
Belaian lembut jari jemari Ricky mengabsen setiap jengkal bagian tubuh wanita yang ia cintai. Mata wanita itu masih terpejam dengan seulas senyum tipis masih tersungging di bibir tipisnya.
"Kau masih sama seperti dulu," ucap Ricky sembari mengecup kening Deta. "Maafkan aku yang telah mengecewakanmu, tapi percayalah aku tidak pernah berniat untuk menyakitimu, Sayang."
Tak terasa, air mata Ricky terjatuh dan mengenai pipi Deta. Mata bulat itu seketika terbuka dan menatap Ricky yang sedang mengusap matanya.
"Ricky? Kamu menangis?" Deta terkejut ketika membuka mata dan melihat Ricky sedang menangis sambil menatapnya.
Ricky hanya bisa memaksakan senyumnya meski bibirnya bergetar menahan tangis.
Rasa cinta yang masih tertinggal membuat Deta merasa pilu melihat kekasih hatinya dalam kondisi seperti itu. Tanpa pikir panjang, Deta langsung terbangun dan mendekap kepala Ricky di dadanya meskipun tubuhnya masih lolos tanpa sehelai benang pun yang melindungi.
Seketika, isak tangis Ricky pecah di dalam pelukan Deta. "Maafkan aku ... maafkan aku, Sayang!"
Deta tak kuasa menahan haru, air matanya ikut tumpah ketika ia merasakan tubuh Ricky bergetar hebat.
***
"Ceritakan semuanya, Dania!" bentak Dito, ia mulai kesal dengan tingkah adiknya yang seolah tidak mendengarkan dirinya.
Dania mendengus. "Kakak hanya tinggal duduk diam dan menunggu hasil kerja keras otakku!"
"Hei, maksudmu aku tidak memiliki otak?" sungut Dito sembari menunjuk keningnya.
"Bukan tidak memiliki otak, tapi tidak pernah di gunakan dengan benar." hardik Dania, tangannya sibuk memainkan ponselnya.
"Kamu ini adik durhaka!" Dito mencubit pipi Dania dengan gemas.
Bukannya marah atau menangis, Dania justru tertawa mendapat perlakuan seperti itu dari Dito. Ia bahkan meletakkan ponselnya dan memeluk kakak laki-lakinya itu.
"Dania sayang Kakak." ungkap Dania sembari mencium pipi Dito.
Dito mendorong wajah Dania agar menjauh. "Jangan bertingkah seperti anak kecil!"
Lagi-lagi Dania terkekeh. Ia hanya menatap wajah Dito yang bersemu merah.
'Aku tahu kakak sayang padaku, tapi kakak tidak mau menunjukkannya.' batin Dania.
"Jadi, apakah rencanamu berjalan dengan baik?" tanya Dito, bibirnya menyeruput kopi hitam yang di buat oleh Dania. "Terlalu manis!" lontar Dito.
"Terima kasih," ucap Dania dengan senyum termanisnya.
"Bukan kamu, tapi kopi ini." sergah Dito sembari menunjukkan cangkir kopi di tangannya.
__ADS_1
Dania memasang wajah cemberutnya. "Bukan kopinya yang manis, tapi Kakak yang terbiasa hidup dalam kepahitan."
***
Ricky menundukkan kepalanya, ia malu karena Deta terus menatapnya sejak tadi.
"Jangan menatapku!" pinta Ricky, matanya yang sembab membuatnya tak berani bertatapan dengan Deta.
"Oh, baiklah. Kalau begitu, lebih baik aku pergi." ucap Deta, ia sudah siap untuk menurunkan kakinya dari atas tempat tidur.
Dengan cepat Ricky menahan tangan Deta agar tidak meninggalkannya. "Aku memintamu jangan menatapku, bukan pergi dariku."
Deta menoleh dan melihat Ricky sedang menatap ke arahnya. Keadaan pria itu membuat hati Deta semakin nelangsa.
'Apa yang membuatmu jadi seperti ini? Bukankah kamu mencintai wanita lain.' batin Deta.
Selama ini, ia menolak untuk percaya bahwa Ricky benar-benar mencintainya.
"Katakan!" pinta Ricky tiba-tiba.
"Hah?" Deta menatap bingung ke arah Ricky.
"Katakan apa yang ada dalam hatimu!" Ricky semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Apakah kamu tidak pernah mencintaiku?" tanya Ricky. Tangannya menarik tubuh Deta agar mendekat.
Kini, tubuh Deta sudah kembali berada dalam pelukan Ricky. Kondisi mereka yang masih tanpa pakaian membuat Deta salah tingkah.
"Tatap aku!" Ricky mengangkat dagu Deta agar pandangan mereka bertemu.
'Sebelumnya dia memintaku jangan menatapnya, tapi sekarang dia memintaku untuk menatapnya. Dasar tuan amburadul!" umpat Deta dalam hati.
Meski dengan hati yang kesal, Deta tetap mengikuti keinginan Ricky dan menatapnya. Mata sembab itu membuat Deta tak sampai hati untuk meninggalkannya.
"Apa lagi yang kamu inginkan, Tuan Sanjaya? Kamu sudah melecehkanku berulang kali, tapi aku tetap membiarkanmu. Tidak bisakah kamu -" Deta tak bisa melanjutkan ucapannya karena bibirnya terperangkap oleh bibir Ricky.
Ciuman penuh gairah dan cinta itu di dominasi oleh Ricky. Hasratnya menuntun Ricky untuk kembali bermain dengan wanita yang selalu memenuhi hati dan pikirannya.
Ricky membaringkan tubuh Deta dan mengukung tubuh Deta di bawah tubuhnya. Hembusan nafas Ricky yang menderu menimpa wajah Deta yang masih terengah-engah karena ciuman penuh gairah yang dilakukan Ricky.
"Aku mencintaimu, Sayang," Bibir Ricky berpindah menciumi lengkungan leher Deta hingga membuat wanita itu menggelinjang. "Hanya dirimu."
Seketika, kesadaran Deta kembali dan dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Ricky. "Kamu tidak bisa membodohiku lagi!"
__ADS_1
Ricky yang baru saja terhempas hanya bisa menatap heran ke arah Deta yang kini sudah melilitkan tubuhnya dengan selimut.
"Jangan pernah bermain dengan kata cinta! Aku bukan gadis muda bodoh yang bisa kamu tipu seperti lima tahun yang lalu!" teriak Deta.
Ricky mulai memahami arah pembicaraan Deta dan segera meraih tubuh Deta ke dalam pelukannya, walaupun Deta terus meronta.
"Kamu salah, Sayang, dengarkan aku dulu!" bujuk Ricky, ia melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Deta. "Aku tidak pernah menipumu, aku hanya -"
"Tidak!!! Aku tidak ingin mendengar apapun darimu." hardik Deta, kedua tangannya menutupi telinganya.
"Baiklah, kamu boleh menutup telingamu. Aku hanya akan memberi tahumu bahwa aku tidak pernah mencintai wanita mana pun selain dirimu." lirih Ricky, matanya kembali meneteskan cairan bening itu.
"BOHONG!!!"
Helaan nafas Ricky terdengar begitu jelas di telinga Deta meski ia sudah menutup kedua telinganya.
"Aku tidak pernah berbohong -"
"Lalu, tante Anika?" Bibir Deta bergetar saat mengatakan hal itu. Rasanya begitu menyakitkan ketika mempertanyakan perasaan orang yang kita cintai terhadap orang lain.
"Anika?" Ricky menghembuskan nafasnya kasar. "Dulu, aku berpikir aku mencintainya. Tapi saat aku bertemu denganmu, aku baru menyadari bahwa aku tidak pernah merasakan hal seperti itu terhadap siapapun." jelas Ricky.
"Tapi kamu membantu Mika untuk menghancurkan perusahaan papaku! Itu artinya kamu begitu mencintainya!" teriak Deta, sikap posesifnya muncul ke permukaan tanpa bisa ia tahan.
'Bagaimana dia bisa tahu? Apa Angga yang memberi tahunya?' batin Ricky. "Tidak! Itu semua aku lakukan karena aku tidak mengetahui kebenarannya. Aku hanya tahu bahwa seorang pria brengsek telah memperkosa dan menghamili Anika tanpa mau bertanggungjawab kepadanya." sanggah Ricky.
"Papaku tidak seperti itu! Tante Anika yang sudah menggodanya," sergah Deta, ia tak habis pikir dengan pemikiran Ricky.
"Aku tahu, Sayang, tapi maaf karena aku terlambat menyadarinya." lirih Ricky, matanya menyiratkan penyesalan yang begitu dalam. "Dan sekarang, aku tidak ingin menyesal untuk yang kesekian kalinya." tegas Ricky kemudian.
"Maksudmu?" tanya Deta bingung.
"Jangan biarkan ada Dania lain yang lahir ke dunia ini!" ucap Ricky sembari mengusap perut Deta.
Hallo semuanya π€
Bab yang tertinggal meluncur π Maaf karena author sibuk jadi bab ini ketinggalan di sudut ruangan π
Jangan lupa di tap jempolnya πdan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar π sertakan votenya juga 'yaπ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh
SEE YOU NEXT WEEK ππ
__ADS_1