania gemetar.
Dania memang sangat takut kepada Dito. Karena Dito tidak pernah bersikap lembut kepada adiknya.
"Memakai sepatu saja tidak bisa. Sini!!!" Dito mengulurkan tangannya meminta sepatu Dania.
"Belajarlah melakukan semuanya sendiri! Semua kak Deta yang melakukan. Kasihan, kan?" Dania mengangguk. "Setidaknya bantu kak Deta. Jangan hanya bisa menambah -" Kalimat Dito terputus.
"Dito!!!" Deta mencoba mencegah Dito mengatakan hal-hal yang tidak di inginkan.
Dito menoleh kemudian berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Saat melewati Deta, Dito hanya menunduk tak berani menatap kakaknya. "Maaf, Kak,"
Deta menarik nafas dalam dan berjalan menghampiri Dania.
"Dania jangan marah ya, kak Dito tidak bermaksud seperti itu."
Deta menyentuh dagu Dania dan mengangkatnya. Terlihat wajah polos Dania yang menahan tangis.
Tak ingin memperburuk keadaan. Deta langsung memeluk tubuh mungil Dania.
***
Tok... tok... tok...
"Masuk, Kak!" Terdengar suara berat Dito dari dalam kamar.
__ADS_1
Krreeekkkk!!!!
Suara pintu berdecit karena sudah usang.
Begitu pintu terbuka, terlihat Dito sedang merapihkan pakaiannya dan memasukkan beberapa buku ke dalam tas sekolahnya.
"Bagaimana kamu tahu kalau Kakak yang mengetuk pintu?" Deta menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Aku tahu itu pasti Kakak. Karena papa sudah pergi bekerja dan mama sedang sibuk di dapur. Tidak mungkin kan si anak -"
"Cukup!!!" Deta mengangkat tangannya, meminta Dito menghentikan ucapannya.
"Kakak kesini bukan untuk berdebat. Kakak hanya minta kamu untuk bersikap sedikit lebih lembut kepada Dania." Deta mencoba mendekati adiknya.
Dito langsung berbalik membelakangi Deta. Membuat Deta mengurungkan niatnya.
"Tidak mungkin, Kak." ketus Dito tanpa melihat kakaknya.
"Tapi Dania itu adik kita," Deta berusaha menahan emosinya.
"Bukan!!!" teriak Dito tiba-tiba yang mengejutkan Deta.
"Deeekkk ...." rengek Deta.
"Maaf, Kak, tapi tolong jangan paksa aku untuk menerima anak itu!" Dito berbalik seraya memakai tasnya.
Deta yang masih terpaku segera tersadar saat Dito meraih tangannya dan menciumnya untuk berpamitan.
Mata Deta terasa panas. Ia mengibaskan kedua tangannya di depan matanya.
"Mata bodoh!!!" gumamnya.
Tanpa ia sadari, Dito masih berdiri di ambang pintu.
'Sampai kapan kakak akan berpura-pura tegar seperti itu?'
***
Deta menggeleng dan tersenyum kecut. Matanya sudah terasa sangat panas.
Deta menghapus air mata Dania dengan tangannya kemudian memeluknya. "Itu tidak benar, Sayang."
"Tapi... Kak... kak Dito selalu marah sama ... sama Dania... aaaa ...," Semakin terisak Dania.
Tanpa terlihat Dania, air mata Deta ikut meramaikan suasana pagi itu.
Deta menangis di atas puncak kepala Dania yang sedang memeluknya.
Tak ada lagi yang bisa di katakan Deta. Semakin lama, lambat laun Dania akan mengetahui semua kebenarannya.
Apalagi di lihat dari sikap Dito yang seperti itu. Tidak lama lagi semuanya akan terbongkar.
***
Deta berjalan gontai menuju rumah besar Sanjaya. Rasanya ia hanya ingin bermalas-malasan di kamarnya saat ini.
Begitu sampai di depan pintu, tiba-tiba pintu terbuka. Terlihat bu Rika yang sudah berpakaian rapih.
"Deta?" Bu Rika terkejut melihat Deta yang terlihat lesu dengan mata yang bengkak.
Deta tersenyum hambar kemudian meraih tangan bu Rika dan menciumnya.
"Kamu sakit, Ta?"
"Tidak, Bu." Deta menunduk begitu tatapannya bertemu dengan bu Rika.
"Yakin?" Deta mengangguk.
"Baiklah, kamu tidak perlu membersihkan sekolah hari ini. Kamu terlihat sangat lelah." saran bu Rika karena melihat keadaan Deta.
"Terima kasih, Bu. Saya masuk dulu."
__ADS_1
***
Pekerjaan hari ini terasa sangat melelahkan bagi Deta. Karena ia benar-benar tidak ingin melakukan apapun hari ini.
Di tambah lagi saat Deta ingat betapa hancurnya kamar Ricky, membuat kakinya semakin lemas saja.
Tapi Deta terkejut saat membuka pintu kamar tidur Ricky. Ternyata, tidak ada gempa bumi hari ini.
Deta bernafas lega dan melangkah masuk untuk membersihkan lantai.
Karena terlalu lelah, Deta tidak memperhatikan bahwa ada surat yang di tulis Ricky untuknya di atas meja kerja Ricky.
Maaf , Deta.
Bisakah kita bertemu???
***
Ricky sampai di rumah dengan terengah-engah. Tidak ada siapapun di sana. Bahkan ibunya pun tidak terlihat.
'Dimana semua orang?'
Ricky melihat jam di tangannya. Ternyata memang belum waktunya orang tuanya kembali.
'Seharusnya gadis itu masih disini.'
Ricky memandang berkeliling. Terlihat rumah yang sudah bersih dan rapih. Ia berjalan ke dapur dan membuka lemari es kemudian mengambil sebotol minuman.
Di bawanya minuman itu ke ruang keluarga. Ricky berbaring di sofa panjang, sebelah tangannya ia letakkan di atas kening.
Saat terdengar langkah kaki, Ricky bergegas bangun. Ia pikir Deta yang berjalan ke arahnya.
"Mama?" Mata Ricky terbelalak begitu melihat ibunya yang mendekat, bukan Deta.
"Iya, Sayang," Bu Rika tersenyum kemudian duduk di samping Ricky.
"Aku pikir siapa tadi,"
"Siapa?"
"Bukan siapa-siapa, Ma," elak Ricky.
"Mama senang akhir-akhir ini kamu selalu pulang lebih awal." Bu Rika memandang putranya.
"Kebetulan, Ma," jawab Ricky acuh.
"Kenapa sepi sekali, Ma?" Lagi-lagi Ricky mencoba mencari tahu keberadaan Deta. Tapi ia terlalu malu untuk mengatakannya secara langsung.
( Bang Ricky malu tapi mau. Acuh tapi butuh 🤭)
Bu Rika menatap Ricky, merasakan ada yang aneh dengan putranya. Tapi dia belum bisa memastikannya.
"Iya, Sayang, Deta pulang lebih awal." jelas bu Rika sambil terus mengamati ekspresi di wajah putranya.
"Memang kenapa, Ma?"
"Sepertinya Deta sedang sakit."
Seketika wajah Ricky memucat. Hal itu membuat bu Rika merasa khawatir.
"Kamu sakit , Sayang?"
"Tidak, Ma, aku baik-baik saja." jawab Ricky seraya beranjak menuju kamarnya.
'Apa dia sakit karena "kejutanku" ?'
Hallo semuanya🤗
Semoga kalian suka ceritanya 🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 kalian disini ya berupa like 👍, comment, rate dan vote🤭
__ADS_1