
Hari itu Ricky benar-benar membuktikan perkataannya, ia membawa Deta ke rumah orangtuanya.
Begitu sampai di depan rumah Sanjaya, Deta merasa kakinya begitu berat untuk melangkah.
Di genggamnya erat-erat sabuk pengaman yang melilit tubuhnya seolah tak ingin melepasnya.
Ricky yang melihat hal itu hanya terus memperhatikan Deta, ia ingin tahu apa yang akan di lakukan Deta kali ini.
"Apakah aku harus membantumu untuk melepaskannya?" Ricky sudah meraih tangan Deta dan mencoba melepas sabuk pengamannya.
"Tidak!!!" Seketika Deta berteriak yang membuat Ricky terbahak-bahak.
"Kenapa harus berteriak seperti itu? Aku hanya ingin membantumu. Aku pikir mungkin kamu tidak bisa melepaskannya karena terlalu gugup."
Ricky kembali ke posisinya kemudian menoleh ke kursi belakang dan melihat Dania yang sudah terlelap.
"Telingaku sakit mendengar teriakanmu tapi kenapa tuan putri yang imut ini justru tidak terganggu sedikitpun?" Ricky beralih menatap Deta yang kini mulai berani menatapnya saat sedang di kuasai amarah.
"Jangan panggil Dania seperti itu!"
"Kenapa?"
"Tidak apa, saya hanya tidak suka mendengarnya." Deta memajukan bibirnya dan itu membuat Ricky sedikit terganggu.
"Apa kamu cemburu?"
"Tidak!"
"Tidak perlu cemburu, Dania itu tuan putri imutku dan kamu adalah ratu hatiku." Ricky mengedipkan sebelah matanya.
Mata Deta terbelalak melihat ulah Ricky.
"Jika saya ratunya, maka saya butuh seorang raja bukan seorang pangeran." sungut Deta dan kembali memajukan bibirnya.
Deta tak menyadari bahwa kebiasaan kecil yang ia lakukan itu membuat Ricky semakin tidak nyaman.
"Jika aku jadi raja, siapa yang akan jadi pangeran dari tuan putri imutku?" Ricky berpura-pura berpikir.
Ricky berharap Deta akan merengek atau mungkin akan memperlihatkan sedikit kecemburuannya.
Namun, yang Deta katakan sungguh di luar dugaan.
"Apakah anda seorang pedofil, Pak?"
Hah???
***
Akhirnya, setelah perdebatan yang cukup konyol di mobil. Mereka memutuskan untuk masuk ke dalam rumah besar Sanjaya.
Di dalam rumah, terlihat semua keluarga sedang berkumpul di ruang keluarga. Lengkap dengan Refita dan Yoga.
"Waahhh jagoan Papa sudah pulang." Pak Firman yang pertama menyadari kedatangan mereka.
Ricky melangkah mendekati keluarganya, tapi Deta yang merasa canggung hanya diam mematung sambil menggenggam tangan Dania yang masih linglung karena baru saja bangun dari tidurnya.
Karena menyadari Deta tak mengikutinya, Ricky berbalik dan menggendong Dania. Kemudian meraih tangan Deta dan menggandengnya.
Seluruh keluarga yang memang sudah tahu tentang hubungan mereka awalnya terkejut, tapi kemudian mulai memahami keadaan dan tersenyum.
__ADS_1
"Semuanya, kenalkan. Ini Dania," Ricky tersenyum dan mendudukkan Dania di sofa sebelah ibunya.
"Hallo, Anak cantik." Bu Rika segera memeluk Dania.
"Hai, Dania." Refita melambaikan tangan pada Dania.
"Anak siapa ini, *B*oy ?" Pak Firman mengangkat sebelah alisnya.
Ricky hanya menoleh sekilas pada ayahnya, dan kembali menatap Dania.
"Ayo beri salam, Tuan putri,"
"Hallo semuanya, nama aku Dania." Dania tersenyum, tapi matanya tetap fokus pada Deta yang berdiri di sampingnya.
Pak Firman yang merasa tidak di hiraukan putranya hanya bisa mendengus kesal.
'Aku seperti kehilangan wibawaku di depan putraku sendiri.' Batin pak Firman jengkel.
"Jawab papa, *B*oy!"
Ricky berdecak. "Anak Ricky, Pa,"
"Apa???" Semua orang di ruangan itu sontak terkejut dengan ucapan Ricky termasuk Deta dan Dania sendiri.
"Bicaralah yang benar! Jangan main-main!" Pak Firman mulai kehilangan selera humornya.
"Diamlah, Pa! Atau nanti akan aku gulingkan Papa dari perusahaan." Ricky terkekeh yang membuat pak Firman semakin kesal.
"Maaf, semuanya, Dania ini adik saya." Deta akhirnya memilih bicara dari pada urusannya semakin panjang.
Semuanya tersenyum lega, dan Refita tiba-tiba saja melemparkan bantal kepada Ricky.
Ricky tertawa puas. "Apa kalian pikir aku senakal itu? Kalau begitu aku akan menjadi anak nakal agar tak mengecewakan kalian."
Ricky tertawa hingga terpingkal-pingkal, dan seluruh keluarga yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Begitu pandangannya bertemu dengan Deta, Ricky melihat Deta tidak tersenyum sedikit pun. Deta justru terlihat sangat marah.
'Inikah yang ingin anda katakan pada keluarga anda? Dan inikah bukti yang ingin anda tunjukkan pada saya?'
Ingin rasanya Deta mengatakan hal itu langsung kepada Ricky, tapi ia cukup sadar posisinya saat ini.
Ricky yang memahami tatapan Deta tiba-tiba saja menjadi serius.
Ricky berdehem untuk menarik perhatian semua orang.
"Pa... Papa pasti sudah tahu bahwa aku membeli rumah."
Pak Firman mengangguk.
"Maaf, Ricky tidak membicarakan hal ini sebelumnya dengan Papa."
"It's okay, Boy,"
"Papa tidak ingin bertanya?" Ricky menatap ayahnya yang juga sudah terlihat serius.
"Tidak." jawab pak Firman yakin.
Ricky melihat ibunya. "Mama?"
__ADS_1
"Katakan yang ingin kamu katakan! Kami tidak akan bertanya, Sayang," Bu Rika menatap lembut Ricky dan melirik Deta yang sejak tadi sudah salah tingkah.
Bu Rika sudah memahami yang terjadi. Namun, ia menunggu Ricky yang mengatakannya sendiri.
Ricky menarik nafas dalam dan kembali menatap Deta, meminta kekuatan dan keyakinan untuk mengatakan hal yang besar baginya.
"Ricky akan menikahi Deta, Ma... Pa ...."
Seluruh keluarga nampak tenang, hingga tercipta keheningan yang cukup lama.
Jantung Ricky berdegup kencang, sedangkan Deta berkeringat dingin membayangkan bagaimana nasib dirinya.
'Bagaimana jika aku justru mendapat hinaan? Lebih parahnya lagi...
Bagaimana jika aku langsung di pecat???' Batin Deta berkecamuk.
Dania yang bingung hanya menatap wajah-wajah orang dewasa di hadapannya dengan tatapan penuh pertanyaan.
Tiba-tiba suara tawa pak Firman mengejutkan seisi ruangan.
Disusul tawa Refita dan Yoga, kemudian untuk pertama kalinya Deta melihat bu Rika tertawa.
"Aku serius. Aku akan menikahi Deta! Dan jika kalian tidak setuju -"
Refita menyela, "siapa yang mengatakan bahwa kami tidak setuju?"
"Jadi?" Ricky mengangkat sebelah alisnya.
"Kami setuju, Sayang," Bu Rika tersenyum seraya berdiri untuk menghampiri Deta.
"Mama serius, kan?" Ricky merasa tidak percaya.
"Tentu, *B*oy, Apa kamu ingin Mama dan Papa menolaknya?" Pak Firman terkekeh.
"Tidak, Pa, hanya saja aku tidak membayangkan akan semudah ini." Ricky masih tidak percaya.
Bu Rika tersenyum dan memeluk Deta yang juga masih tidak percaya.
"Apa kamu ingin kami semua menentang hubungan kamu dan Tata? Kemudian akan ada perdebatan dan keributan yang berujung kawin lari?" Refita mendekati Ricky dan mencubit pipinya.
"Tapi ini aneh, Kak, kalian bahkan tidak menanyakan bagaimana bisa aku memutuskan untuk menikahi Deta." Ricky mengusap pipinya yang terasa nyeri.
"Kami sudah tahu, Sayang, bahwa kamu tertarik pada Deta, tapi Mama pikir akan menunggu kamu untuk mengatakannya sendiri." Bu Rika tersenyum dan menepuk pipi Deta lembut.
"Kapan kalian mengetahuinya?" Ricky masih bingung bagaimana keluarganya bisa menyadari hal itu dengan cepat.
Sedangkan, Ricky saja baru bisa memahami hatinya saat Refita membawa Deta ke rumahnya. Dan semakin takut kehilangan Deta saat gadis itu mengatakan tentang calon suami yang di milikinya.
"Saat kamu mencium Deta di rumahku," celetuk Refita.
Sontak saja hal itu membuat pipi Ricky dan Deta bersemu merah.
Hallo semuanya🤗
Jadwal upnya udah aku atur ya setiap tengah malam, okay? 😁
Aku bukan makhluk halus lhooo🤭 Hanya menyesuaikan waktu dengan kegiatan aja 😅
Jangan lupa yaa readers ku yang terbaiiikk tolong tinggalkan jejak 👣 kalian berupa like👍, rate , comment dan vote🤗 makasih😘
__ADS_1
Semoga kalian suka ceritanya🥰