
Hari itu menjadi hari yang sangat membingungkan bagi Deta.
Ia merasa bahwa Ricky sedang menarik ulur perasaannya. Sebelumnya pria itu memaksa untuk menikahinya. Tapi setelah "bermalam" dengannya, dengan mudahnya Ricky mengatakan akan memikirkan kembali untuk menikahinya.
Dan kini, dengan penuh keyakinan pria itu mengatakan akan menikahinya.
'Apa ini? Apakah aku benar-benar mainan baginya**?'
"Dan kamu!!! Kenapa kamu mau saja di permainkan olehnya?" Deta menunjuk dadanya.
Bagi Deta yang paling bersalah untuk semua hal rumit yang menyiksanya belakangan ini adalah hatinya.
Deta kehilangan semangatnya untuk bekerja. Ia meletakkan sapu yang ia pegang dan duduk di lantai bersandar ke dinding.
Hal biasa yang ia lakukan saat dirinya merasa lelah atau sedang tidak ingin melakukan apapun seperti saat ini.
Samar-samar suara langkah kaki terdengar berjalan menuju ke arahnya.
"Kamu lelah? Sudah aku katakan berhentilah! Aku akan menanggung semua kebutuhanmu." ucap Ricky.
Ricky menghampiri Deta yang sedang duduk berselanjar kaki di dapur. Tanpa ragu ia duduk disamping Deta dengan posisi yang sama. Namun, sebelah lututnya terangkat ke atas dan di gunakan untuk menopang sebelah tangannya.
"Bisakah saya bertanya apa yang sedang anda lakukan, Pak?" Pertanyaan basa-basi yang terlontar dari mulut Deta.
Ricky menoleh tanpa merubah posisi duduknya.
"Ingin mengenalmu lebih jauh." jawabnya.
Terdengar Deta mendengus dan melemparkan pandangannya ke arah lain.
"Aku serius. Aku ingin mengenalmu lebih jauh dan lebih dekat. Karena aku hanya akan menghabiskan sisa hidupku bersamamu." Bisik Ricky di telinga Deta.
Seketika Deta merasakan bulu kuduknya berdiri. Bisikan Ricky terasa seperti sebuah sentuhan yang membuatnya merasakan sesuatu yang aneh.
"Sepertinya anda sangat lihai menggoda wanita, Pak." Sinis Deta seraya menambah jarak antara dirinya dengan Ricky.
"Benarkah? Itu artinya kamu sudah mulai tergoda dengan pesonaku." Ricky terkekeh dan melihat Deta yang sudah mulai kesal.
"Tidak sama sekali!!!" Deta segera bangkit dan berniat untuk menjauhi Ricky sejauh-jauhnya.
"Mau kemana, Sayang?" Dengan cepat Ricky menahan lengan Deta.
__ADS_1
"Menghindari Anda." ketus Deta dan mencoba menarik lengannya.
"Menghindariku? Untuk berapa lama?" Kali ini Ricky ikut berdiri tanpa melepaskan lengan Deta yang terus berontak.
"Selamanya!!!" Kilatan amarah terlihat sangat jelas di mata bulat Deta.
Ricky tersenyum sinis.
'Cih!!! Dia selalu berlindung di balik kemarahannya.'
"Lalu bagaimana dengan bibit yang telah aku tanam?" Senyuman nakal tertarik di sudut bibir Ricky.
Hal yang di katakan Ricky membuat Deta berhenti memberontak dan kini fokus menatap pria di hadapannya.
'Apakah benar yang dia katakan**?'
Deta menyentuh perutnya yang rata dan mengusapnya lembut.
'Kamu sudah masuk perangkap cintaku, Deta sayang.'
Ricky menyeringai memikirkan taktiknya untuk mengelabui Deta telah berhasil.
"A-Apa yang anda lakukan, Pak? To-Tolong lepaskan sa-saya!" Deta terbata karena menahan ketakutannya.
"Akan aku lepaskan, tapi setelah kamu menerima lamaranku."
Ricky sudah hampir mempertemukan bibirnya dengan bibir Deta yang sudah menjadi candu baginya.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Dengan sekali dorong Deta berhasil menjauhkan tubuhnya dari Ricky.
"Wanita yang sudah di beri bibit ternyata jauh lebih kuat." Goda Ricky yang membuat wajah Deta memerah karena malu sekaligus marah.
***
Bel rumah berbunyi berkali-kali. Menandakan sang tamu sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan pemilik rumah.
Di rumah itu hanya tinggal Ricky dan Deta. Pak Firman dan bu Rika sudah keluar rumah setelah insiden yang terjadi di ruang kerja pak Firman.
Sedangkan Ricky, entah apa yang ia lakukan hingga ia masih berada di rumah hingga sesiang itu.
Deta segera membuka pintu dan terlihat seorang wanita yang bertubuh tinggi dan langsing layaknya seorang model.
__ADS_1
Wanita itu menggunakan kacamata hitam yang menutupi matanya. Melihat orang yang membukakan pintu terlihat asing baginya, wanita itu lantas membuka kacamatanya dan memperlihatkan matanya yang sipit.
'Matanya seperti mata Dania.'
Deta teringat dengan adik kecilnya.
"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" Deta tersenyum sopan.
"Hai, aku mencari Ricky. Apa dia ada di dalam?" Wanita itu mencoba mencuri lihat ke dalam rumah.
"Maaf Anda ini siapa?" Deta memicingkan matanya.
"Oh iya, kenalkan aku Mika." Wanita itu menjulurkan tangannya untuk berkenalan.
'Mika???'
Belum sempat Deta berkenalan dengan Mika. Terdengar suara Ricky di belakangnya.
"Siapa yang dat-"
"Aku!!!" Wanita itu berjalan masuk melewati Deta yang masih berdiri memegangi pintu.
"Mika???" Ricky tak dapat menutupi keterkejutan nya melihat kedatangan Mika ke rumahnya.
Dan yang lebih mengejutkan lagi. Mika tiba-tiba saja memeluk Ricky.
"Kamu berbohong. Kamu menipuku." celoteh Mika sembari memukul dada bidang Ricky.
Deta yang menyaksikan dengan jelas semua hal itu merasakan tubuhnya tiba-tiba membeku dan lidahnya terasa kelu.
'Wanitanya sudah datang dan aku hanya sang penghibur yang akan di buang sebentar lagi.'
Batin Deta nelangsa.
***
Hallo semuanya๐ค
Semoga kalian suka ceritanya ๐ฅฐ
Jangan lupa tinggalkan jejak ๐ฃ kalian di sini ya ๐ Di tunggu like ๐ , rate dan votenya yaaa readers kesayanganku ๐
__ADS_1