Poros Jodoh

Poros Jodoh
PEMILIK HATI


__ADS_3

"Sekarang giliranku." Angga masuk ke kamar dan bergabung bersama Deta dan juga Rayyan.


Tanpa ragu dan menunggu izin dari Deta, tiba-tiba saja Angga langsung mendaratkan ciumannya di pipi Deta. Deta yang terkejut hanya bisa diam mematung dan memegangi pipinya.


Terdengar sorakan girang dari Rayyan yang begitu bahagia melihat kemesraan kedua orang tuanya. Selama ini, Deta tidak pernah bersikap hangat kepada Angga. Sikap dinginnya itu juga cukup di sadari oleh Rayyan.


Deta tidak mengerti apa yang terjadi pada Angga, tapi pria itu tiba-tiba saja berubah dan bersikap dengan sangat berbeda. Selama empat tahun hidup sebagai pasangan suami istri, Angga tidak pernah sekalipun menyentuh Deta. Namun, kali ini sikapnya membuat Deta terkejut sekaligus marah. Jika saja Rayyan tidak berada di ruangan yang sama, Deta pasti sudah meluapkan emosinya pada Angga yang kini berdiri menatapnya dengan bahagia.


'Sebelumnya aku mengalah, tapi kini aku akan memperjuangkan dirimu demi Rayyan.'


***


Di tempat lain, Ricky baru saja sampai di perusahaannya dan melihat Refita sedang membaca buku sampai ia tidak menyadari kehadiran kedua putrinya.


"Mommy! Kami pulang." teriak Kayla dan Nayla kompak, tapi Refita tetap fokus pada buku yang ada di tangannya.


Ricky yang baru menyadari buku apa yang sedang di baca oleh Refita pun langsung berlari dan merebut buku tersebut. "Kakak!!!"


"Kembalikan! Aku belum selesai membacanya." bentak Refita, tangannya mencoba meraih kembali buku yang di rebut oleh Ricky.


"Aku meminta Kakak untuk membantu pekerjaanku. Bukannya membaca buku seperti anak remaja." sungut Ricky, ia kesal karena Refita sudah mendahuluinya membaca buku yang di tulis oleh Deta.


Mendapatkan reaksi yang berlebihan seperti itu dari Ricky membuat Refita curiga dan lantas memicingkan matanya.


"Bukan itu 'kan alasanmu merebut buku itu? Katakan! Siapa yang telah memberikan buku itu padamu?"


"Memang itu alasannya, Kak. Kakak akan membuat perusahaan merugi karena sikap Kakak yang seperti itu. Aku sudah mengatakannya jika -"


Refita menahan tangan Ricky yang akan menjauhinya. "Kay, Nay, pergilah dengan Om Gibran." titah Refita pada kedua anak kembarnya.


Memahami maksud dari ibunya, tanpa bertanya lagi Kayla dan Nayla pun keluar dari ruangan Ricky dengan di ikuti oleh Gibran.


"Sekarang hanya kita berdua disini. Katakan ada apa dengan buku itu?" Mata Refita menunjuk buku yang berada di tangan Ricky.

__ADS_1


Ricky menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Aku memang sulit mengelak darimu, Kak, buku ini di berikan oleh Dito."


Kerutan tercipta cukup dalam di dahi Refita, menandakan bahwa ia tengah berpikir dengan keras. Seketika bola matanya langsung membulat ketika ingatannya mulai tersusun rapih.


"Dito? Dito adiknya Deta? Mantan calon istrimu itu? Wanita yang sudah meninggalkan kamu dan menikah dengan Angga, sahabat kamu sendiri?" lontar Refita, tak percaya jika adiknya masih menjalin komunikasi dengan masa lalunya.


Ricky mendengus, kesal dengan penuturan kakaknya. Tapi tidak ada yang bisa ia sanggah karena apa yang di katakan oleh Refita memang benar adanya. Deta memang meninggalkannya dan menikah dengan Angga. Semua itu yang ada di pandangan semua orang termasuk Ricky, sebelum ia mengetahui kebenarannya dari Dito.


"Itu tidak sepenuhnya benar, Kak," lirih Ricky, ia menjatuhkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya.


"Lalu? Apa kebenarannya?" Refita menyilangkan kedua tangannya di dada.


Pikiran Ricky jauh menerawang, ia menyesali semua keputusannya di masa lalu. Andai ia lebih terbuka, pasti sekarang hidupnya sudah bahagia bersama Deta dan juga anak-anaknya.


"Kak? Jika Deta kembali, apa semuanya akan membaik?" Mata Ricky terbuka, ia bahkan langsung menegakkan tubuhnya.


'Malang sekali nasibmu, Adik kecilku! Hatimu masih tertinggal bersama wanita itu.' batin Refita.


"Apa kamu yakin Deta akan kembali?" Refita balik bertanya.


Bibir Ricky menyunggingkan senyuman. "Aku yakin, Kak, hanya saja aku perlu sedikit dukungan darimu."


***


Sementara, di kediaman keluarga Riady. Dito baru saja kembali dari tugasnya. Matanya berpendar untuk mencari keberadaan kedua saudara perempuannya, tapi tidak satu pun dari kedua wanita itu yang menunjukkan batang hidungnya.


Dito terlihat sangat lelah, ia ingin sekali beristirahat. Saat matanya baru saja akan terpejam, tiba-tiba ponselnya berdering dan menunjukkan nama Angga yang tertera di layar ponselnya.


"Datanglah ke apartemenku! Aku menunggumu." titah Angga dari seberang panggilan.


Dito bahkan belum mengucapkan satu kata pun, tapi Angga sudah memutuskan panggilannya.


Dengan geram Dito mengepalkan tangannya, ia sudah bertekad akan membantu Deta melepaskan diri dari Angga. Ia segera berlari ke lantai atas menuju kamarnya untuk mengganti pakaian. Rasa lelah yang di rasakannya langsung lenyap seketika.

__ADS_1


***


"Dengar, Ga! Aku tidak menyukai sikapmu itu." sinis Deta, telunjuknya mengarah ke wajah Angga.


Bukannya marah, Angga justru melakukan hal yang tidak pernah di duga oleh Deta. Ia menangkap tangan Deta dan meraihnya untuk kemudian di daratkan di bibirnya.


Dengan cepat Deta menarik kembali tangannya. "Jangan bertingkah, Tuan Angga Pratama! Hubungan ini hanya pura-pura. Ingat untuk tidak menggunakan perasaanmu!"


Wajah Deta memerah karena amarah dan sorot matanya begitu tajam. Semua hal itu semakin melukai Angga, mengingat wajah Deta selalu merona malu setiap kali ia berhadapan dengan Ricky.


"Aku memiliki hati, Deta. Dan hati ini perlu seseorang untuk menempatinya." sergah Angga, ia menepuk dadanya seolah menunjukkan posisi hatinya berada.


Ucapan Angga membuat Deta berdecak. "Cek... cek... cek ... bukankah hatimu itu sudah terisi? Kita itu sama, Ga. Hatimu di miliki oleh Mikayla. Begitu juga dengan hatiku yang telah di miliki oleh Ricky."


"Tapi kamu lihat sendiri, dia sudah berkeluarga. Apa kamu mau menghancurkan rumah tangganya?" lontar Angga, ia mencoba untuk memprovokasi Deta.


'Kamu benar, Ga. Tapi aku akan tetap menyimpan hatiku untuknya.' batin Deta. "Memangnya kenapa jika itulah yang ingin aku lakukan?" sinis Deta.


"Apa yang terjadi padamu? Bukankah sebelumnya kamu tidak ingin kembali pada Ricky, tapi sekarang tiba-tiba saja kamu ingin menghancurkan rumah tangganya." Angga memicingkan matanya.


"Seperti yang kamu katakan, kita memiliki hati dan butuh seseorang untuk menempatinya. Namun sayangnya, hatiku sudah di tempati oleh Ricky." tutur Deta, ia berniat menyudahi pembicaraan konyol itu dengan Angga.


"Usir dia!" ucap Angga datar, tepat sebelum Deta melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Angga.


Dahi Deta berkerut. "Siapa?"


"Ricky."


"Jika dia bersedia, aku akan dengan senang hati mengeluarkannya dari hatiku."


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2