
"Hellooo ... apakah ada nyawa di sana?" Angga menaik turunkan tangannya di depan wajah Ricky .
Sejak kembali dari dapur tadi, Ricky terlihat tidak fokus. Hal itu membuat Angga merasa curiga.
"Nyawaku sedang berjala-jalan!" ketus Ricky sembari menepis tangan Angga dan Angga pun terkekeh.
"Ada apa?" tanya Angga seraya meneguk minumannya.
Ricky menghembuskan nafas kasar, "tidak ada." ucap Ricky lemah bahkan hampir tak dapat di dengar oleh Angga.
Ricky menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dan memejamkan matanya.
"Ga?"
"Iya?" Angga memandang Ricky yang masih terpejam.
"Bagaimana rasanya jatuh cinta?"
Angga terlihat bingung sekaligus terkejut mendengar Ricky menanyakan hal seperti itu.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Hanya iseng saja,"
"Lalu, kenapa bertanya padaku?"
Ricky membuka matanya dan menegakkan tubuhnya untuk menatap Angga. Di lihatnya Angga yang masih kebingungan.
"Cih!!! Jangan berpura-pura polos di hadapanku! Di antara kita bertiga, kamu yang paling mengerti apa itu cinta." umpat Ricky.
Angga tersenyum sinis.
'Benar! Akulah yang paling mengerti rasanya sakit hati.'
***
Deta memasuki rumahnya dengan senyum penuh kebahagiaan. Dia berpikir akan membawa Dania jalan-jalan karena ia sudah mendapatkan upahnya bulan ini.
Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Deta melihat Dania sedang menangis di sudut ruangan dan terlihat Dito mengangkat tangannya ke atas.
"Dito!!!" Deta langsung mendekati Dito dan menurunkan tangannya.
"Kamu pukul Dania?" Nafas Deta tersengal-sengal karena menahan amarah.
Dito memalingkan wajahnya, enggan menjawab atau pun menatap Deta.
"Jawab, Dek!" suara Deta melemah.
Karena Dito tak juga menjawabnya, Deta bergerak ke arah Dito menatap agar bisa melihat wajahnya.
Lagi-lagi Dito memalingkan wajahnya. Dengan kesal Deta memegangi wajah Dito dengan kedua tangannya.
"Jawab, Dek! Kamu pukul Dania?" Deta menatap mata Dito. Mencoba mencari jawaban di sana.
__ADS_1
"Anak itu seharusnya mendapat lebih dari sekedar pukulan!!!" teriak Dito.
Plaakkk!!!
Tangan Deta mendarat di wajah Dito. Deta terkejut dengan apa yang ia lakukan, ia menatap telapak tangannya yang memerah.
Tersadar apa yang telah ia lakukan salah, Deta mencoba menyentuh pipi Dito tapi tangannya langsung di tepis oleh adiknya itu.
"Demi dia!!!" Dito menunjuk Dania yang terlihat gemetar karena ketakutan.
"Demi dia kakak bahkan menampar aku!!!" Dito berteriak namun kali ini di barengi air mata yang mengalir dari mata dinginnya.
"Maaf, Dek, Kakak tidak bermaksud ...."
"Sudahlah. Kakak selalu membela anak pembawa sial ini!!!" Dito sudah akan mendekati Dania tapi tangannya di tahan oleh Deta.
Dito menoleh dan melihat Deta yang samar-samar menggelengkan kepalanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan tangis.
"Ada apa ini?" Terdengar suara yang sangat familiar bagi mereka bertiga.
"Papa!" Dania berlari memeluk ayahnya.
"Urus anak papa itu! Jangan hanya bisa menyusahkan saja!!!" Dito berlalu menuju kamarnya.
BRAAKKK!!!
Dito membanting pintu kamarnya dengan keras , membuat Deta dan ayahnya bertatapan.
Tanpa Deta inginkan, satu butir air lolos dari pelupuk matanya.
***
Danang Riady adalah seorang pengusaha yang cukup sukses. Dia memiliki satu orang putri yang sudah mulai beranjak dewasa dan seorang putra yang masih remaja.
Dan istrinya, Sarah Riady. Ia adalah seorang ibu rumah tangga yang kesibukannya hanya mengurus kedua buah hatinya.
Kehidupan mereka sangat sempurna, walau jauh dari kemewahan tapi mereka hidup dengan bahagia.
Hingga suatu hari datang seorang wanita tua yang membawa seorang gadis kecil berkulit putih bersih dan bermata sipit.
Wanita tua itu mengatakan bahwa ibu anak ini telah tiada dan memintanya membawa anak ini kepada ayahnya. Yaitu Danang Riady. Ayah Deta dan Dito.
Sejak saat itu. Tidak ada lagi Deta si pemalas. Tidak ada lagi bu Sarah yang penuh kelembutan. Dan Tidak ada lagi Dito si anak aktif dan ceria.
***
"Ini semua salah Papa, Kak." Wajah pak Danang tertunduk di hadapan putrinya.
Deta tidak tahan melihat ayahnya kehilangan wibawanya seperti ini.
Di genggamnya kedua tangan ayahnya. "Pa, semua orang pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya. Tapi tidak semua orang mau mengakui kesalahannya. Dan papa... "Deta memaksakan senyumnya. "Papa pria hebat yang mau mengakui kesalahan dan mau memperbaikinya."
Pak Danang menatap putrinya. Berpikir betapa beruntung ia memiliki putri seperti Deta. Kalau bukan karena Deta, mungkin ia sudah kehilangan keluarganya juga putri kecilnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Kak." Di belainya rambut panjang Deta.
Deta yang merindukan perlakuan ayahnya yang seperti itu, tak kuasa lagi menahan bendungan air matanya.
"Deta sayang Papa." Deta memeluk ayahnya sambil terisak seperti Dania ketika di marahi Dito.
***
Kak Dito tidak salah, Kak. Dania yang nakal. Dania main api. Kak Dito bilang nanti kebakaran.
Tapi kak Dito tidak memukul Dania, Kak.
Kakak harus minta maaf.
Perasaan bersalah langsung memenuhi rongga dada Deta begitu Dania menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.
Selama ini, Deta tidak pernah marah apalagi sampai memukul adiknya itu. Pantas saja kalau Dito terlihat sangat kecewa dengan perlakuan Deta tadi.
'Dania benar. Aku harus meminta maaf.' pikirnya.
Malam itu, sebelum pergi tidur Deta mencoba mengetuk pintu kamar tidur Dito.
Dito membukakan pintu tapi hanya menatap Deta tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Kakak boleh masuk?" Senyum hangat dan ceria khas milik Deta sudah terlukis di wajahnya.
Namun Dito tak bergeming. Bahkan raut wajahnya pun tak terbaca.
Tapi Deta tetap memaksa masuk tanpa menunggu izin pemilik kamar.
"Dek, kamu ingat dulu waktu kita kecil. Mama dan papa menempatkan kita di satu kamar dengan ranjang tingkat. Kamu ingat, kan?" Deta bertanya dengan antusias. Namun Dito tetap tak bereaksi.
"Kamu suka sekali menyuruh Kakak tidur di ranjang atas alasannya kamu takut jatuh. Padahal kamu hanya mengerjai Kakak karena kamu tahu Kakak takut ketinggian." Deta mencoba tertawa namun tidak di hiraukan oleh Dito.
"Tapi sekarang, kita memiliki kamar masing-masing, ya? Memiliki privacy masing-masing." Deta duduk di sisi tempat tidur Dito dan mengusap-usap sisi sebelahnya.
Melihat Dito yang masih tetap diam melihat tingkah Deta, membuat Deta menarik nafas dalam.
Deta bangkit dan menghampiri Dito yang masih berdiri di ambang pintu dan menatap kakaknya itu dengan kesal.
'Kakak fikir aku bisa di bujuk seperti itu?' Batin Dito merasa jengah melihat kelakuan kakaknya.
"Kakak minta maaf ya, Dek," Deta menatap adiknya dengan wajah memelas.
"Untuk apa?" Akhirnya Dito bersuara.
"Untuk semuanya. Maaf Kakak tidak percaya sama kamu. Maaf Kakak tidak mau mendengarkan kamu. Dan maaf kalau kakakmu ini terlalu imut." Deta bicara dengan wajah yang serius.
Mendengar kakaknya yang begitu percaya diri, membuat Dito tak bisa lagi marah kepada kakaknya itu.
Dito mendengus kemudian tersenyum.
Hallo semuanya 🤗
__ADS_1
Semoga kalian suka ceritanya 🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 kalian disini berupa like 👍, comment, rate, dan vote 🤭