
Senyuman secerah mentari yang tergambar di wajah Ricky membuat suasana di gedung Sanjaya Corporation menjadi lebih hangat. Tidak ada ketegangan yang terjadi seperti biasanya ketika Ricky mulai menginjakkan kakinya di lobby kantor.
"Tidak bisakah kamu melepaskan tanganku?" keluh Deta. Ia mulai merasa risih dengan tatapan para karyawan.
Bukannya berhasil menemukan Dania, tapi Deta justru terjebak bersama Ricky. Kini Deta harus mengikuti semua kemauan Ricky jika ia ingin menemui Dania.
Beberapa saat yang lalu...
"Selamat datang, Sayang,"
Ricky bangkit dari kursinya dan menghampiri wanita cantik yang selalu ia rindukan. Walaupun kini wanita itu sudah berstatus istri orang dan sedang menuntun putranya.
"Hello, Boy," sapa Ricky pada Rayyan yang bersembunyi di balik tubuh Deta. "Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu." bujuk Ricky.
Perlahan, Rayyan mengintip dari balik tubuh Deta dan mulai tersenyum ketika Ricky mengulurkan tangannya.
"Come to me! (Kemarilah)" bujuk Ricky dengan mengedipkan sebelah matanya.
Entah apa yang membuat Rayyan yakin, tapi anak tampan yang biasanya susah dekat dengan orang lain itu pun langsung menyambut tangan Ricky dan melangkahkan kakinya untuk mendekat pada Ricky.
"What is your name, Boy? (siapa namamu, Nak?)" tanya Ricky sembari membelai puncak kepala Rayyan.
"My name is Layyan." jawab Rayyan malu.
"What? Layyan?" ulang Ricky, tatapan matanya tertuju pada Deta yang sedari tadi memperhatikan interaksi kedua pria tampan di hadapannya.
"Rayyan," sergah Deta. "Namanya Rayyan Pratama, bukankah kamu sudah tahu?" ketus Deta.
Ricky terkekeh menanggapi sikap dingin Deta terhadapnya. "Aku hanya ingat nama anak kita,"
Godaan Ricky membuat wajah Deta bersemu merah. Ini sudah berlalu lima tahun, tapi Deta masih saja tidak bisa membentengi hatinya.
"Membuat orang salah paham ternyata memang keahlianmu!" Deta menarik tangan Rayyan agar kembali di dekatnya.
Ricky menghela nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar. 'Aku akan mencairkan hatimu dengan bara api cintaku, Detaku Sayang.' batin Ricky.
"Salah paham? Siapa yang salah paham? Kamu? Salah paham padaku? Kenapa?" Serbuan pertanyaan Ricky membuat Deta jengah dan berniat untuk pergi.
Dengan cepat Ricky meraih pinggang Deta dan membuat tubuh Deta berbalik dan menubruk tubuh Ricky.
"Ahh ...," pekik Deta dengan wajah yang kembali memerah.
"Jangan berteriak seperti itu! Kamu mengingatkanku pada malam penuh gairah kita." bisik Ricky, dengan sengaja ia mengeratkan lingkaran tangannya.
Tubuh Deta semakin menempel dengan tubuh Ricky hingga terganjal sesuatu yang mengeras.
"Rasakan! Adikku juga tidak bisa tenang ketika berada di dekatmu, Sayang," bisik Ricky lagi.
'Astaga!!! Apakah itu yang masuk ke tubuhku?' batin Deta ketika pandangannya menunduk. "Lepaskan aku!" berontak Deta.
__ADS_1
"Akan aku lepaskan, tapi ...."
"Tapi apa?"
"Berikan seluruh waktumu untukku,"
Flashback off...
Seperti itulah akhirnya Deta terjebak bersama Ricky, karena Deta tak ingin Rayyan melihat kemesuman CEO Sanjaya Corporation.
"Jika aku melepaskan tanganmu, bisakah kamu berjanji tidak akan lari dariku?" jawab Ricky dengan wajah sedikit menggoda.
"Aku janji." tegas Deta penuh keyakinan.
"Semudah itu?" tanya Ricky tak percaya.
"Tentu! Karena Rayyan bersamamu, tidak mungkin aku meninggalkannya." hardik Deta, tangannya mencubit pipi bulat Rayyan dengan lembut.
Ricky menatap Rayyan yang berada dalam gendongannya. "Anggaplah kita sedang latihan mengurus anak!"
Deta menganga tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Ricky, tapi pria itu justru menarik tangan Deta agar memasuki mobil.
"Dimana Gibran?" tanya Deta ketika Ricky duduk di balik kemudi.
"Jangan mencoba untuk membuatku cemburu, Sayang, atau kau akan berhadapan dengan adikku!" ancam Ricky dengan raut wajah yang cukup mengerikan bagi Deta.
"Kemari, Darling! Uncle harus menyetir," Deta memilih mengalihkan pembicaraan dengan membujuk Rayyan agar lepas dari Ricky.
"Rayyan!" Deta menaikkan sedikit nada bicaranya dan itu membuat Rayyan langsung menunduk.
"Hei, ada apa ini? Bukankah kita pergi untuk bersenang-senang? Dan, Sayang, kenapa kamu membentaknya? Biarkan Rayyan disini, aku tidak keberatan." tutur Ricky, sebelah tangannya sibuk memasang seatbelt dan melilitkannya di tubuh Rayyan yang berada di pangkuannya.
Deta memajukan bibirnya karena kesal. Itu adalah kebiasaan lama yang sulit Deta hilangkan. Ia juga lupa jika Ricky pernah memperingatkan dirinya untuk tidak melakukan hal itu.
'Tahan, Ricky! Tapi bibir itu memanggilku. Apa yang harus kulakukan' batin Ricky, tangannya mencengkram kemudi dengan erat.
"Kenapa belum berangkat? Apakah kita tidak jadi pergi? Kalau begitu, aku akan turun." desak Deta, mulai tak sabar.
Ricky menyalurkan gairahnya dengan mencubit pipi Deta. "Sabar, Sayang,"
"Ahh, sakit!" ketus Deta sembari mengusap pipinya.
"Benarkah? Mungkin, itu karena kamu menghilangkan si embem." seloroh Ricky.
"Embem?" tanya Deta bingung.
"Iya, pipimu yang kamu wariskan kepada Rayyan."
***
__ADS_1
"Tuan, apa Anda tidak ingin menyusul nyonya dan juga tuan muda?" tanya Dhirgam pada Angga yang kini tengah larut dalam lamunannya.
"Biarkan saja! Anggap saja aku sedang membayar hutangku pada sahabat terbaikku." lirih Angga, satu butir air mata lolos dari matanya.
"Tapi, Tuan -"
"Lakukan apa yang aku perintahkan dan jangan melakukan apa yang tidak aku perintahkan, Dhirgam!"
"Baik, Tuan," Dhirgam membungkuk hormat dan meninggalkan ruangan Angga.
"Nikmati waktu kalian sebelum takdir merubah arahnya."
***
Suara tawa riang Rayyan menarik senyum di wajah Deta. Selama ini, ia terlalu larut memikirkan masa depan kedua adiknya hingga ia tidak memperhatikan pertumbuhan Rayyan. Bocah kecil itu kini sudah tumbuh dan menjadi anak yang tampan.
"Siapa ibu dari anak itu?" tanya Ricky yang mengikuti arah pandangan Deta.
Deta menoleh dan melihat Ricky sedang menatap Rayyan yang tengah bermain. "Apa maksudmu? Tentu saja aku ibunya!"
Manik mata Ricky langsung tertarik dan menatap Deta dalam-dalam. Cukup lama mereka saling menatap.
'Apa yang sebenarnya membuatmu terus membohongiku?' batin Ricky.
'Mungkinkah dia sudah tahu jika Rayyan bukan putraku?' batin Deta.
"Jangan membohongiku lagi, Sayang! Katakan yang sebenarnya!" Ricky menatap tajam Deta yang mulai terlihat salah tingkah.
"Kebenaran apa?" Deta mencoba mengalihkan perhatian Ricky dengan memainkan ponselnya.
"Siapa ibu kandung Rayyan?" tanya Ricky lagi.
Deta tersenyum kaku. "Apa kamu bermimpi, Tuan Sanjaya? Akulah ibu kandung Rayyan."
'Siapa lagi yang lebih mengetahui hal itu daripada aku? Jelas-jelas kamu masih suci ketika kita pertama berjumpa setelah lima tahun.' batin Ricky.
"Aku tidak yakin. Selain pipi bulatnya, wajah Rayyan sama sekali tidak mirip denganmu." seloroh Ricky dengan senyum usil yang menghiasi wajahnya.
"Dia ... dia sangat mirip dengan daddynya." elak Deta, karena ia tidak tahu kebenaran tentang kesuciannya.
"Daddy? Angga?" Sebelah alis Ricky terangkat, menuntut jawaban. Deta menganggukkan kepalanya dan kembali memfokuskan perhatiannya pada Rayyan.
'Anak itu memang sangat mirip dengan Angga, tapi mata sipit dan bibir meronanya sangat mirip dengan ... mungkinkah?'
Hallo semuanya ๐ค
Sampai lagi kita di hari Kamis manis๐ waktunya untuk Deta sama bang Ricky kembali ๐
Jangan lupa selalu di tap jempolnya ๐ dan tinggalkan jejak ๐ฃ๐ฃ kalian di kolom komentar ๐sertakan votenya juga ya ๐ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini๐
__ADS_1
I โค U readers kesayangan kuhh