
'Cinta? Ah, persetan dengan semua itu! Aku tidak akan pernah menjatuhkan hatiku untuk siapapun. Hidupku akan ku abdikan untuk negara dan juga kedua saudara perempuanku. Kecuali, ada gadis yang bisa mengerti prinsipku dan mau menjalaninya. Maka aku akan mempertimbangkannya.'
"Kakak! Kenapa melamun?" Tepukan Dania di bahunya membuat Dito tersadar. Fokus Dito langsung tertuju pada Angga yang kini duduk di hadapannya.
'Semua ini karena ucapannya. Aku jadi terpengaruh dan mulai membual tentang cinta.' umpat Dito dalam hati.
Angga yang mengerti dengan tatapan Dito hanya bisa tersenyum tipis agar tidak menarik perhatian ketiga kakak beradik itu.
"Dek? Kenapa melamun?" Deta mengulangi pertanyaan Dania dengan menyentuh tangan Dito yang sedang mengepal.
Dito segera menoleh pada Deta yang ada di sampingnya. "Tidak, Kak! Aku hanya memikirkan tentang pekerjaan."
"Benarkah?" tanya Deta ragu, ia hanya memastikan bahwa adiknya benar-benar dalam keadaan baik-baik saja.
"Iya, Kak!" Dito merangkul Deta untuk membuktikan bahwa dirinya baik-baik saja.
'Aku akan baik-baik saja demi kakak dan juga Dania.'
***
"Apa!!! Kamu ingin mengakui Kayla dan Nayla sebagai putrimu di hadapan Deta?" tanya Refita, ia tak habis pikir dengan keputusan Ricky.
"Tenang, Kak! Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaannya terhadapku." jelas Ricky, matanya mengerling untuk membujuk Refita.
"Kalau mama dan papa sampai tahu semua ini, mereka pasti akan langsung terkena serangan jantung." sungut Refita.
"Maka ... jangan beritahu mama dan papa!" sergah Ricky yang langsung mendapat ketukan di kepalanya.
"Arrggh ...," teriak Ricky sembari memegangi dahinya yang terasa nyeri.
"Duduklah, Ky!" Refita menepuk sofa di sebelahnya. "Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi antara kamu, Deta, dan juga Angga. Tapi kenyataan bahwa Deta sudah menikah dengan Angga akan semakin mempersulit posisimu jika kamu bertekad untuk merebut Deta kembali darinya." tutur Refita memberikan gambaran pada Ricky.
"Aku tahu, Kak, tapi hubungan mereka itu tidak nyata. Semua itu hanya karena seorang anak malang yang membutuhkan perlindungan serta kasih sayang dari mereka." jelas Ricky, setidaknya itulah yang ia dengar dan ketahui dari Gibran.
"Anak?" Dahi Refita berkerut. "Apakah ... anak itu anakmu?" celetuk Refita yang membuat Ricky tersedak angin.
Pupil mata Ricky membesar karena terkejut dengan ucapan Refita. "Kakak!!!"
"Hei, kenapa kamu marah? Bukankah ada kemungkinan jika anak itu adalah anakmu? Kamu tidak melupakan bahwa kalian sudah menabung sebelum pernikahan, kan?" Refita memberondong Ricky dengan keingintahuannya.
__ADS_1
Ricky menghela nafas cukup panjang sebelum mengungkapkan kenyataan kepada Refita. "Sebenarnya, Kak, aku dan Deta tidak pernah melakukan apapun lima tahun yang lalu. Itu hanya kesalahpahaman yang di ciptakan oleh papa dan aku membenarkannya agar Deta mau menikah denganku."
"Apa? Astaga!!! Banyak sekali kejutan dan kebohongan di atas hubungan yang kalian bangun. Mungkin itulah sebabnya hubungan kalian di masa lalu begitu mudah di goyahkan oleh Mika." lontar Refita, ingatan tentang hari menyedihkan itu kembali terlintas dalam ingatannya.
"Mika ...."
***
Lima tahun yang lalu...
Setelah kekacauan yang terjadi di pesta pernikahan Ricky dan Deta, semua orang terlihat sedih kecuali Mika. Ia begitu bahagia karena sudah berhasil menghancurkan keluarga Riady dan membalaskan rasa sakit hatinya.
Dengan perasaan bangga terhadap dirinya sendiri. Mika pergi ke rumah besar Sanjaya untuk menerima ucapan terima kasih karena telah menyelamatkan putra mahkota mereka dari tipu daya keluarga Riady.
Begitu memasuki rumah, Mika melihat semua anggota keluarga kecuali Ricky sedang berkumpul di ruang keluarga.
Tanpa merasa bersalah sedikitpun, Mika melangkahkan kakinya untuk mendekati bu Rika yang sedang terisak dalam pelukan pak Firman.
"Tante?" panggil Mika, ia mencoba menyentuh bahu bu Rika tapi langsung di tepis olehnya.
"Pergi kamu! Tante sudah tidak mau melihat wajahmu lagi!" Bu Rika mendorong tubuh langsing Mika hingga ia terjerembab.
"Mama?" teriak Refita, ia terkejut dengan sikap ibunya yang tiba-tiba dingin terhadap putri sahabatnya itu.
"Bawa dia pergi! Jangan biarkan dia mendekati Ricky lagi!" Bu Rika menunjuk ke arah Mika yang sudah tak sanggup menahan airmatanya.
"Jangan seperti itu, Ma!" pinta Refita, kedua tangannya sibuk menahan tubuh Mika yang seolah tak bertulang.
"Tante? Salah Mika apa? Mika hanya -" ucapan Mika terpotong karena bu Rika langsung menyelanya.
"Kamu bertanya apa salahmu? Kamu sudah menghancurkan pernikahan Ricky!!!" Bu Rika sudah akan menghampiri Mika, tapi tangannya di tahan oleh pak Firman.
"Aku bukan menghancurkan, tapi aku menyelamatkan Ricky dari kehancuran yang akan dia dapatkan jika dia menikahi putri dari pria brengsek itu!" sergah Mika, air mata kembali mengalir di wajah cantiknya.
PLAK!!!
Tangan lembut bu Rika mendarat di wajah Mika dengan cukup keras hingga meninggalkan bekas merah di pipi putih Mika.
"Kamu salah, Mika! Deta itu gadis baik. Dia tidak tahu apapun! Masalah Anika dan ayahnya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Deta. Tapi kamu dengan teganya menghancurkan kebahagiaannya! Sekarang bagaimana nasib anaknya Ricky jika Deta menolak untuk menikah dengannya?" tutur bu Rika, air mata sudah kembali membanjiri matanya.
__ADS_1
Mika yang terkejut hanya mampu menganga sambil memegangi pipinya yang terasa panas. "Deta hamil, Tante?" lirih Mika bertanya.
"Berharap saja itu tidak terjadi! Atau ... aku akan berdoa agar kamu mengalami hal yang lebih menyakitkan daripada yang di alami oleh Deta." ketus bu Rika sembari menghapus air matanya.
Flashback off...
Pagi yang indah, walau tak seindah yang terlihat. Namun, gadis cantik berkulit putih bersih itu tetap tersenyum sembari mengikat rambutnya tinggi-tinggi.
"Ayo, Dania! Bantu Kakak mendapatkan semangat hidupnya lagi!" serunya sambil melangkahkan kaki untuk meninggalkan apartemen mewah milik Angga.
Langkah kaki kecilnya yang kini mulai beranjak dewasa pun menuntunnya menuju sebuah gedung pencakar langit yang paling menonjol di antara bangunan yang lain.
Dania memantapkan langkahnya untuk memasuki gedung itu, walaupun ia tahu jika Deta akan memarahinya habis-habisan jika kakaknya itu sampai mengetahui apa yang telah ia lakukan hari ini. Dengan langkah pasti, Dania menghampiri meja resepsionis.
"Selamat pagi, Nona muda, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis cantik yang berada di balik meja.
Dania tersenyum dengan sangat manis. "Selamat pagi, Kakak cantik, aku ingin bertemu dengan kak Ricky Sanjaya." jawab Dania polos.
Mata resepsionis itu memicing dan menatap curiga kepada Dania sebelum ia melirik ke arah petugas keamanan yang langsung menghampirinya.
"Antar Adik kecil ini keluar, Pak! Sepertinya dia tersesat." sinis wanita resepsionis itu.
Tanpa meminta penjelasan dari Dania petugas keamanan itu pun langsung menarik tangan Dania dan menyeretnya keluar.
"Tunggu sebentar, Pak! Apa salahku? Aku hanya ingin bertemu kak Ricky." sergah Dania.
"Ini bukan tempat bermain. Pergilah!!!" Petugas keamanan itu melepaskan tangan Dania dengan kasar.
Tepat setelah kejadian kurang menyenangkan itu, sebuah mobil mewah baru saja berhenti di lobby gedung Sanjaya Corporation. Seorang pria keluar dengan pakaian yang berbeda dari pada biasanya.
"Selamat pagi, Tuan," sapa petugas keamanan tadi sambil membungkuk hormat.
Mata Dania menyipit untuk memastikan sosok yang berada tak jauh dari tempatnya. Dan begitu ia mengenalinya, Dania tak bisa lagi menahan rasa bahagianya.
"PANGERAN!!!"
Hallo semuanya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh