Poros Jodoh

Poros Jodoh
SIAPA???


__ADS_3

Ricky turun dari mobilnya dan memasuki sebuah cafe yang cukup ramai di tengah kota.


Setelah masuk ke perusahaan milik ayahnya dan menjadi orang nomor dua di kantor. Mau tidak mau Ricky harus menerima semua fasilitas kantor termasuk mobil yang di pakainya saat ini.


Begitu memasuki cafe, Ricky melihat seseorang melambaikan tangan padanya.


Ricky menghampiri sebuah meja dengan dua orang pria yang sedang duduk saling berhadapan. Yang satu berwajah oriental dan yang satunya adalah Angga Pratama.


"Hei, *B*rothers!" Ricky mengepalkan tangannya ke arah dua pria tadi dan di sambut dengan kepalan tangan pula.


"Sudah lama?" Ricky bertanya seraya menarik kursi untuk duduk.


"Tidak selama seorang ayah yang menunggu anaknya menerima kekayaannya." sindir seorang pria yang berwajah oriental.


Ricky berdecak karena memahami maksud dari ucapan temannya itu.


"Kapan kamu kembali?"


"Baru saja, dan kalian berdua adalah orang pertama yang aku temui." jawab pria itu bangga.


"Oh," Ricky dan Angga menjawab bersamaan.


"Apakah kalian tidak merasa senang karena aku, Nino Ferdinan. Memilih kalian untuk aku temui pertama kali setelah tourku?" Nino memasang wajah heran kepada kedua temannya.


"Tidak!" Lagi-lagi Ricky dan Angga kompak menjawab.


"Baiklah tidak apa. Tapi pasti kalian membeli albumku, kan? Itu sangat laku di pasaran." Nino mulai menyombongkan diri.


"Membosankan."


"Tidak menarik."


PROKK!!!

__ADS_1


Angga dan Ricky menyatukan kedua telapak tangan mereka.


Nino yang melihat hal itu mendengus kesal dengan tingkah kedua temannya itu.


"Setidaknya belilah albumku atau kalau tidak jadilah sponsorku! Kenapa kalian sangat pelit sekali?"


"Aku tidak punya uang!" celetuk Ricky.


"Keluargamu sangat kaya, tidak mungkin kamu tidak punya uang." Nino menjentik-jentikkan jarinya di hadapan Ricky.


"Kamu 'kan tahu itu uang papaku."


"Tapi itu akan jadi milikmu."


"Akan ... bukannya sudah."


"Kamu sudah menjadi wakil direktur sekarang, pasti uangmu sudah banyak."


"Belum. Aku baru bekerja selama beberapa hari, tentu saja aku belum mendapatkan gaji." Ricky memutar bola matanya dengan malas.


"Siapa gadis itu?" Pertanyaan Nino menarik perhatian kedua temannya.


"Siapa?" tanya Angga dingin.


"Gadis yang mana?" Ricky memperhatikan Nino yang sedang tersenyum penuh arti.


"Gadis yang membuatmu mau menerima "mahkota" yang selalu kamu tolak itu." Nino mengarahkan telunjuknya ke arah Ricky.


"Dan kamu? Siapa gadis yang membuatmu terus melamun sejak tadi?" Kali ini telunjuk Nino bergeser kepada Angga.


"Aku menerima jabatan sebagai wakil direktur bukan karena siapapun tapi karena aku di jebak papa."


Nino yang memperhatikan wajah Ricky tahu bahwa temannya itu tidak berbohong.

__ADS_1


"Akhirnya om Firman melakukannya," Terdengar gelak tawa dari bibir Nino hingga ia terpingkal-pingkal dan memegangi perutnya.


"Kamu itu aneh, Ky! Kamu punya segalanya tapi kamu lebih suka hidup susah. Lihat aku! Aku harus bekerja keras bahkan hanya untuk bisa memakai pakaian seperti yang kalian pakai." Nino bicara dengan nafas tidak beraturan karena lelah tertawa.


"Aku hanya terbiasa menjalani hidupku seperti itu, No."


"Baiklah, tapi siapa gadis yang membuatmu berubah?"


Nino memperhatikan Ricky dengan seksama dan melihat Ricky mengangkat sebelah alisnya meminta penjelasan.


"Lihat cara berpakaianmu sangat berbeda, tidak seperti biasanya."


Ricky menunduk dan melihat baju yang ia pakai malam itu adalah pakaian yang sudah di siapkan Deta sebelumnya.


'Memang selera gadis itu sangat bertolak belakang denganku, tapi aku menyukainya.' Batin Ricky kembali mengingat Deta.


Angga yang sedari tadi hanya diam memperhatikan kini ikut terkekeh melihat Ricky.


"Apa ini alasan kamu menanyakan bagaimana rasanya jatuh cinta?" Angga melipat kedua tangannya di dada.


Ricky tidak menjawab. Namun, bayangan wajah Deta berkelebatan di pikirannya.


Angga tersenyum karena sudah tahu jawabannya, kemudian ikut membayangkan gadis yang sama yang ada di pikiran Ricky.


"Hei, sepertinya banyak yang terjadi selama aku pergi!" Nino mulai bosan dengan tingkah kedua temannya.


"Siapapun coba ceritakan padaku ada apa ini!" Nino menatap kedua temannya yang masih melamun.


'Aku harus menemui kedua gadis itu!!!' Tekad Nino dalam hatinya.


***


Hallo semuanya 🤗

__ADS_1


Semoga kalian suka ceritanya🥰


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 berupa like 👍 , comment, rate dan juga vote ya 🤭


__ADS_2