Poros Jodoh

Poros Jodoh
KETURUNAN SUTOMO


__ADS_3

Empat tahun yang lalu...


Deta masih terjaga di dalam kamarnya bersama dengan Dania yang sudah berlayar ke alam mimpi.


Menyadari udara yang begitu dingin, Deta mengambil selimut tambahan untuk menghangatkan tubuh mungil Dania.


"Have a nice dream, My lil sis. (Mimpi indah, Adik kecilku.)" Deta menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh Dania.


Baru saja Deta akan kembali ke depan laptopnya, ia mendengar sesuatu yang membuatnya sangat penasaran.


"Suara apa itu?" Deta membuka lebar telinganya, ia bahkan menyelipkan rambutnya di telinga. "Bukankah itu suara ...."


Meski belum yakin dengan apa yang ia dengar, Deta tetap melangkah keluar dari kamarnya dengan hati-hati dan mengikuti arah suara itu berasal.


"Suaranya berasal dari dalam kamar Angga," gumam Deta seraya menempelkan telinganya di pintu kamar Angga.


Oeeekk... oeeekk...


"Benar! Suara itu berasal dari sini, tapi bukankah itu suara bayi menangis? Apakah Angga sedang menonton film? Tapi ini sudah tengah malam." Banyak pertanyaan berkelebatan di kepala Deta.


Deta mencoba mengetuk pintu kamar Angga, tapi tak ada jawaban apapun dari dalam sana. Dan dengan sedikit keraguan, Deta mencoba membuka pintu itu yang langsung menunjukkan sosok Angga yang sedang duduk sembari memijat keningnya.


"Angga?" panggil Deta, matanya tertuju pada sosok Angga yang terlihat begitu kacau.


Mata dingin itu menoleh dan terlihat cukup terkejut dengan kehadiran Deta.


'Kenapa dia begitu terkejut melihatku?' batin Deta.


"Kenapa kamu belum tidur? Aku mendengar suara bayi menangis dari dalam sini. Aku juga sudah mengetuk pintu, tapi kamu tidak menjawab. Aku pikir mungkin kamu -" ucap Deta, tapi ia tak bisa melanjutkan kalimatnya karena Angga menunjukkan sesuatu pada Deta.


"Lihat itu!" tunjuk Angga ke arah tempat tidur.


Tatapan Deta mengikuti arah tangan Angga, dan mata bulat itu terbelalak melihat makhluk mungil nan lucu tanpa dosa itu sedang menangis di sana.


Tanpa bertanya, Deta berjalan untuk mengambil bayi lucu itu dan membawanya dalam dekapannya. Dan ajaibnya, bayi itu langsung tenang berada dalam dekapan Deta.


Angga yang sedari tadi terlihat frustasi pun menatap Deta tak percaya. "Dia langsung diam? Kamu hebat!"


Deta mendengus. "Tentu saja! Dia diam karena aku menggendongnya, bukan menatapnya dengan tatapan mengerikan seperti itu."


"Aku tidak tahu kalau semudah itu membuatnya berhenti menangis. Kalau begitu, mulai sekarang kamu akan menjadi ibu dari anak itu." lontar Angga tanpa keraguan sedikitpun.


"Apa? Bagaimana mungkin aku menjadi ibunya?" sergah Deta, ia merasa hidupnya saja masih berantakan dan belum mampu untuk menjadi seorang ibu.


"Kau itu istriku, jadi dia adalah anakmu." tegas Angga, tak memperdulikan tatapan kesal Deta.

__ADS_1


"Itu hanya pernikahan pura-pura!" sanggah Deta, ia hampir saja berteriak.


Angga menghela nafas. "Tapi anak ini butuh orang tua. Dia butuh identitas dan juga status."


"Kalau begitu, berikan anak ini kepada orang tuanya." sergah Deta.


"Tidak bisa!"


"Kenapa?"


"Karena aku ayahnya!" ungkap Angga, ada semburat malu di wajahnya ketika mengatakan hal itu.


"Apa? Sejak kapan kamu menjadi seorang ayah? Dan lagi, siapa ibunya?" Deta memandangi wajah bayi itu.


"Mikayla," lirih Angga.


"Mi- Mika?" tanya Deta terbata.


"Iya, aku juga tidak tahu jika dia mengandung anakku. Aku pikir, anak itu adalah anaknya bersama pria itu." jawab Angga, matanya nanar menatap bayi dalam gendongan Deta.


"Aku tidak mengerti, Ga, kapan kalian melakukannya? Maksudku ...," Deta terlihat serba salah untuk melanjutkan kalimatnya.


"Aku tidak yakin, tapi sepertinya saat dia memintaku untuk membantunya mendapatkan maaf dari keluarga Ricky. Shit!! Aku tidak ingat! Malam itu aku mabuk karena aku baru mengetahui kebenaran tentang hubungan gelapnya bersama seorang pria di luar negeri." jelas Angga, mengerti maksud pertanyaan Deta.


'Kamu tidak ingat karena terlalu sering melakukannya, tuan muda.' umpat Deta dalam hati.


Pertanyaan Deta membuat Angga malu hingga lidahnya keluh dan tak mampu memberikan jawaban kepada gadis polos itu.


"Para pria memang seperti itu, lebih suka meraih kenikmatan daripada cinta." sindir Deta, yang langsung menarik mata dingin itu untuk menatapnya.


"Aku tidak mengerti dirimu, apa kamu benar-benar berpikir bahwa Ricky melakukan hal itu padamu?" tanya Angga heran.


"Dia yang mengatakannya,"


"Aku rasa itu tidak benar!"


"Tapi -"


"Aku mengenal Ricky sejak kecil, dia pria baik-baik. Dia tidak akan melakukan hal seperti itu." papar Angga, rasa sesal masih tertinggal di hatinya. "Dan jika itu benar adanya, kamu pasti sudah memiliki bayi sebesar anak ini." sambungnya.


Dahi Deta mengernyit. "Benar juga,"


"Lupakan itu! Sekarang, bagaimana nasib anak ini?" tanya Angga, ia sudah mulai putus asa.


"Menikah saja dengan Mika, maka anak ini akan memiliki orang tua, identitas, dan juga status. Lagi pula, pernikahan kita hanya pura-pura. Tidak akan menimbulkan masalah apapun untukmu." jawab Deta enteng.

__ADS_1


Angga berdecak. "Sayang sekali, anak ini tidak terlahir dari rahim wanita baik sepertimu. Wanita itu tidak mau mengurus anak ini."


"Astaga! Malang sekali nasibmu, Nak," pekik Deta, matanya mulai terasa panas membayangkan nasib bayi mungil itu.


"Jadi, aku mohon! Terimalah anak ini sebagai putramu," pinta Angga seraya mengusap kepala bayi itu.


Deta yang tak tega melihat bayi malang itu pun akhirnya menyetujui keinginan Angga untuk merawat putranya dan menganggap anak itu seperti putranya sendiri.


'Sepertinya ini adalah takdirku. Mengurus anak-anak dari keturunan Sutomo.'


Flashback off...


"Kakak sudah tahu? Kenapa tidak mengatakannya kepadaku?" sungut Dito, kesal dengan pernyataan Deta yang seolah membela Angga.


Deta menatap Mika yang terlihat begitu hancur ketika menatap Rayyan yang berada dalam gendongan Gibran. "Pak Asisten, tolong bawa Rayyan dan juga Dania berjalan-jalan di taman!"


"Baik, Nyonya," jawab Gibran tanpa bertanya.


"Anakku ...," lirih Mika ketika melihat Gibran keluar dengan membawa Rayyan dan juga Dania.


"Anakmu? Hah, Mika!" Deta mencebik. "Akulah ibunya," sinis Deta.


"Tapi aku yang mengandung dan melahirkannya!" sergah Mika.


"Benar! Tapi kamu juga yang menelantarkannya." hardik Deta, ia bahkan mengepalkan tangannya karena terlalu kesal dengan sikap Mika.


"Aku ... aku hanya menitipkannya pada ayahnya." elak Mika.


"Oh, benarkah? Kamu pikir Detaku adalah baby sitter anakmu!" sergah Ricky, ia tak tahan melihat sikap arogan Mika.


"Ricky ...," Air mata mulai mengalir di mata Mika.


Sosok Ricky yang selama ini membelanya, sudah tidak ada lagi. Ricky kini berdiri untuk menyalahkannya dan hal itu membuatnya semakin terpuruk.


"Kenapa? Kenapa Mika? Kenapa kamu mengikuti jejak kakakmu!!!" Teriakan Deta membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut.


"Sayang?" lirih Ricky, ia tak sanggup melihat wanita yang ia cintai begitu terluka. Namun, dalam hatinya Ricky masih bertanya-tanya apakah yang sebenarnya membuat Deta begitu terluka.


"Maaf, Tuan Sanjaya, aku tahu ini akan menyakitimu, tapi aku benar-benar tidak tahan lagi!" Deta menghapus cairan bening yang meluncur dari matanya. "Wanita yang kamu cintai itu sudah membuang Dania dan menyebabkan masa kecilnya begitu menyedihkan, dan sekarang adiknya datang untuk menghancurkan kehidupan anak yang sudah aku anggap seperti putraku sendiri." tutur Deta.


Melihat Deta yang begitu hancur, Ricky segera merengkuh tubuh Deta yang bergetar karena amarah.


"Kamu salah, Sayang! Wanita yang aku cintai, adalah wanita yang akan melahirkan anak-anakku."


Hallo semuanya πŸ€—

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2