Poros Jodoh

Poros Jodoh
KETAHUAN


__ADS_3

Deta masih terus mengusap pipinya yang tadi di cubit oleh Ricky.


"Kamu kenapa, Ta?" Bu Rika yang sedari tadi memperhatikan Deta akhirnya bertanya.


"Eh, emmm ... tidak apa-apa, Bu." Suara Deta terbata karena gugup.


"Baiklah, kamu boleh pulang sekarang. Pekerjaan kamu sudah selesai, kan?"


"Sudah, Bu," Deta tersenyum kaku.


***


Di dalam kamarnya, Ricky sangat salah tingkah. Ia tidak menyangka bahwa dirinya akan langsung tertarik begitu melihat Deta.


"Aku harus mengenal dia lebih jauh." gumam Ricky. "Tapi apa yang harus aku lakukan?" pikirnya lagi.


Ricky berpikir sembari mengosok-gosokkan jarinya ke dagu dan sebelah tangannya bertolak pinggang.


"Ah, aku tahu." Ricky menjentikkan jarinya begitu menemukan ide.


Ricky berjalan keluar dari kamarnya. Ia langsung menuju dapur, namun langkahnya terhenti saat melihat ibunya sedang duduk di ruang makan.


"Sayang? Sini, Nak!" Bu Rika yang melihat Ricky langsung memanggilnya.


"Mama sudah pulang?" Ricky menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Bu Rika sudah menyadari tingkah aneh putranya, bahkan ia sudah mengetahui apa yang membuat putranya bertingkah seperti itu.


'Baiklah, kita lihat apa jawabanmu.' Batin bu Rika.


Bu Rika tersenyum dan terus menatap putranya.


"Jam berapa kamu pulang, Sayang?" Bu Rika memulai percakapan begitu Ricky duduk di sebelahnya.


"Saat makan siang, Ma,"


"Oh, kamu sudah makan?"


"Sudah, Ma, sebelum pulang tadi Ricky makan siang dengan papa."


Pandangan mata Ricky berkeliling mencari-cari sosok Deta.


Bu Rika yang memperhatikan ternyata mengikuti ke arah mana Ricky memandang.


"Deta sudah pulang." celetuk bu Rika.


"Hah? Sudah pulang? Kapan?" Ricky bereaksi spontan yang membuat bu Rika merubah raut wajahnya.


Ricky berdehem menyadari reaksinya yang berlebihan, sebelum ibunya merasa curiga.


"Maksud Ricky, kapan dia pulang? Ricky tidak tahu kalau dia ada di sini." Ricky tidak berani menatap ibunya.


'Anak nakal!!! Kamu fikir Mama tidak tahu apa yang kamu lakukan.' Bu Rika tersenyum mengingat apa yang ia lihat tadi.


***


Beberapa saat yang lalu...


Bu Rika tiba di rumahnya lebih awal begitu mengetahui dari suaminya bahwa mereka sudah pulang.


Tapi bu Rika tidak menemukan siapapun di rumah. Ia memeriksa kamar tidurnya dan ruang kerja suaminya. Tapi tidak ada siapapun di sana.


Karena tak menemukan suaminya, bu Rika mengetuk pintu kamar Ricky namun tidak ada jawaban. Ia langsung masuk dan melihat tidak ada siapapun juga di sana.

__ADS_1


Ia memutuskan untuk menghubungi suaminya.


"Pa, dimana?" tanya bu Rika begitu panggilan tersambung.


"Aku selalu bersamamu, Sayang." Gombal pak Firman di seberang telepon.


"Pa, serius. Ricky tidak ada di rumah. Dia sama Papa?" Bu Rika sedang malas menanggapi suaminya.


"Tidak, Ma, dia bilang ada janji bertemu dengan seseorang."


Bu Rika berjalan sembari tetap berbicara dengan suaminya di telpon. Saat hendak menuju dapur untuk menanyakan pada Deta, ia melihat ada laptop yang masih menyala di meja makan.


Bu Rika mengerutkan keningnya kemudian melanjutkan langkahnya menuju dapur.


Betapa terkejutnya bu Rika melihat Ricky sedang merangkul Deta dan memainkan jarinya di wajah Deta.


"Ya ampun!!!" gumam bu Rika.


"Halo, Ma, ada apa?" Pak Firman yang mendengar gumaman bu Rika ikut terkejut di seberang panggilan.


"Nanti mama ceritakan." Bu Rika memutus panggilannya dan tersenyum.


***


"Kenapa Mama menatap Ricky seperti itu?"


Ricky merasa aneh karena terus di pandangi ibunya. Ini memang bukan yang pertama kali ibunya itu memandang dirinya. Namun kali ini pandangan bu Rika terhadapnya sangat berbeda.


"Mama kenapa? Apa ada yang salah? " Ricky bertanya lagi karena ibunya tak juga menjawab pertanyaannya.


"Ada yang mau kamu ceritakan tidak sama Mama?"Bu Rika justru balik bertanya.


Ricky mengerutkan keningnya dan menatap bola mata ibunya, mencoba mencari maksud dari pertanyaan ibunya itu.


"Tidak ada." jawab Ricky sembari menggeleng. "Ah, iya. Ada, Ma," sambungnya.


"Papa betul-betul sangat menyebalkan, Ma!" ketus Ricky teringat dengan "jebakan" ayahnya.


'Papa???' Batin Bu Rika bertanya-tanya.


"Papa menjebakku di kantor." Ricky memasang wajah kesal.


Bu Rika yang sudah mengetahui hal itu dari suaminya hanya terkekeh dengan sikap putranya.


"Jangan marah sama Papa, ya! Papa tidak mungkin melakukan hal seperti itu jika kamu bukan putranya." Bu Rika mengusap lembut bahu putranya.


Ricky tidak menjawab dan hanya menatap wajah ibunya yang penuh kelembutan. Tapi tiba-tiba ia teringat pada Deta.


"Ma ...." Ragu Ricky hendak bertanya.


"Deta?" celetuk bu Rika seolah bisa membaca pikiran putranya.


"Ricky tidak mengerti maksud Mama." Ricky memalingkan wajahnya.


"Mama menyuruh Deta pulang agar dia bisa beristirahat. Dia belum pulih benar dari sakitnya, Sayang, Mama takut Deta kelelahan dan jatuh sakit lagi." jelas bu Rika meskipun Ricky seolah tidak mendengarkan.


Ricky terhenyak mendengar penjelasan ibunya.


'Bodoh! Aku lupa jika dia sakit. Bukannya minta maaf aku justru membuatnya tidak nyaman denganku.'


***


Dalam perjalanan pulang, Deta terus tersenyum dan memegangi pipinya.

__ADS_1


Dalam hatinya, Deta sangat senang dengan apa yang di lakukan Ricky. Tapi pikirannya berpikir bahwa mungkin Ricky hanya bermain-main dengannya.


"Dia itu pangeran. Dan kamu? Kamu itu upik abu, Deta. Sadarlah!!!"Deta mencubit pipinya sendiri.


"Awww, sakit," Deta mengusap pipi chubbynya itu kemudian terkekeh.


Ternyata, seseorang sedang mengamati tingkah konyolnya dan tersenyum dari kejauhan.


***


"Bagaimana Pak Angga bisa ada di sini?" tanya Deta begitu ia masuk ke dalam mobil Angga.


Ternyata Angga memang sudah menunggunya. Dan begitu melihat Deta, Angga langsung mengikutinya dan memperhatikan setiap tingkah lakunya.


Awalnya, Deta tidak mau ikut dengan Angga. Tapi pria itu memaksanya dan terus mengikutinya.Karena tidak ingin membuat urusannya menjadi panjang, akhirnya Deta menyerah dan memilih untuk ikut.


Hitung-hitung hemat uang transport 🤭


Dan, disinilah Deta sekarang. Melihat Angga yang sedang fokus menyetir.


"Angga!!! Kamu sudah setuju kemarin." pinta Angga tanpa menoleh ke arah Deta. Geram dengan Deta yang melupakan kesepakatan mereka kemarin.


Deta meremas sabuk pengaman yang ia kenakan. Menimbang-nimbang akan menuruti permintaan Angga atau tidak.


"Baiklah, Angga saja." ucap Deta akhirnya yang membuat Angga sumringah.


"Anda belum menjawab pertanyaan saya, bagaimana Anda bisa ada di sini?"


"Aku hanya kebetulan lewat," Angga beralasan. "Kamu sudah makan?" tanyanya.


"Belum," jawab Deta singkat.


Selanjutnya, terjadi keheningan di dalam mobil. Angga tetap fokus menyetir dan Deta yang sibuk mengamati pohon-pohon yang melaju berlawanan arah.


Tiba-tiba mobil berhenti di depan sebuah restoran dan Angga membukakan pintu mobil untuk Deta.


"Kenapa kita kesini, Pak?" tanya Deta seraya melangkahkan kakinya keluar.


Angga mengerutkan keningnya mendengar Deta masih memanggilnya "Pak".


"Baiklah, Angga? Kenapa kita kesini?" Deta mengulang pertanyaannya.


"Makan, apalagi?"


"Siapa?"


"Siapa apanya?" Angga terlihat bingung.


"Siapa yang akan makan?"


"Kita, kamu dan aku tentunya."


"Aku?" Deta bertanya dengan polosnya.


"Iya, tadi kamu mengatakan kalau kamu belum makan." Angga merasa Deta semakin menggemaskan saja dengan wajah polosnya itu.


"Betul, tapi aku tidak minta makan." ucap Deta masih dengan wajah polosnya.


Hah????


Hallo semuanya 🤗


Selamat menikmati ceritanya 🤗

__ADS_1


Semoga kalian suka 🥰


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 kalian disini ya 😘


__ADS_2