Poros Jodoh

Poros Jodoh
LUKA BARU


__ADS_3

Menjelang dini hari, Deta merasakan dingin yang menelusup di tubuhnya. Bagaimana tidak? Deta tidak menggunakan sehelai benang pun di tubuhnya, tapi ia bisa merasakan kehangatan yang di berikan Ricky. Karena pria itu masih memeluk Deta yang berbaring membelakanginya.


'Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu memaksakan dirimu padaku? Kamu hanya menabur garam di atas lukaku yang belum sembuh.' batin Deta, tanpa menoleh pada Ricky yang berada di belakangnya.


Perlahan, Deta memindahkan tangan besar Ricky agar ia bisa beranjak dari tempat tidur. Namun, baru saja ia menyentuh tangan Ricky. Sebuah bisikkan lembut membuat Deta merinding. "Jangan membangunkan adikku, jika kamu tidak ingin terbaring seharian di tempat tidur."


Deta menoleh sekilas dan melihat Ricky yang masih memejamkan matanya. "Apa kamu sedang bermimpi?" gumam Deta, jarinya menusuk-nusuk pipi Ricky.


"Ahh ...."


Pekikan Deta terdengar menggema di seluruh ruangan ketika Ricky menangkap jari Deta yang mengganggu tidurnya. Ricky bergerak dengan cepat dan ia sudah kembali berada di atas tubuh Deta.


"Sudah ku katakan, jangan membangunkan adikku."


Dan, menjelang dini hari itu menjadi kekalahan berikutnya bagi Deta.


***


"Bagaimana?"


"Maaf, Tuan, kami tidak bisa menemukan keberadaan nyonya." jawab salah satu pria yang baru saja memasuki apartemen Angga.


"Kemana kamu, Deta?" gumam Angga. Ia memijat pelipisnya, rasa lelah dan kantuk sudah menyerangnya. "Temukan Deta secepatnya, sebelum Rayyan mencarinya." titah Angga kemudian.


"Baik, Tuan,"


Beberapa pria itu kembali meninggalkan apartemen Angga, kecuali Dhirgam yang selalu setia menemani Angga.


"Sebaiknya anda beristirahat, Tuan, jika anda sampai sakit tuan muda pasti akan sangat sedih." bujuk Dhirgam, ia tahu jika Angga sangat menyayangi Rayyan meski ia tak pernah mengatakannya.


Angga menghela nafas panjang. "Baiklah, minta Dito untuk mengerahkan koneksinya dan mencari keberadaan Deta."


"Baik, Tuan," jawab Dhirgam seraya membungkuk hormat.

__ADS_1


***


Semburat cahaya matahari menelusup melalui celah tirai dan langsung menimpa wajah Deta yang tertidur pulas. Malam panjang yang ia lewati bersama Ricky membuatnya tidak bisa beranjak dari tempat tidur.


"Good job. (Kerja bagus). Aku ingin semuanya selesai hari ini." Suara Ricky membangunkan Deta yang sedang terlelap.


Perlahan Deta membuka matanya dan melihat Ricky yang sedang berdiri menghadap jendela yang masih tertutup tirai. Pria itu hanya menggunakan celana pendek untuk menutupi adiknya yang nakal dan bagian atas tubuhnya tetap di biarkan terbuka tanpa mengenakan apapun.


Deta berusaha untuk bangun tanpa menimbulkan suara yang akan menarik perhatian Ricky, tapi rasa sakit di antara kakinya membuat Deta secara tidak sengaja meringis kesakitan.


Ricky yang sedang menghubungi seseorang pun langsung memutuskan panggilannya dan menghampiri Deta yang sedang kesakitan. "Kamu sudah bangun, Sayang? Kenapa tidak memanggilku?"


Bayangan perlakuan Ricky yang kasar padanya membuat Deta muak dan tidak ingin melihat wajah Ricky. Ia langsung menepis tangan Ricky yang hendak menyentuhnya. Deta bahkan memalingkan wajahnya begitu Ricky menghampirinya.


"Sayang, kamu kesakitan. Biarkan aku membantumu." bujuk Ricky, ia kembali mencoba untuk menyentuh Deta. Namun, lagi-lagi Ricky mendapat penolakan.


Bibir Deta terkunci rapat. Ia tidak mengatakan sepatah katapun, tapi Deta selalu menolak Ricky yang mencoba untuk membantunya dengan sikap dingin yang ia tunjukkan.


'Kenapa ini sangat sakit sekali?' batin Deta.


Kemarahan Deta membuatnya menolak semua perlakuan Ricky. Ia kembali duduk di tepi ranjang dengan rasa perih yang coba ia tahan. Deta semakin melilitkan selimut ke tubuhnya.


'Kalau seperti ini, bagaimana aku bisa pergi dari sini?' pikir Deta.


Ricky mengusap wajahnya kasar. Ia frustasi dengan semua penolakan Deta. Yang Ricky tahu, Deta bukanlah wanita yang keras kepala seperti ini. Ia bahkan menolak bantuan Ricky yang sebenarnya ingin bertanggung jawab atas sikap buruknya semalam.


Sikap Deta yang seperti ini tidak membuat Ricky kehilangan akal. Ia berlutut di hadapan Deta dan menyentuh tangan wanita itu. "Maafkan aku, Sayang, aku terlalu di butakan kecemburuan yang membuatku hilang akal hingga menyakitimu."


Satu kecupan mendarat di tangan Deta. Namun, Deta tidak bergeming sedikitpun. Rasa sakit yang baru saja di torehkan Ricky tidak bisa ia lupakan begitu saja. Sudut mata Deta terasa panas, rasanya ia ingin menangis dan berteriak sekeras-kerasnya karena begitu kecewa dengan perlakuan buruk Ricky.


"Aku mohon, bicaralah! Jangan hukum aku seperti ini." Ricky menjatuhkan kepalanya di lutut Deta yang terbungkus selimut, tapi Deta tetap bungkam seribu bahasa.


Deta tak lagi bisa menahan sesak di dadanya, ia pun kembali mencoba untuk berdiri dan melupakan rasa sakit di antara kedua kakinya. Sekuat tenaga Deta berdiri dan melangkahkan kakinya, walaupun ia harus berjalan terseok-seok.

__ADS_1


"Sayang?" panggil Ricky yang masih terperangah dengan sikap Deta.


Ricky yang tidak tahan melihat Deta kesulitan berjalan pun langsung mengangkat tubuh mungil Deta dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Ia mendudukkan Deta di atas closet dan mengisi bathup dengan air hangat.


Meskipun Ricky sudah meminta maaf dan bersikap lembut padanya, tapi Deta tetap tidak bisa melupakan sikap buruk Ricky padanya. Deta bertekad untuk menumbuhkan kembali kebenciannya pada Ricky dan melupakan cintanya yang selama ini ia jaga.


"Ayo, Sayang! Airnya sudah siap." Ricky meraih tangan Deta yang sedang termenung. Menyadari sentuhan Ricky, Deta langsung menarik tangannya kembali.


Kembali Ricky menghela nafas, ia harus bersabar menghadapi Deta karena ini semua memang kesalahannya. Ricky tidak menyangka jika Deta masih menjaga kesuciannya. Ia terhasut ucapan Angga yang mengatakan jika Deta sudah memberikannya seorang putra. Namun, pada kenyataannya Deta belum pernah di sentuh Angga sedikit pun. Dan itu membuat Ricky bahagia sekaligus menyesal di saat yang bersamaan. Andai saja, ia bisa menahan hasratnya. Deta tidak akan semarah ini padanya.


"Sayang, aku mohon bicaralah! Aku benar-benar menyesal. Aku tidak tahu jika kamu -" ucapan Ricky menggantung karena Deta langsung menyelanya.


"Menyesal? Ini bukan pertama kalinya kamu melakukan ini padaku. Bedanya, kali ini aku sadar sepenuhnya dengan perlakuan burukmu padaku." Deraian air mata menghujani pipi Deta.


'Bukan pertama kali? Apa maksudnya?' batin Ricky, mencoba memahami ucapan Deta. "Apa maksudmu, Sayang? Bukan pertama kali? Kapan aku pernah melakukannya padamu?" tanya Ricky bingung.


Deta mendengus kesal. "Terlalu banyak wanita yang kamu tiduri, hingga kamu melupakan kejadian lima tahun lalu."


'Lima tahun lalu?' batin Ricky.


Dahinya Ricky mengernyit. "Maksudmu saat kita kembali dari pantai malam itu?"


Deta tidak menjawab. Ia hanya mencebik dan terlihat enggan membahas hal itu. Berbeda dengan Ricky yang justru terlihat sangat bahagia jika mengingat kejadian waktu itu.


'Jadi, selama ini kamu berpikir jika aku sudah benar-benar mengambil kehormatanmu.'


Hallo semuanya 🤗


Masih stay 'kan di dunianya Deta sama bang Ricky 😁 Terima kasih sudah setia menunggu author kembali 😘


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😍


I ❤ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2