
Tetesan air terasa hangat di pipi bu Sarah. Wanita itu tak kuasa menahan haru melihat kedua buah hatinya sedang tertawa dan saling berbagi.
Deta dan juga adiknya, Dito. Mereka tak menyadari bahwa bu Sarah sudah memperhatikan mereka sejak tadi.
Bu Sarah menghapus air matanya. "Kamu lihat betapa beruntungnya dirimu. Kedua anakmu bahkan bisa memaafkanmu dengan mudah, tapi kamu tidak pernah puas. Kalau bukan karena Deta aku tidak akan menerima Dania." Bu Sarah bicara dengan suara yang sedikit berbisik. Takut terdengar oleh Deta dan juga Dito.
Bu Sarah segera berbalik untuk kembali ke kamarnya. Dan ternyata pak Danang juga sedang memperhatikan kedua anaknya itu tak jauh dari tempat bu Sarah berdiri.
***
"Kamu tidak ke kantor, Boy?"
Pertanyaan pertama yang di tanyakan pak Firman begitu melihat putranya keluar dari kamar dan hanya mengenakan pakaian santai.
"Ricky cuti, Pa." Ricky meminum susunya dan mengambil sepotong roti.
"Bagus!!!" Pak Firman terlihat sangat bersemangat.
Ricky yang melihat hal itu lantas menatap bu Rika meminta penjelasan. Namun , bu Rika hanya mengangkat bahunya acuh.
"Karena kamu free , bagaimana kalau kamu membantu Papa di kantor, hemm?"
Ricky mengerutkan keningnya dan melirik jam di dinding.
"Tidak bisa, Pa."
"Ada apa, Boy? Apa kamu ada janji dengan orang lain?" Pak Firman terlihat sangat kecewa.
"Iya, Pa," Ricky terus mengunyah makanannya seraya melirik jam di dinding.
'Kenapa dia belum datang? Jangan sampai cuti ku ini sia-sia.'
"Jam berapa?" tanya Pak Firman dengan nada bicara yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
"Apanya, Pa?"
"Janji dengan orang lain." Pak Firman menyeruput tegukan terakhir kopi dalam gelasnya.
"Oh, belum tahu, Pa." jawab Ricky santai namun tersirat kekecewaan dalam kata-katanya.
Bu Rika memperhatikan Ricky dengan seksama tanpa suara.
"Ya sudah, kamu ikut Papa ke kantor. Papa janji saat makan siang kamu sudah di rumah." Pak Firman menaik turunkan kedua alisnya.
Ricky menatap ayahnya yang di balas tatapan hangat oleh pak Firman. Tapi kemudian Ricky menggelengkan kepalanya.
"Kamu bilang, kamu siap membantu Papa di kantor. Bantulah Papamu yang sudah tua ini." Pak Firman mencoba mencari perhatian Ricky.
Sebenarnya Ricky juga tidak tega melihat ayahnya mengelola perusahaan seorang diri. Tapi Ricky merasa kalau dirinya belum pantas untuk menggantikan ayahnya memimpin perusahaan.
Ricky menatap bu Rika dan pak Firman secara bergantian. Terlihat bu Rika tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah, Pa, hanya sampai makan siang."
Pak Firman mengacungkan kedua ibu jarinya ke hadapan Ricky.
***
Seperti biasa , setiap pagi Deta sangat sibuk menyiapkan ini dan itu.
"Dania? Dania?" Deta berteriak mencari-cari sosok Dania.
__ADS_1
Deta bergegas ke dapur, berpikir Dania mungkin di sana membantu ibunya.
"Ma, lihat Dania tidak?" Deta mendekati ibunya yang sedang memasak.
"Tidak."
"Dania dimana ya, Ma? Apa masih di dalam kamarnya?" Deta terus berbicara tanpa memperhatikan wajah ibunya.
"Tidak tahu, Deta!" bentak bu Sarah sudah tidak tahan lagi menahan amarah di dadanya.
"Ma ... ada apa?" Deta menyentuh tangan ibunya.
"Tidak ada apa-apa, Kak." Bu Sarah melepaskan tangan Deta.
'Mama masih seperti itu. Sepertinya Dania belum mendapatkan tempat sepenuhnya di hati mama.'
***
"Ma, Ricky berangkat, ya." Ricky berpamitan kepada bu Rika.
Ricky memutuskan untuk ikut ayahnya ke kantor setelah melewati beberapa perdebatan dengan sang ayah.
"Jangan lama-lama, ya, Pa."
"Iya."
"Sebelum waktunya makan siang aku sudah kembali." Pak Firman terlihat sedang berpikir.
"Setelah makan siang, Deal?"
Pak Firman mengulurkan tangannya. Namun Ricky hanya menatap tangan ayahnya itu.
"Pa ... jangan mencoba mengambil keuntungan dariku ya!" Ricky memicingkan matanya.
"Astaga, Boy! Aku seperti sedang tawar menawar ikan di pasar. Hahaha ...." tawa pak Firman membahana.
***
Di halaman sekolah, Deta terus memandangi Dania yang berjalan menuju kelasnya.
Betapa malangnya nasib gadis kecil itu. Tidak ada yang menginginkan dirinya. Semua kesalahan seolah bersumber darinya.
Lagi-lagi air mata Deta terjun bebas dari matanya.
Deta benci dirinya yang seperti ini. Rapuh dan tidak berdaya. Dia harus kuat demi Dania. Deta sangat tahu bahwa Dania memiliki nama dan tempat di keluarga Riady hanya karena dirinya.
***
"Selamat pagi, Bu." Deta menyapa bu Rika yang baru saja turun dari mobil.
"Kamu di sini, Ta?" Bu Rika menatap Deta heran.
"Iya , Bu, Dania minta di antar tadi."
"Oh, seperti itu," Bu Rika tersenyum.
'Kamu membuat putraku menunggu.'
***
Bayangan tatapan mata bu Rika terus terlintas di pikiran Deta . Ia merasa tatapan mata bu Rika terhadapnya sedikit berbeda.
__ADS_1
Tapi hal itu langsung di tepis oleh Deta.
"Mungkin karena aku datang terlambat." gumam Deta mencoba mengusir rasa penasarannya.
Pekerjaannya hari ini tidak terlalu banyak. Semua ruangan terlihat bersih dan rapih. Dan yang paling membuat Deta senang adalah tidak adanya gempa bumi di kamar tidur Ricky.
Ketika waktu makan siang, hampir semua pekerjaan Deta sudah selesai.
Deta menyeka keringatnya dan duduk bersandar di lantai dapur.
Terdengar seseorang berjalan masuk dan sepertinya akan menuju dapur.
"Siapa itu?" Deta berbisik pada dirinya sendiri.
"Ini belum waktunya bu Rika pulang." Deta bergumam tapi tetap memasang telinganya untuk memastikan siapa yang datang.
Hening.
'Apakah aku salah dengar?' Batin Deta.
Tiba-tiba terdengar suara tawa yang membuat Deta terlonjak.
Hahahahhahhaha...
"Siapa itu? Apakah pak Firman?"
Deta memberanikan diri untuk memeriksanya. Ternyata benar, memang pak Firman sedang duduk di sana dengan seseorang.
Tapi sayang, Deta tak bisa melihat siapa yang sedang bersama pak Firman. Karena posisi duduk orang itu membelakangi Deta.
Karena sudah memastikan bahwa keadaan aman. Deta kembali ke dapur dan menyelesaikan pekerjaannya.
"Ma, tolong buatkan aku minum!"
Suara seseorang dari depan terdengar oleh Deta. Tanpa menunggu perintah Deta langsung membuatkan minum untuk orang itu.
Begitu sampai di ruang makan,Deta melihat seorang pria tinggi dan tampan sedang duduk dengan wajah yang sangat serius sambil menatap laptopnya. Dan aura tuan muda terlihat jelas di dirinya.
'Apakah dia yang meminta di buatkan minum?' tanya Deta dalam hati.
Deta melangkah ragu.
"Permisi, Pak, ini minumannya." Deta meletakkan segelas minuman dingin di sisi kiri pria itu.
Tanpa menunggu jawaban Deta langsung berbalik dan kembali ke dapur.
Tangan Deta berkeringat. Dia sangat gugup. Deta menyadari sesuatu. Bahwa pria tadi adalah Ricky Sanjaya. Pria yang sangat ingin ia lihat.
'Dia tidak berbeda dengan tuan muda lainnya. Dingin dan angkuh. Apa dia tidak mengenaliku?'
Deta menepuk-nepuk kedua pipinya.
"Ayolah, Deta! Dia bahkan tidak menyadari keberadaanmu. Jangan bermimpi dia akan menatapmu!!!" Deta menelan ludah dengan susah payah.
"Bermimpilah!!! Aku suka mimpimu."
Deta menoleh dan melihat seseorang sedang menatapnya dari ambang pintu.
Kira - kira bang Ricky mau apain Deta ya kalo udah ketemu langsung gitu 🤔🤔
Selamat berhaluuuu 🤗🥰
__ADS_1
Jangan lupa likenya ya 😍