
"Jadi dengan kak Ricky bukan kak Angga?" tanya Dito dengan antusias.
Setelah mengatakan bahwa Ricky akan melamarnya, Deta meminta pendapat dari keluarganya.
"Iya, Dek," jawab Deta tak bersemangat.
"Kenapa Kakak tidak bersemangat begitu? Kakak tidak menyukai kak Ricky? Kalau tidak suka tolak saja, Kak." Dengan entengnya Dito memberi saran.
Andai kamu tahu, Dek. Aku juga ingin menolaknya jika saja pak Ricky belum menanam bibit di sini.
Deta membatin sembari mengusap perutnya.
Kepolosannya membuat Deta mudah di bohongi. Ia benar-benar berpikir bahwa Ricky telah menyentuhnya malam itu.
"Kak!!!" Dito menaik turunkan tangannya di depan wajah Deta.
"Eh, iya, Dek." Deta mengerjapkan matanya.
"Kakak tidak melakukan hal yang salah, kan?" tanya pak Danang dengan hati-hati.
Ia menangkap ada hal aneh yang terjadi dengan lamaran yang datang tiba-tiba ini.
"Ti-" Belum sempat Deta menjawab. Bu Sarah sudah menyela.
"Kamu pikir dia seperti dirimu? Deta itu putriku! Dia tidak akan melakukan hal rendahan seperti dirimu."
"Mama ...." Deta menggenggam tangan ibunya.
Tatapannya segera beralih pada Dania yang masih duduk dengan manisnya di samping Dito.
"Dania ke kamar dulu ya! Ini sudah malam, besok Dania harus sekolah, kan?" Deta tersenyum pada Dania yang di balas anggukan kecil.
Gadis itu segera turun dari kursi dan berjalan menuju kamar tidurnya.
Setelah memastikan Dania sudah masuk ke dalam kamarnya dan tidak akan mendengar percakapan mereka. Deta mencoba bicara pada kedua orang tuanya.
"Ma, ini sudah tiga tahun dan Mama masih belum melupakan semuanya. Tolong jangan membahas hal itu di hadapan Dania! Kasihan Dania, Ma. Dia masih sangat kecil dan belum mengerti apapun. Dan Deta juga tidak akan pernah bosan meminta Mama untuk menyayangi Dania."
"Justru karena dia Mama tidak bisa melupakan semuanya. Mama tidak bisa menyayanginya walau Mama sudah mencobanya. Wajahnya selalu mengingatkan Mama pada pengkhianatan Papa kalian." Air mata mengalir di wajah bu Sarah.
Dito yang memang tidak pernah bisa menerima Dania semakin membenci gadis kecil itu karena telah membuat ibunya tersiksa setiap harinya.
Ia mengepalkan tangannya menahan emosi yang siap meledak.
"Maafkan, Papa. Semua ini memang kesalahan Papa." ucap pak Danang lirih.
"Maaf... maaf... maaf!!! Papa hanya bisa melakukan itu saja! Kenapa Papa masih di sini? Seharusnya Papa sudah pergi dan membiarkan kami bahagia." Dito sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Dito!!! Bicara yang baik dengan papa." Deta membentak adiknya yang sudah berdiri seolah menantang ayahnya.
"Berhenti bersandiwara, Kak. Aku tahu Kakak juga tersiksa dan membenci anak pembawa sial itu. Tapi Kakak selalu mengabaikannya dan membiarkan kebencian itu menggerogoti hati Kakak." Dito bicara dengan berapi-api.
"Aku tidak membenci Dania!!!" sanggah Deta lebih kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kakak membencinya! Lihat saja Kakak selalu memanggilnya dengan namanya bukan adik." Dito menyeringai.
"Aku menyayanginya. Dania itu adikku." Deta bersikeras.
"Itu bukan perasaan sayang, Kak. Kakak hanya merasa berhutang nyawa padanya. Dan itu sudah terbayar lunas selama tiga tahun ini."
Deta menutup telinganya. Ia tak ingin mendengar apapun lagi.
Di balik pintu kamarnya, Dania dapat mendengar perdebatan kedua kakaknya dengan sangat jelas.
"Jadi tidak ada yang menyayangiku?" Dania terisak seraya membekap mulutnya.
***
Semalaman Deta tidak bisa tidur dan terus memikirkan ucapan Dito tentang dirinya yang tidak menyayangi Dania dengan tulus.
Aku memang membencinya saat ia pertama kali datang ke hidupku. Tapi lambat laun seiring dengan berjalannya waktu. Dania menjadi bagian dari hidupku. Dia alasanku untuk tetap menyatukan keluarga ini. Aku ingin ia memiliki keluarga yang bahagia. Aku pikir mama dan Dito akan merasakan hal yang sama. Tapi semakin hari mereka semakin membenci Dania. Apakah sebuah kesalahan untuk tetap menyatukan keluarga ini?
Perasaan bersalah mulai menghinggapi Deta. Karena keegoisannya selama ini, ia memaksa ibunya untuk tetap bertahan dengan seribu luka yang tak kunjung terobati.
Tanpa sadar ia sudah mengabaikan rasa sakit yang di alami oleh ibunya. Ia melupakan semua penderitaan yang di rasakan wanita yang paling mencintainya di dunia ini.
"Mama ...." Satu butir air mata lolos dari pelupuk matanya dan disusul aliran air mata yang cukup deras mengalir dari mata bulatnya.
Aku melupakan rasa sakit mama hanya agar aku tetap bisa memiliki keluarga yang utuh. Aku tidak memikirkan kekecewaan Dito pada papa yang membuatnya semakin menjauh dari papa. Dan Dania ...
Deta terisak semakin keras. Ia segera membenamkan wajahnya di bantal agar tak ada yang mendengar tangisannya.
Dan malam itu, Deta lalui dengan air mata penyesalan yang telah ia tahan selama tiga tahun ini.
***
Keributan yang terjadi malam sebelumnya telah membuka fakta baru dalam hidup Deta.
Ia ingin memperbaiki segalanya. Semua masalah ini disebabkan olehnya. Kehancuran yang memang harusnya terjadi tak bisa ia hindari. Namun dengan menundanya selama ini justru hanya menyebabkan kehancuran yang lebih besar lagi.
Pagi-pagi sekali Deta sudah mengemas barang-barangnya. Ia memutuskan untuk membawa Dania pergi menjauh dari keluarganya.
"Jika memang aku hanya merasa berhutang nyawa pada Dania. Maka, aku harus membayarnya dengan nyawaku!" gumam Deta.
Deta bergegas keluar dari kamarnya. Namun ia tak mendapati satu pun anggota keluarganya.
Ia berjalan menuju kamar Dania. Dan melihat Dania sedang bersiap untuk pergi sekolah.
"Selamat pagi, Dania. Kamu sangat cantik. Sini Kakak rapihkan rambutmu!" Deta mengambil sisir dan duduk di tepi tempat tidur.
Dania mendekat tapi ia hanya mengambil sisir di tangan Deta.
"Tidak perlu.Aku bisa melakukannya sendiri!" ketus Dania.
Deta tersentak mendapati Dania yang bersikap seperti itu padanya.
"Baiklah, Dania sudah besar sekarang." Deta tetap mencoba untuk tenang.
__ADS_1
Ia melihat pantulan wajah cemberut Dania di cermin.
"Kakak ingin mengajak Dania ke rumah nenek. Dania mau, kan?"
Dania hanya diam dan menatap cermin yang memperlihatkan wajah Deta yang sedang duduk di belakangnya.
Tiba-tiba Dania berbalik dan bertanya dengan lirih.
"Kakak ingin membuangku?"
***
Kata-kata Dania membuat Deta sangat terkejut. Bagaimana bisa gadis sekecil Dania bisa berpikir seperti itu.
"Aku ingin membuangnya?" Deta mendengus dan menggelengkan kepala.
Tanpa sadar langkah kakinya terhenti di depan rumah keluarga Sanjaya.
Ia segera masuk dan mendapati anggota keluarga Sanjaya sedang menikmati sarapan mereka tanpa Ricky.
Dimana pak Ricky?
Tatapan Deta menyapu seluruh ruangan mencari sosok yang ia harapkan.
"Selamat pagi semuanya." Deta menunduk sopan dan menyapa semua orang.
"Oowww, Tata. Kenapa kamu di sini? Bukankah kita akan melamarnya nanti siang, Ma?" Refita terkejut melihat Deta yang belum melakukan persiapan untuk lamarannya dengan Ricky.
Sama seperti Refita, seluruh keluarga juga merasa heran dengan kehadiran Deta.
"Tentang lamaran itu ...," kata-kata Deta menggantung.
Ia memainkan tali tas yang ia gunakan karena merasa gugup dan tak tahu harus bicara apa.
"Kenapa, Ta? Kamu menginginkan sesuatu?" Bu Rika menatap Deta yang terlihat ragu untuk berbicara.
Deta menghela nafas dan mengumpulkan keberaniannya.
"Bisakah saya menolak lamarannya?"
"TIDAK BISA!!!"
Tiba-tiba Ricky datang dengan wajah yang penuh amarah.
Hallo semuanya🤗
Salam manis terhangat 😍
Semoga kalian suka ceritanya 🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 kalian di sini ya 👍
I❤U all 😘
__ADS_1