
Malam itu, Ricky memutuskan untuk menginap di hotel terdekat karena ia merasa sedikit lelah untuk berkendara.
"Pak ... kenapa kita ke sini?" Wajah Deta mulai memucat.
Melihat raut wajah Deta yang mulai panik membuat Ricky tersenyum geli. Muncul sedikit niatan untuk mengerjai gadis itu. Di raihnya tangan Deta dan menuntunnya menuju meja resepsionis.
"Selamat malam, Pak," sapa seorang wanita cantik yang berdiri di belakang meja resepsionis.
"Malam, saya ingin memesan kamar untuk berbulan madu." Ricky menoleh ke arah Deta yang sudah membelalakan matanya.
Rasanya kerongkongan Deta tercekat seperti ada yang tersangkut di sana.
"Sa- Saya perlu ke toilet, Pak," Deta menundukkan kepalanya, tak berani menatap Ricky dan kembali menjadi dirinya seperti saat mereka pertama bertemu.
"Perlu aku antar?" Ricky menawarkan diri.
"Tidak!!!" Deta menarik tangannya yang di genggam oleh Ricky kemudian berjalan menuju toilet.
Ricky yang belum sepenuhnya memahami sifat Deta, merasa sedikit bingung. "Biarlah," gumamnya.
"Saya ingin dua kamar yang bersebelahan." Ricky kembali bicara dengan resepsionis.
"Maaf, Pak, tidak jadi kamar ...."
"Tidak. Kami belum menikah. Saya hanya ingin mengujinya saja." Ricky tersenyum, membuat wanita itu terpesona.
***
'Apakah pak Ricky benar-benar ingin melakukannya? Tapi kami belum menikah. Aku bahkan belum mengatakan apapun pada mama dan papa. Apa yang harus aku lakukan???'
Deta memandangi dirinya di cermin. Memperlihatkan matanya yang masih terlihat sembab, dan juga bibirnya yang terlihat lebih sensual.
"Apakah ini karena ciuman pak Ricky?" Deta menyentuh bibirnya.
"Tidak... tidak... kamu sangat mesum Deta!" Deta menepuk-nepuk kedua pipinya.
"Siapa yang mesum?" Suara seseorang mengejutkan Deta.
Ternyata, Ricky sudah berdiri di ambang pintu dengan menyandarkan tubuhnya dan tangan yang terlipat di dada.
"Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Deta dingin.
Mencoba untuk tidak menghiraukan Ricky, Deta memutar kran air dan membasuh wajahnya. Ia melihat pantulan wajah tampan Ricky di cermin. Tanpa sadar sudut bibirnya menyunggingkan senyuman.
"Tatap aku secara langsung! Aku disini memang untukmu." Ricky melangkah hendak mendekati Deta.
"Stop!!!" Deta mengangkat telapak tangannya Namun, tetap menghadap ke cermin.
Anehnya sekarang keadaan seperti berbalik, Ricky selalu menuruti semua perkataan Deta. Ia berhenti dan menaikkan sebelah alisnya.
"Ini toilet wanita, Pak, silahkan anda keluar!"
"Tidak tanpamu."
__ADS_1
Deta menghembuskan nafas kasar. "Dasar tuan muda," gumamnya seraya berbalik dan berjalan ke arah pintu.
Ricky yang masih berdiri di sana tersenyum karena mengira Deta berjalan untuk menghampirinya. Namun, harapannya kandas karena ternyata Deta berjalan melewatinya.
"De, kamu marah?" Ricky menahan lengan Deta.
Deta memundurkan langkahnya dan berdiri menyamai Ricky. " Saya tidak memiliki hak apapun di hadapan anda, Pak,"
'Ada apa dengannya? Kenapa dia kembali membeku???'
***
Deta dan Ricky berjalan di koridor hotel tanpa bicara sepatah katapun.
Ricky yang mengira Deta sedang marah kepadanya, takut untuk memulai pembicaraan dan akan memancing pertengkaran.
Sedangkan, Deta merasa gugup karena berpikir Ricky benar-benar memesan satu kamar hotel untuk mereka berdua.
Sampailah mereka di depan kamar dan Ricky menempelkan kartu untuk membukanya.
Tampaklah sebuah kamar dengan ukuran tempat tidur yang cukup besar di lengkapi dekorasi kamar yang di dominasi warna emas. Membuat kesan mewah langsung terpancar begitu melangkahkan kaki ke dalam ruangan itu.
"Maaf, De, kamarnya tidak begitu besar karena hanya kamar ini yang tersisa." Ricky menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur, dan menatap Deta yang masih mengamati seluruh ruangan.
'Ini sudah sangat besar bagiku.' Lagi-lagi jiwa kemiskinan Deta bergetar.
Walaupun dulu keluarganya hidup dengan nyaman, tapi ia tidak pernah menginap di hotel mewah seperti ini sebelumnya.
"Iya, Pak,"Deta baru sadar, jika ia tak sendirian di kamar itu.
"Sini!" Ricky menepuk sisi tempat tidur yang kosong.
"Disini saja." Deta menoleh ke arah sofa besar di sampingnya kemudian duduk di sana dan bersebrangan dengan Ricky.
Mendapat reaksi seperti itu membuat Ricky justru merasa senang. Namun, ia tetap berpura-pura kecewa di hadapan Deta.
'Ternyata dia tidak tergoda ataupun menggodaku. Dia memang gadis yang baik.' Batin Ricky merasa senang.
"Kenapa?" Ricky merubah posisinya menjadi duduk di tepi tempat tidur.
"Tidak apa-apa, saya hanya ingin di sini." Deta memandang ke jendela yang sudah tertutup gordyn.
"Sudah malam. Udara di luar sangat dingin." Seperti memahami apa yang di inginkan Deta, dengan tepat Ricky menebak isi pikirannya.
"Pak, kenapa kita ke sini?Kenapa kita tidak pulang?" Deta memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku lelah."
"Tapi saya ingin pulang."
"Apa kamu bisa menyetir?"
"Tidak."
__ADS_1
"Kalau begitu kita di sini saja malam ini."
"Kenapa anda tidak memanggil asisten anda dan memintanya untuk menjemput kita."
Ricky cukup terkejut mendengar saran Deta, tapi ia mampu menyembunyikan hal itu.
"Apa maksudmu?"
"Saya sering membaca di novel bahwa biasanya orang-orang seperti anda memiliki seorang asisten yang siap bekerja 24 jam untuk bosnya." ucap Deta polos.
Bukannya menjawab, Ricky justru tertawa dan membuat Deta merasa malu karena sudah mengatakan hal itu.
"Ternyata kamu gadis pengkhayal, ya?" Ricky melangkah dan duduk di samping Deta.
"Aku tidak sehebat itu hingga memiliki seorang asisten pribadi. Aku hanya karyawan biasa di kantor."
"Tapi anda kan pewaris keluarga Sanjaya." tanya Deta polos.
Ucapan Deta membuat Ricky mengernyitkan dahinya dan menatap dalam-dalam mata bulat polos yang sedang menatapnya.
"Apakah karena hal itu kamu berada di sini bersamaku saat ini? Karena kekayaan keluargaku?" Nada bicara Ricky mulai terdengar tidak nyaman di telinga Deta.
"Kenapa anda masih bertanya? Bukankah anda yang membuat saya berada di sini? Tanpa bertanya anda membawa saya pergi dan berakhir di hotel seperti ini." Air mata mengiringi setiap kata yang keluar dari mulut Deta.
Ricky tidak mengira jika Deta akan bereaksi seperti itu. Ia merengkuh tubuh Deta dan memeluknya erat.
"Tolong jangan maafkan aku! Aku memang brengsek karena selalu membuatmu menangis." Air mata Ricky ikut menetes di garis wajah maskulinnya.
Sebenarnya bukan ucapan Ricky yang membuat Deta menangis, tapi entah mengapa Deta selalu merasa lemah di hadapan Ricky.
'Air mata ini. Kenapa aku tidak bisa menahannya?' Hati Deta menolak sikap lemahnya itu. Ia terus terisak di pelukan Ricky, hingga merasa lelah dan tertidur tanpa tahu jika air mata Ricky juga keluar karena perasaan bersalahnya.
Menyadari Deta yang sudah tidak bergerak, Ricky melepaskan pelukannya. Di lihatnya Deta yang sudah terlelap.
Ricky langsung mengangkat tubuh Deta dan meletakkannya di tempat tidur. Ditariknya selimut hingga menutupi setengah badan Deta.
Lama Ricky memandangi wajah polos Deta sembari mengusap rambutnya.
"Kenapa kamu selalu menangis bila di dekatku? Apakah aku begitu menyakitimu? Ataukah berada di dekatku begitu menyiksamu? Tapi aku tidak bisa melepaskanmu. Semakin hari aku semakin tertarik padamu. Aku ingin memilikimu untuk diriku sendiri. Apakah aku terlalu serakah? hemm???"
Ricky menciumi tangan Deta. Berharap perasaannya bisa tersalurkan pada gadis yang sedang terlelap di hadapannya itu. Ia terus menatap wajah Deta dan menyadari sesuatu telah terjadi.
"Sepertinya aku sudah benar-benar cinta dan tak ingin jatuh, Detaku sayang. Cup."
Satu kecupan mendarat di kening Deta.
Hallo semuanya🤗
Semoga kalian gak bosen dengan kisah manisnya Deta dan bang Ricky yaa 😘
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 kalian dong biar aku tahu bahwa kalian ada untukku 🌹🥰
Like👍, comment, rate dan vote aku yaa readers kesayangan kuuuhhh 🤗
__ADS_1