
Dito baru saja akan memasuki kamarnya, tapi ia mengurungkan niatnya ketika melihat Dania yang baru saja menaiki tangga dengan wajah lesu.
"Hei, ada apa ini?" tanya Dito, ia langsung menghampiri adiknya.
Dania yang sedang sedih pun langsung memeluk kakaknya. "Kak? Apa aku dan kak Deta akan tinggal di sini?"
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Dito bingung karena ia sendiri pun belum tahu jawabannya. Kebimbangan di hati Deta membuatnya tidak bisa menentukan pilihan.
Dito melepaskan pelukan Dania, kemudian menatap wajah cantik adiknya yang terlihat sangat berbeda darinya dan juga Deta. "Apa kamu tidak suka tinggal di sini?"
Dania menatap Dito dan menggelengkan kepalanya. "Aku lebih suka tinggal di LN. Teman-temanku juga semuanya ada disana. Lagi pula selama kita di sini kak Deta selalu sibuk dan membiarkan aku sendirian di rumah."
'Benar juga, tapi itu semua karena kakak meninggalkan banyak hal yang belum ia selesaikan di sini.' batin Dito. "Mungkin kakak memiliki pekerjaan." ucap Dito, menenangkan Dania.
Dito memperhatikan adiknya dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya bahkan tanpa berkedip. "Kenapa kamu berpakaian seperti ini?"
Dania tersenyum dan menampakkan deretan giginya. Ia malu karena ketahuan menggunakan pakaian Deta.
"Jawab!!!"
"Dania baru saja pergi ke tempat pesta yang di adakan oleh teman dari temannya Dania di LN, tapi disana Dania di ganggu oleh om-om nakal yang mengaku sebagai omnya teman Dania."
Flashback on...
Dania mematut dirinya di cermin. Pakaian yang di ambilnya dari almari Deta sangat sesuai untuk tubuhnya. Tinggi tubuh mereka hampir sama, dan hal itu akan selalu jadi lelucon untuk mereka bertiga.
Setelah selesai bersiap, Dania menuruni tangga dan tidak melihat siapapun. Berpikir karena dirinya sudah mendapat izin, Dania pun langsung pergi menuju tempat pesta.
Pesta menyenangkan yang ia harapkan tidak terjadi. Dania dan teman-temannya hanya duduk dan melihat para gadis yang mengerubungi seorang pria yang sudah tua menurut Dania.
Satu persatu teman yang tadi menemaninya meninggalkan Dania dan membiarkannya seorang diri, hingga seorang pria yang tadi sedang di kerubungi tiba-tiba duduk di hadapannya.
"Hai, siapa namamu, Cantik?" goda pria itu, sikapnya membuat Dania risih.
__ADS_1
"Aku tidak memiliki nama."
"Benarkah? Sayang sekali, gadis cantik sepertimu tidak memiliki nama. Bagaimana kalau aku yang memberimu nama? Bagaimana kalau mentari? Atau bulan? Mungkin juga bintang? Semua itu membuatku bingung karena wajahmu begitu cantik." tanya pria itu, sebelah matanya mengedip untuk menggoda Dania.
Dania yang merasa kesal pun langsung berdiri. "Namaku Dania, Om! Bukan mentari, bulan, ataupun bintang."
Setelah mengatakan hal itu, Dania langsung pergi meninggalkan pesta dan pria menyebalkan itu.
"Baiklah, Dania, ingat ini! Namaku adalah Nino. Nino Ferdinand." teriaknya, ia berpikir jika Dania tidak akan menghiraukannya.
"Baiklah, Om Nino!!!" seru Dania, ia menoleh sebentar sebelum kembali melangkahkan kakinya.
'Astaga!!! Dia begitu menggemaskan. Wajahnya mengingatkanku pada seseorang.'
Flashback off...
"Lain kali, minta izin sebelum keluar rumah. Apalagi kamu itu anak perempuan. Tidak baik keluar -" Ucapan Dito menggantung karena Dania langsung menyelanya.
"Aku tahu, Kak, itu sebabnya aku tidak suka tinggal di sini. Ada banyak om-om pedofil yang menakutkan meskipun wajah mereka sangat tampan."
Jentikan jari Dito di kening Dania terdengar begitu nyaring. "Jangan berpikiran yang tidak sesuai dengan usiamu!"
"Baik, Kak," Dania mengusap keningnya yang berdenyut nyeri dan juga terasa sedikit panas.
"Aku akan pergi ke apartemen Angga. Kamu ingin ikut atau tetap di rumah?" tanya Dito, ia sudah berjalan menuju kamarnya.
"Ikuuuttt!!!"
***
"Dukungan seperti apa yang kamu maksud?" tanya Refita, matanya menatap curiga ke arah Ricky.
"Aku akan mengatakannya nanti, jika sudah waktunya." jawab Ricky santai, ia tak tahu jika jawabannya memancing emosi Refita.
__ADS_1
"Menyebalkan! Aku tidak akan membantu yang tidak tentu." sungut Refita.
Ricky terkekeh mendengar ucapan Refita. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Terserah, Kak,"
Terbentangnya jarak yang di pisahkan oleh lautan membuat kita semakin menjauh.
Aku berpikir, jika jarak akan menghapus dirimu dari ingatanku.
Tidak!!!
Dengan angkuhnya kau masih menetap di hatiku, bahkan enggan memberiku ruang untuk diriku sendiri.
Refita kembali mengingat sepenggal kata yang ada di dalam buku tadi. Jika di perhatikan, kisah yang ada di dalam buku itu sangat mirip dengan kisah Ricky dan Deta.
"Bacalah buku itu!" titah Refita, sebelum ia pergi dari ruangan Ricky. "Aku akan mengambilnya setelah kamu selesai membacanya." lanjutnya.
"Tidak akan aku berikan! Aku akan membingkainya dan menjadikannya sebuah kenangan yang indah."
***
Aku telah memilih jalanku, tapi mengapa aku merasa tersesat?
Aku telah memilih jalanku, tapi mengapa aku tidak tahu tujuanku?
Aku tidak mungkin kembali dan menginjak pecahan kaca yang pernah melukai kakiku.
Biarkan saja angin yang membawaku ke tempat dimana hatiku berada...
Hallo semuanya π
Terima kasih selalu setia menanti kelanjutan kisahnya Deta sama bang Ricky π Mohon maaf 'ya kalau ceritanya jadi meleber kemana-mana π
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
__ADS_1
I β€ U readers kesayangan kuhh
See youuu next week π