
"Apa kamu yakin?" tanya Angga, suaranya bergetar karena menahan emosi. Dhirgam baru saja menyampaikan kabar buruk padanya.
"Iya, Tuan, saya sudah memastikannya sendiri. Beberapa anak perusahaan kita telah di akuisisi oleh perusahaan Sanjaya. Saham Pratama juga anjlok, Tuan. Mereka bergerak dengan sangat cepat." tutur Dhirgam.
"Sialan kamu, Ricky. Kamu ingin menjatuhkanku? Baik. Kita lihat siapa yang lebih hebat!" ucap Angga berapi-api. "Siapkan jadwal keberangkatanku, kita akan kembali untuk memenuhi undangannya." titah Angga pada Dhirgam, yang langsung menganggukkan kepalanya.
"Kamu mau kemana?" Tiba-tiba Deta muncul dari balik pintu dengan wajah penuh curiga.
"Aku ada urusan bisnis." elak Angga, matanya memberi kode pada Dhirgam untuk meninggalkan mereka berdua.
"Benarkah? Kapan kamu akan pergi?" selidik Deta, ia menaruh curiga pada sikap Angga yang sedikit berbeda.
"Besok. Pagi-pagi sekali aku akan berangkat." jelas Angga, ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Berapa lama?" Deta duduk di kursi yang berhadapan dengan Angga.
Angga mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Deta. Biasanya Deta tidak pernah memperdulikan berapa lama ia pergi, tapi kini ia menanyakannya dengan tatapan yang penuh curiga.
"Aku pergi untuk urusan bisnis. Aku tidak akan mencari wanita lain." lontar Angga di barengi senyuman mengejek.
"Huh, aku tidak ada masalah dengan hal itu. Aku hanya bertanya karena aku juga akan pergi. Jika kita berdua pergi, siapa yang akan menjaga Rayyan?" tutur Deta.
"Kapan kamu akan pergi? Dan kemana?" Kali ini Angga yang bertanya dengan penuh kecurigaan.
"Minggu depan. Aku akan kembali ke kota xx untuk menghadiri acara pernikahan Syafitri." jawab Deta santai, merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya.
Angga sangat terkejut mendengar jawaban Deta, tapi wanita cantik itu tetap duduk dengan tenang di kursinya.
"Alasan. Itu hanya alasanmu saja, kan? Aku tidak memberimu izin untuk pergi" sergah Angga yang mana membuat Deta jengah.
"Terserah. Aku memberi tahumu bukan meminta izin darimu." ucap Deta masih penuh ketenangan. Ia bahkan belum beranjak dari kursinya.
__ADS_1
Suasana mencekam mulai terasa kembali saat Angga tiba-tiba menekan kedua tangannya di kedua sisi kursi yang Deta duduki. "Kamu ingin menemuinya?" tanya Angga penuh penekanan.
Deta menatap bola mata Angga. "Apa aku terlihat semurahan itu?"
"Tidak. Hanya saja, hatimu tidak bisa di percaya." sinis Angga, ia menegakkan tubuhnya dan bersandar di pinggiran meja.
"Aku sudah bertahan selama lima tahun. Dan aku yakin bisa bertahan selama beberapa hari disana. Lagi pula, aku datang untuk menghadiri pernikahan temanku bukan untuk kembali kesana." jelas Deta, ia mencoba meyakinkan Angga dan juga dirinya sendiri.
"Itu pilihanmu." jawab Angga akhirnya.
***
Ricky masih terus meracau ketika Jerry dan Nino memapah tubuhnya yang sudah lemah karena mabuk berat.
"Kenapa kamu pergi, Sayang? Apakah kamu tidak mencintaiku? Aku juga bodoh karena tidak pernah mengungkapkan perasaanku padamu." gumam Ricky, matanya sudah merah karena pengaruh alkohol.
Nino yang sebelumnya mabuk, terpaksa harus tersadar karena sahabatnya lebih banyak minum dari pada dirinya.
Hanya Jerry yang masih sadar sepenuhnya di antara mereka bertiga. 'Pria-pria kesepian.' batin Jerry.
***
"Ini semua surat akuisisi beberapa anak perusahaan milik Pratama, Pak," Gibran meletakkan beberapa berkas di atas meja kerja Ricky.
Ricky tidak merespon sedikit pun ucapan Gibran, matanya sibuk menatap langit yang mendung dari balik kaca kantornya. "Apa dia hidup bahagia di sana?" lirihnya.
Gibran hanya menatap nanar pada atasannya yang kini terlihat sangat rapuh. "Nona Riady pasti hidup dengan baik, Pak."
"Aku harap begitu. Jika tidak, keluarga Pratama harus mencari pewaris bagi keluarga mereka." lontar Ricky, di iringi seringai jahat yang kini sering menghiasi wajahnya.
"Apa kamu sudah menemukan hadiah apa yang tepat untuk pernikahan Jerry?" tanya Ricky, ketika ia memutar kursinya menghadap Gibran yang berdiri di balik mejanya.
__ADS_1
"Sudah, Pak," jawab Gibran pasti.
"Baiklah." ucapnya. 'semoga pernikahan mereka berjalan dengan lancar.' harap Ricky tulus di dalam hatinya.
***
"Mommy, whele ale you going (kemana kamu akan pergi)?" tanya Rayyan, ia langsung membuat keributan ketika mengetahui Deta akan pergi.
Deta menghela nafasnya. "Aku harus pergi sebentar untuk menghadiri pernikahan temanku, Darling, dan saat kamu membuka mata di pagi hari aku sudah berada di rumah ini lagi."
Rayyan mendengarkan Deta dengan seksama, bocah tampan itu belum terlalu paham dengan bahasa yang di gunakan Deta. Hanya Deta dan Dania yang tidak menggunakan bahasa asing saat bicara dengannya.
"Ale you sule (apa kamu yakin)?" tanya Rayyan lagi, ia ingin memastikan jika Deta pergi hanya untuk sesaat.
"Ya, I am sure, Darling (aku yakin, Sayang)." Senyuman mengembang di wajah Deta.
"But (tapi) -"
"Listen to me (dengarkan aku)!" Seketika bocah menggemaskan itu memasang wajah seriusnya. "Jangan nakal dan jangan merepotkan bibi pengasuh!" sambung Deta.
"Plomise (janji)." ucap Rayyan.
"Bakpao." celetuk Deta, ketika ia menciumi pipi bulat Rayyan.
Hallo semuanya ๐ค
Jangan lupa jempol dulu ๐sebelum atau sesudah membaca karena tap jempol itu gratis dan gak makan waktu yang lama ๐
Jangan lupa juga tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ๐ dan juga vote ๐ sebagai mood booster bagi author amburadul kesayangan kalian ๐
I โค U Readers kesayangan kuhh
__ADS_1