
"Terlambat!!!"
Satu kata yang keluar dari mulut Deta, membuat Ricky seperti tersambar petir di siang bolong.
"Beri aku kesempatan satu kali lagi," lirih Ricky, ia sangat berharap Deta mau mendengarkannya sekali ini saja.
Namun, rasa kecewa Deta lebih besar daripada rasa cintanya pada Ricky yang baru saja tumbuh.
Deta melepaskan cincin yang melingkar di jarinya, ia meraih tangan Ricky dan meletakkan cincin itu di telapak tangan Ricky. "Terima kasih untuk semuanya, Pak."
Lidah Ricky terasa kelu, ia tak bisa lagi mengatakan apapun. Rasanya, impian yang sudah ia rancang dengan sangat indah harus hilang tersapu badai tanpa memberinya kesempatan sedikitpun.
Ricky hanya bisa menyaksikan Detanya berjalan dan menjauhinya. "Berbaliklah, kumohon ...."
Harapannya sia-sia, Deta terus berjalan bersama keluarganya. Gadis itu tak ingin lagi menoleh ke belakang.
Tanpa di ketahui oleh Ricky, air mata mengiringi setiap langkah Deta yang menjauhinya.
***
"Aaaarrrgghhhh ...," jeritan memilukan Ricky menggaung di seluruh rumah yang kini terasa hampa baginya.
"Pak?" Gibran mencoba untuk berbicara pada Ricky, karena sejak kembali dari acara pernikahannya yang kacau Ricky hanya berteriak tanpa bicara apapun.
"Pergi!!!" bentak Ricky.
"Tapi, Pak,"
"Semua ini juga kesalahanmu! Kamu terlalu ceroboh, hingga Mika bisa sampai lepas dari pengawasanmu!!!" Ricky berteriak meluapkan kemarahannya.
"Maaf, Pak," Gibran tak bisa menyangkalnya, seharusnya semua ini tidak terjadi jika ia lebih fokus pada pekerjaannya.
"Sekarang, apa yang harus kulakukan?" lirih Ricky, ia mulai menitikkan air mata merasakan kepedihan.
"Berikan nona Deta sedikit waktu, Pak, mungkin dia akan bisa memaafkan anda." saran Gibran.
Ricky terlihat menimbang-nimbang ucapan Gibran. "Baiklah," gumamnya.
***
"Pa, kenapa semuanya harus seperti ini?" Air mata bu Rika tak berhenti mengalir.
Pak Firman hanya bisa menghela nafas mendengar keluh kesah istrinya, ia sendiri masih terlalu bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
'Aku hanya berharap, kejadian ini tidak akan mengubah Ricky.' Batin pak Firman.
"Tenanglah, Ma, semoga semuanya segera membaik." hibur pak Firman.
__ADS_1
"Semoga, Pa," jawab bu Rika lirih.
"Bagaimana perasaan Mama terhadap Deta sekarang?" tanya pak Firman.
"Mama bingung, Pa," Bu Rika menyeka air matanya. "Jika Mama membela Deta, itu akan melukai Mika. Tapi jika Mama membela Mika, itu akan menyakiti Deta." sambungnya.
Pak Firman mengangguk, menyetujui ucapan istrinya. "Tapi bagaimanapun juga Deta tidak bersalah, Ma," tuturnya.
"Papa benar," Bu Rika menimpali. "Haruskah kita membujuknya untuk tetap menikah dengan Ricky?" tanyanya.
"Pertanyaannya bukan harus atau tidak, Ma, tapi maukah Deta melanjutkan pernikahannya dengan Ricky?" tanya pak Firman ragu.
Tatapan bu Rika menerawang, mengingat berapa marahnya Deta saat meninggalkan acara pernikahan tadi.
"Rasanya, tidak mungkin, Pa." Bu Rika mulai merasakan keputusasaan. "Tapi benarkah semua yang di katakan Mika itu, Pa?" timpalnya.
"Entahlah, Ma,"
***
Di kamarnya, Deta menangis hingga sesenggukan. Ia menyesali semua yang terjadi hari ini.
'Andai saja aku tidak mencintainya, rasanya tidak akan sesakit ini. Seharusnya, aku tidak perlu melambung setinggi ini!' Batin Deta terasa sesak.
Ia melepaskan satu persatu hiasan yang menempel di tubuhnya bersama dengan kenangan serta harapan indah yang hanya ada dalam mimpinya.
"Ternyata tak semudah itu menjadi cinderella." gumamnya sambil menyeka air mata.
"Bodoh... bodoh... bodoh ...." teriaknya.
Air mata terus menerus mengalir di pipinya, tanpa bisa ia hentikan.
Dengan cepat Deta mengganti pakaiannya dan merapihkan semuanya agar tidak ada yang tercecer.
Gaun pengantin dan semua embel-embel yang sebelumnya terpasang di tubuh Deta, kini sudah terbungkus rapih di dalam sebuah kotak berukuran cukup besar.
Deta memakai jaketnya dan membawa kotak itu keluar dari kamarnya.
"Apa itu, Kak?" tanya bu Sarah yang sedang duduk di ruang tamu bersama dengan Dito.
"Gaun pengantin, Ma," jawab Deta singkat.
"Mau di apakan?" Bu Sarah mendekati Deta yang terlihat kesulitan membawa kotak sebesar itu.
"Aku akan mengembalikannya pada pak Ricky, karena aku tidak ingin menyimpannya." tutur Deta.
"Letakkan itu!" pinta bu Sarah, ia menuntun Deta untuk duduk di kursi bersama dengannya.
__ADS_1
Bu Sarah menggenggam tangan Deta. "Apa kamu sudah yakin? Tidakkah kakak ingin mempertimbangkannya lagi?"
"Tidak ada yang perlu di pertimbangkan lagi, Ma," Deta melepaskan tangannya. "Aku tidak bisa membangun sebuah hubungan di atas kebohongan dan kekecewaan. Karena hanya akan menggerogoti hubungan itu dari dalam dan akan dengan mudah menghancurkannya." tutur Deta, perasaannya ikut hancur mengatakan hal itu.
"Maaf, Kak, karena masa lalu Papa kamu harus menjauh dari jodohmu." lirih pak Danang yang tiba-tiba berada di antara mereka.
"Tidak, Pa, ini semua terjadi karena aku mungkin tidak berjodoh dengan pak Ricky." ucap Deta, ia mencoba tersenyum walau matanya terlihat sembab.
"Jangan pernah menyalahkan diri Papa lagi!" Deta memeluk ayahnya.
"Semua ini memang salah Papa!!!" sungut Dito yang merasa kasihan melihat kakaknya.
"Dek, semuanya sudah berlalu! Kita harus memulai hidup kita yang baru. Kamu harus bisa memaafkan Papa agar kita bisa hidup bahagia seperti dulu lagi." ucap Deta penuh harap.
Dito menatap nanar kakaknya yang berusaha tetap tegar di tengah badai yang menyapu bersih semua impian dan harapannya.
"Pa... bolehkah aku bertanya?" Mata bulat Deta menatap sosok pria yang paling ia sayangi.
Pak Danang mengangguk. "Apa yang ingin kakak ketahui?"
Deta menatap ibunya dan Dito. "Maaf, Ma... Dito... tapi kita harus tahu semuanya jika kita ingin terbebas dari masa lalu yang membelenggu hidup kita selama ini."
Bu Sarah menghela nafas panjang, memahami maksud ucapan putrinya. "Baiklah," jawabnya pasrah.
"Bagaimana, Dek?" tanya Deta pada Dito yang masih menatap ayahnya dengan kemarahan.
"Tapi, Kak," Dito terlihat enggan mendengarkan ayahnya.
"Mungkin saja selama ini kita sudah salah paham terhadap Papa," Deta tersenyum pada ayahnya, mencoba memberi kekuatan pada ayahnya itu.
***
Ricky berjalan memasuki kediaman keluarga Sanjaya, dari luar rumah besar itu nampak sepi. Namun, Ricky tahu dengan pasti jika para penghuni rumah sedang berada di dalam.
"Duduklah, Boy!" perintah pak Firman saat melihat putranya datang.
Sebelumnya, pak Firman menghubungi Gibran dan meminta Ricky untuk datang. Ia merasa banyak hal yang harus di luruskan.
"Langsung saja, Boy! Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah semua yang dikatakan Mika itu benar? Dan kenapa kamu menutupinya?" tanya pak Firman, ia menangkap ada keraguan di mata Ricky.
"Sebenarnya ...."
Hallo semuanyaπ€
Sebenarnya, season 1 ceritanya Deta sama bang Ricky udah mau berakhir π
Itulah kenapa aku double up karena aku sendiri udah gak sabar ππ
__ADS_1
Jangan lupa jempol π dulu sebelum atau sesudah membaca ya dan jangan lupa tinggalkan jejak π£ kalian di kolom komentar dan juga votenya supaya author makin semangat ππ
I π U readers kesayangan kuhh