
Deta memasuki rumah dengan mengendap-endap. Namun, sayang sekali ia tidak beruntung karena ternyata Dito sudah menunggunya di ruang tamu dengan wajah datarnya.
Melihat sosok sang kakak yang kini berdiri di hadapannya, sekuat tenaga Dito menahan tawanya agar tidak menyembur keluar.
"Kakak! Kakak, darimana saja? Rayyan mencari Kakak terus? Aku sampai kewalahan menjaganya." keluh Dito, wajahnya datar tak terbaca.
Deta menunduk merasa bersalah. Ia pun menghampiri adiknya dan menangis. "Dia kembali, Dek. Dia kembali kesini." ucap Deta di sela isak tangisnya.
Dito mengerutkan keningnya. "Dia? Siapa, Kak?"
"Ricky, Dek! Dia kembali kesini." Deta menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.
Rasa sakit yang selama ini ia rasakan telah membuat Deta berpikir jika ia sudah sangat membenci Ricky dan tidak akan bisa menerima pria itu lagi. Namun, ketika mereka kembali bertemu Deta merasakan sesuatu dalam hatinya yang memberontak.
Tak tega melihat kakaknya terluka, Dito langsung merengkuh tubuh sang kakak dan memeluknya erat. "Aku disini, Kak, jangan takut!"
Inilah yang selalu terjadi setiap kali Deta mengalami masalah apapun dalam beberapa tahun ini, lebih tepatnya setelah kepergian kedua orang tua mereka. Seiring berjalannya waktu, Dito menjadi sosok pria yang lebih dewasa. Ia bahkan bersikap lebih dewasa dari pada kakaknya. Keinginan untuk melindungi kakak dan juga adik perempuannya menjadi salah satu alasan Dito untuk menjadi seorang tentara.
"Ada apa, Kak?" Dania yang baru saja keluar dari kamarnya terkejut melihat Deta sedang menangis dalam pelukan Dito.
Sorot mata gadis belia itu menaruh curiga terhadap kakak laki-lakinya yang ia tahu selama ini selalu bersikap tegas.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Dito yang risih dengan tatapan Dania. "Bukan aku yang membuat kakak menangis." tegas Dito kemudian.
Dito sudah banyak berubah sekarang, ia tidak lagi membenci Dania. Jika hal ini terjadi lima tahun lalu, pasti Dania akan menjadi sasaran kemarahan Dito dan akan selalu di salahkan atas semua hal yang tidak pernah ia lakukan.
Dania beralih menatap Deta dan mengusap bahu Deta dengan lembut. "Kakak? Ada apa?"
Mendapat perlakuan seperti itu dari kedua adiknya membuat Deta semakin terharu dan sulit untuk menghentikan tangisnya. Deta semakin terisak dalam pelukan Dito, tubuhnya sampai gemetar karena sesegukan.
"Lihat! Kamu membuat kakak semakin sedih." tuduh Dito, pada Dania yang membulatkan matanya dengan sempurna.
__ADS_1
"Apa? Kenapa jadi aku yang di salahkan?"
***
Di tempat lain, Angga sedang bermain bersama Rayyan di apartemennya. Ia terus memandangi wajah polos Rayyan ketika sedang bermain. Anak itu terus saja menanyakan keberadaan Deta hingga membuat Angga tak tega dan memilih untuk membawa Rayyan ke apartemennya.
"Kamu sudah puas bermain, Darling?" tanya Angga, ketika ia melihat Rayyan yang menatap keluar jendela apartemen.
Rayyan menoleh pada Angga, matanya basah oleh air mata. "Mommy,"
Wajah Rayyan yang di penuhi kesedihan begitu menyakiti Angga. Anak menggemaskan itu telah menempati separuh hati Angga. Kesedihannya menjadi kesedihan Angga dan kebahagiaannya menjadi tanggung jawab Angga.
Angga yang sedang bekerja di depan laptopnya pun langsung meninggalkan semua pekerjaannya dan berhambur memeluk putranya. "Daddy's here, Darling. (Ayah disini, Sayang)."
Tangan kecil Rayyan melingkar di leher Angga dan menenggelamkan kepalanya di bahu sang ayah. "I want mommy, Daddy. Where is my mommy?(Aku ingin ibu, Ayah. Dimana ibuku?)"
Angga tak bisa lagi berkata-kata, ia tahu betapa dekatnya Rayyan dengan Deta. Anak itu begitu bergantung pada Deta yang ia pikir adalah ibunya. Memang itu adalah hal yang wajar karena selama ini Deta sudah mengurus dan menyayangi Rayyan dengan sepenuh hatinya hingga anak itu pun tidak bisa di pisahkan dari Deta.
***
"Bagaimana? Sudah kamu lakukan apa yang aku inginkan?" Ricky menyilangkan kakinya, wajahnya begitu menyiratkan ketidaksabaran.
"Sepertinya kita tidak perlu melakukan tes DNA, Pak. Tuan muda Riady bersedia menjawab semua pertanyaan anda." jawab Gibran.
Ricky yang semula bersikap sangat angkuh, tiba-tiba menegakkan tubuhnya saat melihat sosok Dito memasuki ruangannya. Wajah Dito sangat tidak bersahabat, membuat Ricky jadi salah tingkah.
'Apa yang kamu lakukan, Gibran? Kenapa kamu melibatkannya?' batin Ricky, ia menatap Gibran seolah akan menelannya hidup-hidup.
'Maaf, Pak, ini cara termudah dan terakurat untuk mendapatkan semua informasi yang anda inginkan.' batin Gibran, tak ada sedikitpun perasaan bersalah dalam hatinya.
Satu hari sebelumnya...
__ADS_1
Gibran mengendarai mobil Dito yang sebelumnya di kendarai Deta untuk menghadiri pesta pernikahan Syafitri. Ia berniat untuk menyembunyikan mobil itu di suatu tempat agar tidak terlacak keberadaannya oleh Angga. Namun, baru saja ia akan memarkirkan mobil itu seorang pria sudah berdiri di menghadangnya.
"Astaga!!! Apa kamu ingin mati?" teriak Gibran dari dalam mobil, ia tak mengenali sosok pria yang memakai pakaian serba hitam dengan wajah yang terhalangi oleh topi dan juga kacamata hitam.
Gibran keluar dari mobil dan menghampiri sosok di depannya, tapi begitu sosok itu membuka kacamatanya Gibran pun langsung membungkuk hormat. "Maaf, Tuan Riady, saya pikir anda -"
"Tidak perlu banyak berpikir! Kamu pergi saja! Biar aku yang membawa mobilku, tapi pastikan kakakku aman bersama kak Ricky." tegas Dito, tanpa senyum sedikitpun.
Ucapan Dito menarik manik mata Gibran untuk menatapnya. 'Bagaimana dia bisa tahu?' batin Gibran.
"Sudah ku katakan, jangan banyak berpikir! Aku tahu segalanya."
Flashback off...
"Apa kabar, Kak? Lama tidak bertemu." Dito membuka pembicaraan, ia sudah duduk di hadapan Ricky.
Ricky memicingkan matanya, ia mencoba mencari tahu maksud di balik kedatangan Dito ke kantornya. "Aku baik, Dito. Bagaimana denganmu?"
Senyum sinis tertarik di sudut bibir Dito. "Seperti yang Kak Ricky lihat! Aku, kakak dan juga Dania hidup dengan baik."
Ada sedikit kemarahan yang masih tersisa di mata Dito. Bagaimana pun, Ricky menjadi alasan penderitaan kakaknya selama lima tahun ini. Andai hari itu tidak terjadi, pastinya Deta sudah hidup bahagia bersama dengan pria yang ia cintai. Namun, kenyataan tak pernah bisa terelakkan dan waktu tak bisa di putar kembali. Dito memilih untuk melupakan segalanya, ia hanya ingin melindungi kedua saudara perempuannya tanpa melupakan apa yang mereka inginkan.
"Maafkan, aku!" lirih Ricky, ia menyadari bahwa ucapan Dito hanyalah sebuah sindiran untuknya.
Helaan nafas kasar di hembuskan Dito. "Maaf tidak akan bisa merubah keadaan, Kak. Maaf juga tidak bisa membuatmu keluar dari hati kak Deta."
Tatapan Ricky seketika naik mendengar ucapan Dito. "Apa maksudmu?"
Hallo semuanya π€
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
__ADS_1
I β€ U readers kesayangan kuhh