Poros Jodoh

Poros Jodoh
MASIH TERTINGGAL


__ADS_3

'Ricky'


Sebuah nama yang langsung menarik ingatan Deta untuk kembali ke masa lalu. Masa dimana ia memimpikan pangeran dalam negeri dongeng dengan kisah romantis penuh cinta.


Namun, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Pangeran impian yang telah menempati relung hatinya ternyata hanya datang untuk menggoreskan luka di hatinya yang mulai bersemi.


Pandangan Deta kosong, pikirannya menerawang. Segala upaya yang ia lakukan untuk melupakan cinta pertamanya selalu berakhir dengan kekalahan. Ricky tetap saja tinggal di hatinya dan enggan pergi.


"Kamu benar. Aku masih mencintainya. Dan kamu yang sudah mengingatkan aku kembali dengan cinta penuh luka yang aku jalani bersama dengannya." ungkap Deta, aura menantang terpancar jelas di matanya.


Melihat reaksi Deta membuat Angga kesal. Meski sudah lima tahun bersamanya, tapi Angga tak pernah melihat cinta di mata Deta. Ia berpikir waktu akan mengikis rasa cinta Deta pada Ricky, tapi setelah melihat sendiri bagaimana Deta menuangkan rasa cintanya ke dalam buku membuat Angga merasa sudah kalah telak.


"Bagus. Kamu memang tidak berniat melupakannya, kan? Itu sebabnya kamu menulis ini." Angga kembali melemparkan buku yang berada di tangannya ke atas meja. "Untuk mengenang semua kenangan kalian." sambungnya.


"Kamu salah, Ga. Kamu salah!!!" teriak Deta. Kedua tangannya dengan rapat menutup telinganya, tak ingin lagi mendengar tentang kisah masa lalu yang menyakitkan.


Deta memang rapuh, tapi ia tak pernah menangis di hadapan Angga. Ia akan berteriak atau lebih memilih untuk pergi saat kemarahan memenuhi hatinya.


Berbeda dengan perasaannya saat sedang bersama Ricky. Entah kenapa Deta selalu merasa ingin menangis ketika sedang bersamanya. Mungkin kehangatan dan cinta Ricky yang membuat Deta merasa nyaman dan lambat laun bergantung pada pria itu.


Angga merasa bersalah karena sudah mengingatkan Deta tentang rasa sakit yang coba ia lupakan. Dengan langkah pasti Angga mendekati Deta dan mencoba untuk memeluknya.


"Berhenti!" teriak Deta. Pandangan matanya terangkat dan langsung bertemu dengan manik mata Angga. "Jangan lupakan batasanmu!" lanjutnya.


***


Dentingan dream catcher terasa menyejukkan telinga ketika tertiup angin yang berhembus. Deta sengaja menggantungnya di jendela untuk mencegah mimpi buruk. Benar atau tidaknya, Deta sendiri tidak yakin karena terkadang ia sering memimpikan hal-hal yang menakutkan baginya.

__ADS_1


Setelah berdebat dengan Angga di ruang kerjanya, Deta memilih untuk menenangkan dirinya di dalam kamar. Seperti yang biasa ia lakukan. Semua itu demi untuk menjaga ketenangan dan kenyamanan di rumah ini.


Deta menarik laptopnya dan mulai menulis sesuatu, tapi ia kembali menghapusnya. "Ini tidak bagus." gumamnya. Jari-jemarinya kembali menuliskan sesuatu. Namun, kembali ia menghapusnya.


"Aaarrgghhh, kenapa otakku jadi stuck (buntu) seperti ini?" keluh Deta, kesal dengan pikirannya yang tidak bisa di ajak kerja sama.


Deta menutup laptopnya dan beralih memainkan ponselnya untuk berselancar di media sosial pribadi miliknya. Sebenarnya Deta sudah menghapus semua akun sosial pribadinya, tapi karena tuntutan pekerjaan ia kembali membuka akunnya dengan nama yang baru. Dengan begitu, tidak ada yang bisa mengenalinya.


"Ah, kalian ini!" dengus Deta, ia baru saja membaca satu persatu komentar di laman pribadi miliknya.


Tangan Deta berhenti bergerak, matanya membulat sempurna. Ia baru saja singgah di akun sahabat lamanya. Syafitri. "Dia akan menikah? Syafitri akan menikah? Astaga!!!"


Deta terlihat sangat antusias, melebihi antusiasme sang pengantin. "Selamat, Syafitri. Semoga kamu hidup bahagia bersama ...," Deta kembali menatap layar ponselnya. Ia memicingkan matanya. "Aku seperti pernah bertemu dengan pria ini." sambungnya dengan mengerutkan dahi.


Deta tidak tahu jika Syafitri akan menikah dengan Jerry, temannya Ricky. Sikap acuh Deta membuatnya tidak mudah mengingat wajah orang lain jika hanya satu kali bertemu. Jerry sebenarnya datang pada acara pernikahannya dengan Ricky, tapi karena insiden itu Deta tidak memperhatikan siapa saja yang datang pada hari itu.


Deta kembali berselancar dan mulai mengklik salah satu akun yang secara rutin ia ikuti perkembangannya. "Mari kita lihat, sejauh mana pencapaianmu!"


Garis bibir Deta melukiskan senyuman dan guratan bahagia terlihat jelas di matanya. Pria yang dulu ia cintai kini telah berubah. Pria yang sangat tidak suka di foto, tapi kini fotonya tersebar dimana-mana. Bahkan wajah tampan itu pernah menjadi sampul majalah bisnis ternama.


Satu yang sangat Deta sayangkan, ia tak lagi melihat kehangatan dan keramahan yang terpancar dari mata pria itu. Ricky kini telah berubah. Ia menjadi pebisnis muda yang sukses. Ricky Sanjaya sudah menerima mahkotanya dan menjalankan bisnis sang ayah dengan sangat baik. Kerajaan bisnis yang ia bangun saat ini bahkan lebih besar dari pada yang di miliki oleh pak Firman Sanjaya.


"Kamu menjalani hidupmu dengan sangat baik. Aku bangga padamu. Setidaknya, kita berdua bisa menjalani hidup kita dengan tenang." tutur Deta, jemarinya mengusap layar ponsel yang menampilkan wajah Ricky.


"MOMMY!!! MOMMY!!!" Suara Rayyan mengejutkan Deta, dengan cepat ia menyembunyikan ponselnya di bawah bantal.


"Yes, Darling. What do you want (apa yang kamu inginkan)?" tanya Deta, ia langsung mengangkat tubuh kecil Rayyan dan menciumi pipi bulatnya.

__ADS_1


"I want to eat with you (aku ingin makan bersamamu)." jawab Rayyan, matanya penuh harap. Membuat Deta tak bisa menolaknya.


"Ok, let's go!" ucap Deta, kemudian keluar dari kamarnya dan menuju meja makan. Ternyata, Angga dan Dania sudah duduk dengan tenang disana.


"Duduklah disini, Rayyan." Deta menurunkan Rayyan pada kursi yang bersebelahan dengan Angga, kemudian ia pun duduk di sebelahnya.


Mereka berempat makan dalam keheningan, tidak ada yang berbicara sedikit pun. Keadaan seperti ini memang bukan hal yang baru di rumah ini. Setiap kali Deta melakukan kesalahan, seluruh penghuni rumah akan terdiam karena tidak tahu harus melakukan apa.


Tiba-tiba langkah kaki asisten Angga terdengar dan langsung menarik perhatian semua orang.


"Selamat malam, Nyonya." sapa asisten Angga pada Deta yang menatapnya sekilas.


"Malam, Dhirgam. Kamu sudah makan? Ayo, kita makan bersama!" ajak Deta. Namun, langsung di tolak oleh Dhirgam.


"Terima kasih, Nyonya, saya baru saja selesai makan malam." jawab Dhirgam. Ia beralih menatap Angga yang tidak bergeming sedikit pun. "Tuan, ada yang ingin saya bicarakan. Tentang perusahaan dan tuan Sanjaya." bisik Dhirgam dengan sedikit membungkukkan badannya.


Dhirgam adalah asisten pribadi Angga sejak ia mulai mengurus perusahaan yang di tinggalkan ayahnya. Sosok pria bertubuh tinggi dan kekar itu, sejatinya adalah sosok yang sangat setia dan royal terhadap atasannya.


Angga meletakkan sendok dan garpunya kemudian berdiri untuk meninggalkan meja makan. "Aku sudah selesai. Kalian lanjutkan saja!" ucap Angga, dan langsung berjalan menuju ruang kerjanya.


'Apa yang terjadi? Kenapa Angga terlihat sangat gelisah.' batin Deta.


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa jempol 👍 dulu sebelum atau sesudah membaca karena tap jempol itu gratis kok dan gak makan waktu lama 😁


Jangan lupa juga tinggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇 dan juga vote 👈 sebagai mood booster bagi author amburadul kesayangan kalian ini 😍

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2