Poros Jodoh

Poros Jodoh
POLOS ATAU BODOH


__ADS_3

"Kak, siapa laki-laki yang tadi itu?" tanya Dito untuk yang kesekian kalinya.


Sejak masuk ke dalam rumah, Dito terus mengekori Deta. Ia terus mengikuti kemana Deta melangkah bahkan hingga ke kamar tidur kakaknya dan terus menanyakan hal yang sama.


"Sudah Kakak katakan!!! Pria itu guru Kakak di tempat belajar, namanya pak Angga. Kenapa tadi kamu tidak berkenalan dengannya?" kesal Deta dengan sikap adiknya yang terus menginterogasi dirinya.


"Ada hubungan apa Kakak dengannya?"


"Tidak ada. Hanya sebatas guru dan murid." jawab Deta jujur, karena memang itulah yang Deta rasakan.


"Bo ... hong!!!" Dito memicingkan matanya.


"Aiiisshhh, untuk apa Kakak berbohong? Dan jangan melihat kakak seperti itu! Atau akan Kakak colok mata kamu, Dek!!!" ancam Deta.


Bukannya takut, Dito justru menjulurkan lidahnya untuk mengejek Deta.


Deta yang kesal akhirnya melemparkan bantal ke wajah adiknya yang malah di sambut dengan gelak tawa oleh Dito.


"Astaga!!! Kalian sudah besar tapi masih bertingkah seperti anak-anak." Bu Sarah memungut bantal yang tadi di lemparkan Deta.


"Kakak, Ma, yang melemparkan bantalnya." Dito memojokkan Deta sebelum dirinya kena "semprot".


Deta hanya memberengut tidak mengatakan apapun mendengar ucapan Dito.


"Coba ceritakan!" Bu Sarah duduk di tepi tempat tidur. Di susul oleh Dito yang duduk bersimpuh di bawah tempat tidur dan menyandarkan kepalanya di kaki ibunya.


"Siapa Angga?" Pertanyaan pertama bu Sarah begitu Dito selesai bercerita tentang Angga.


"Kekasih Kakak." Dito menunjuk Deta yang sedang memelototi nya.


"Bukan, Ma," Deta mengibas-ngibaskan tangannya melakukan penolakan.


"Lalu siapa dia?" tanya bu Sarah lagi.


Sebelum Deta menjawab, Dito sudah lebih dulu menyelanya.


"Pasti kekasihnya, Ma, aku lihat tadi pria itu mau mencium Kakak." Dito mengoceh seperti seorang anak sedang mengadukan kenakalan temannya.


Deta yang mendengar perkataan adiknya hanya bisa menganga tidak percaya.


"Kamu jangan mengarang cerita, ya!" Deta ingin sekali menoyor kepala adiknya namun Dito segera menelusupkan kepalanya di kaki bu Sarah.


"Aku serius, Ma, pria itu sudah mendekati Kakak dan akan menciumnya. Tapi Kakak hanya seperti ini." Dito mencontohkan ekspresi wajah Deta yang di lihatnya tadi.


Lagi-lagi Deta hanya bisa menganga tidak percaya dengan apa yang di katakan adiknya.


Bu Sarah yang mendengarkan cerita kedua buah hatinya hanya terdiam kemudian terkekeh dan mencubit pipi Deta.


"Kamu memang sangat polos." ucap bu Sarah sembari mengelus pipi Deta yang di cubitnya tadi.


"Bukan polos tapi bodoh!" celetuk Dito.


***


Malam itu di rumah besar Sanjaya, bu Rika tengah menunggu kepulangan suaminya.


Begitu terdengar deru mobil dari luar rumah, bu Rika bergegas keluar untuk menyambut suaminya.


Di bukanya pintu dan terlihat pak Firman yang setengah kebingungan melihat raut wajah istrinya.


"Ayo, Pa, cepat ke kamar!" Bu Rika menarik lengan suaminya.

__ADS_1


"Sabar, Ma, Papa mandi dulu, ya." Pak Firman mengedipkan sebelah matanya.


"Papa! Bukan itu." Bu Rika yang paham dengan kode suaminya segera meluruskan tindakannya.


"Lalu?" Pak Firman menaikkan sebelah alisnya. Mengingatkan bu Rika dengan kebiasaan putranya saat menuntut penjelasan.


Tanpa mengatakan apapun, bu Rika langsung menyeret suaminya ke kamar dan menutup pintu.


"Papa tahu tidak?" tanya bu Rika setengah berbisik.


Pak Firman yang bingung dengan tingkah istrinya tetap menjawab. "Tentu tidak, Ma,"


Bu Rika terkekeh mendengar nada bicara suaminya.


"Tadi siang saat Papa menelpon, Mama melihat ...," Kalimat bu Rika belum selesai karena suaminya berdecak.


"Apa?" tanya bu Rika tanpa bersuara.


"Ya ampun, Ma!!! Kenapa berbisik seperti itu?Kita ini di dalam kamar, tidak akan ada yang mendengar." keluh pak Firman. Kemudian bu Rika mengangguk dan tertawa.


"Mama mau bicara apa?" Bu Rika sudah akan berbicara. "Tapi jangan berbisik!" sambung pak Firman.


"Tadi siang saat Mama menelpon Papa dan Mama terkejut. Papa ingat?" Pak Firman mengangguk. "Saat itu Mama melihat Ricky sedang merangkul Deta di dapur," lanjutnya.


"Benarkah? Mama tidak salah lihat?" Pak Firman memegang kedua bahu istrinya. "Papa akan segera punya menantu lagi." sambung pak Firman kemudian langsung memeluk istrinya.


"Belum tentu, Pa," Suara bu Rika hampir tertelan di dalam pelukan pak Firman yang erat.


Pak Firman melepaskan pelukannya dan menatap wajah istrinya.


"Kenapa? Mama tidak setuju?" Pak Firman menatap bola mata istrinya mencari jawaban.


Bu Rika menggeleng.


"Tapi apa?" Pak Firman terlihat tidak sabar.


"Mama takut Ricky hanya bermain-main, Pa," Kekhawatiran terlihat jelas di wajah bu Rika.


"Apa Mama pikir kita sudah membesarkan seorang anak yang brengsek?" Pak Firman bertanya dengan penuh keyakinan.


Bu Rika menatap suaminya, ragu untuk menjawab.


"Ricky tidak akan menyentuh wanita yang tidak dia sukai, Ma, dan itu menurun dari Papa." ucap pak Firman percaya diri.


Mendengar kenarsisan suaminya membuat kekhawatiran bu Rika perlahan memudar.


"Tapi, apa Papa setuju?"


"Kenapa tidak?"


"Deta hanya seorang pelayan, Pa,"


"Lalu?"


"Papa tidak malu?" Sebenarnya bu Rika merasa malu dengan pertanyaannya tapi dia harus menyingkirkan semua rintangan yang mungkin dapat menghalangi kebahagiaan putranya.


"Tidak." jawab pak Firman yakin dan hal itu membuat bu Rika terkejut.


"Tidakkah Papa ingin menantu yang kaya raya. Setidaknya yang sederajat dengan kita?" Semakin malu bu Rika karena sudah mengkotak-kotakkan status orang lain.


"Untuk apa? Uang Papa sudah banyak, Ma, Papa tidak memerlukan menantu yang kaya. Lagipula, jika Papa mendapatkan menantu yang kaya raya, dimana lagi Papa akan menyimpan semua harta papa? Hahahaha ...."

__ADS_1


Bu Rika bernafas lega. 'Syukurlah.'


***


Pagi itu, bu Rika meminta Deta untuk datang lebih awal dan membantunya menyiapkan sarapan pagi.


Setelah semuanya siap, Deta mengetuk pintu kamar bu Rika untuk memberitahunya.


"Maaf, Bu, sarapannya sudah siap." Deta menunduk begitu bu Rika membuka pintu.


"Iya, terima kasih, Deta. Tolong panggilkan Fita dan Yoga."


"Baik, Bu," Deta hendak berbalik, namun bu Rika memberikan perintah lain. "Tolong buatkan susu untuk Ricky!"


Deta tersenyum dan mengangguk.


Sementara Deta memanggil Fita dan membuatkan susu, bu Rika berjalan ke kamar tidur Ricky.


"Sayang ... ayo, sarapan!"


"Iya, Ma," Terdengar suara dari dalam kamar.


Tidak lama kemudian pintu terbuka dan muncullah Ricky yang sudah berpakaian rapih dan tampan dengan kemeja putih dan celana abu-abu. Di tangannya menggantung jas dengan warna senada.


"Kenapa tidak di pakai?" Bu Rika melirik jas di tangan Ricky.


"Tidak terbiasa, Ma," Ricky nyengir menampakkan deretan giginya.


"Biasakan!" ucap bu Rika seraya merapihkan kerah kemeja Ricky yang sebenarnya sudah rapih.


Mereka berjalan menuju meja makan. Di sana sudah ada pak Firman yang sedang menyeruput kopi.


Bu Rika duduk di sebelah kiri suaminya dan Ricky duduk berhadapan dengan bu Rika. Tidak lama datanglah Fita dengan suaminya.


"Dimana susu Ricky, Ma?" tanya Ricky ketika tidak melihat "minuman wajibnya" di pagi hari.


"Iya sebentar, Sayang, Itu sudah datang." Bu Rika menunjuk ke arah belakang Ricky.


Disana, Deta berjalan mendekat dan sedang memegang susu hangat untuk Ricky.


"Selamat pagi, Pak, silahkan!" sapa Deta pada Ricky ketika meletakkan gelas susu tepat di hadapan Ricky.


Ricky menoleh untuk melihat wajah Deta, namun gadis itu terlihat tidak memperdulikan kehadiran Ricky.


'Apa-apaan ini? Bagaimana bisa dia terlihat biasa saja padahal kemarin dia sangat gugup dan ketakutan?


Sial!!!


Kenapa jantungku terus bersorak? Bagaimana kalau dia mendengar nya?


Diamlah!!!'


Ricky terus menatap Deta tanpa berkedip.


Bu Rika dan pak Firman saling berpandangan melihat hal itu .


Apakah ini cinta bertepuk sebelah tangan???


Hallo semuanya🤗


Semoga kalian suka ceritanya 🥰

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak👣 kalian ya biar aku lebih semangat upnya 😘


__ADS_2