
Deta membuka tas yang di berikan Ricky dan mengeluarkan sebuah blouse yang sama dengan miliknya yang telah di rusak Ricky.
"Ini?" tanya Deta seraya mengangkat blouse itu ke atas.
"Aku tidak ingin orang tuamu berpikir yang bukan-bukan jika kamu memakai baju yang berbeda saat pulang nanti." jelas Ricky tanpa menatap Deta.
Ia memilih berdiri membelakangi Deta untuk menyembunyikan sesuatu yang mulai terasa sesak di dalam celananya.
"Memang pemain ahli!" gumam Deta kembali memasukkan blouse itu ke dalam tas.
Bukannya berganti pakaian, Deta justru mengambil tasnya yang entah sejak kapan teronggok di lantai.
Ia memakai tasnya. "Saya permisi, Pak," pamitnya pada Ricky yang masih membelakanginya.
Dengan cepat Ricky berbalik dan meraih tangan Deta. "Mau kemana kamu?" tanyanya kemudian.
"Pulang, tentu saja." jawab Deta dengan sedikit kerutan di keningnya.
"Dengan pakaian seperti ini?" sinis Ricky menatap dua bola indah yang menyembul dari balik kemeja yang Deta kenakan.
Deta mengikuti arah pandangan Ricky dan terkejut melihat dadanya yang masih terbuka.
Ia melepaskan paksa tangannya yang di pegang Ricky dan mulai memasang kancing kemejanya.
Baru satu kancing baju yang terpasang, tiba-tiba tangan Ricky menahan tangannya.
Ricky menarik tangan Deta dan membuat tubuh Deta tertarik sehingga langsung berada dalam pelukannya.
"Siapa yang ingin kamu goda dengan penampilanmu yang seperti ini?" bisik Ricky.
Deta memberontak, ia mendorong tubuh Ricky tapi tak berdampak apapun pada pria itu.
__ADS_1
Namun Deta tak kehabisan akal, ia pun menggigit leher Ricky dengan harapan pria itu akan kesakitan dan langsung melepaskannya.
Yang terjadi selanjutnya sungguh di luar perkiraan Deta. Ricky semakin mengeratkan pelukannya dan hampir membuat Deta sesak.
"Le- Lepaskan, Pak!" pinta Deta di sisa tenaganya.
"Kamu merasakannya?" tanya Ricky saat tubuhnya semakin menempel dengan tubuh Deta. "Kamu harus bertanggung jawab karena telah membangunkannya!" sambungnya.
Deta sadar, perlawanan yang ia lakukan akan membuat Ricky semakin menginginkannya.
Ia terdiam dan tak lagi memberontak sedikitpun. Hal itu tentu saja di sadari Ricky dan membuatnya langsung melepaskan tubuh Deta.
Ricky menatap Deta yang sedang menunduk dan menangkup kedua pipi Deta agar gadis itu menatapnya.
Yang ada di pikiran Ricky adalah Deta sedang menangis karena ketakutan, tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Saat tatapan mereka bertemu, pandangan mata Deta sangat tajam seperti ingin memotong-motong Ricky.
Tanpa di duga oleh Ricky, Deta tiba-tiba saja membuka kancing kemejanya satu persatu.
"Kenapa? Bukankah ini yang Anda inginkan?" teriak Deta.
Ricky menghela nafas panjang. "Kamu salah, yang sebenarnya adalah -"
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu menghentikan Ricky yang akan menjelaskan sesuatu pada Deta.
***
Suasana rumah besar milik Ricky tampak sepi seperti tak berpenghuni.
__ADS_1
Mika berjalan menyusuri semua ruangan namun tak menemukan siapapun disana.
Saat ia melewati kaca yang terhubung dengan halaman belakang rumah, ia melihat Dania sedang bermain dengan beberapa pelayan.
Ia melupakan niatnya untuk mencari Ricky dan lebih memilih menemui Dania lebih dulu.
"Hallo, Sayang!" sapa Mika saat sudah berdiri di hadapan Dania.
Gadis kecil itu mendongakkan kepalanya dan tersenyum. "Hallo," jawabnya dengan wajah yang menggemaskan.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Mika dan berjongkok di samping Dania.
"Bermain," jawab Dania singkat.
"Emmm ...," Pandangan Mika berkeliling. "Dimana kak Deta?" tanyanya.
"Kakak? Tidak tahu." jawab Dania yang di iringi gelengan kepala.
"Nyonya sedang bersama tuan, Nona." Tutur salah satu pelayan yang menemani Dania bermain.
"Dimana mereka?"
***
Hallo semuanyaπ€
Semoga masih setia baca perjalanan cintanya Deta sama bang Ricky ya π₯°
Jangan lupa jempol π dulu sebelum baca ya
Dan jangan lupa juga tinggalkan jejak π£ kalian di kolom komentar agar aku lebih semangat upnya ππ
__ADS_1
Apalagi di tambah Vote π makin semangat deh ππ
I β€ U readers kesayangan kuhh