
Ricky keluar dari kamar mandi dengan wajah kecewa karena Deta menolak bantuannya untuk memandikan Deta yang masih kesakitan akibat ulahnya semalam.
"Apa yang harus aku lakukan?" Ricky mengacak-acak rambutnya untuk menyalurkan rasa frustasinya.
Walaupun sedikit kesal, tapi Ricky sangat bahagia mengetahui Deta telah menjadi miliknya. Ricky memandang ke arah tempat tidur yang meninggalkan setitik noda merah di atasnya. "Kamu milikku, Sayang." Telunjuk Ricky mengarah ke noda itu.
Sebelum menjauh dari kamar mandi, Ricky sempat menempelkan telinganya di pintu untuk memastikan keadaan Deta di dalam sana. Tidak terdengar suara apapun selain isak tangis Deta yang terdengar memilukan.
"Maafkan aku, Detaku sayang! Tapi aku tidak bisa melepaskanmu kali ini." ucap Ricky seraya menempatkan telapak tangannya di pintu.
Melihat kondisi Deta yang seperti itu, Ricky memperkirakan jika Deta akan menghabiskan waktu yang cukup lama di dalam kamar mandi. Itu sebabnya Ricky menghubungi pihak hotel untuk membersihkan kamarnya dan mengganti spreinya dengan yang baru. Ricky tidak ingin Deta menyadari jika dirinya masih suci dan ia baru saja merenggutnya.
'Biarlah Deta berpikir aku sudah melakukannya lima tahun lalu. Yang terpenting bagiku hanyalah dia tetap disisiku apapun yang terjadi.'
***
Gumpalan busa menutupi tubuh polos Deta yang terendam di dalam bathup, kenyaman itu membuatnya hanyut dalam lamunan.
Lima tahun yang lalu...
Deta baru saja keluar dari rumahnya sembari membawa kotak yang berukuran cukup besar, wajahnya belum sepenuhnya bersih dari sisa riasan pengantin yang ia kenakan pada pernikahannya yang gagal bersama Ricky.
Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di halaman rumahnya dan menghalangi langkah Deta yang akan membawa pergi kotak itu. Ia memicingkan matanya karena tak mengenali mobil mewah yang baru saja terparkir di hadapannya. Namun, Deta sangat terkejut saat seorang pria keluar dari mobil itu. "Angga?"
Angga menurunkan kacamata hitamnya dan tersenyum kaku pada Deta yang menatapnya tidak percaya. Deta tahu jika Angga adalah sahabat Ricky, tapi ia tidak tahu jika Angga memiliki kekayaan seperti yang dimiliki keluarga Sanjaya. Yang Deta tahu selama ini, Angga hanyalah seorang pengajar di tempatnya belajar.
"Jika kamu kesini untuk membujukku kembali, maaf aku tidak bisa. Aku sudah memutuskan untuk mundur dan pergi dari hidupnya. Tidak ada yang bisa mengubah keputusanku." ketus Deta.
__ADS_1
"Aku mendukung keputusanmu." Ucapan Angga langsung menarik manik mata Deta untuk menatapnya.
Deta berpikir jika Angga datang untuk memintanya kembali pada Ricky, tapi ternyata dugaannya salah. Angga datang untuk maksud lain terhadap Deta.
"Bisakah kita bicara?" tanya Angga, saat Deta masih terpaku dengan ucapan Angga sebelumnya. "Berdua saja." tambahnya.
Keraguan nampak jelas di mata Deta, ia masih berjaga-jaga jika ada kemungkinan Angga hanya menjebaknya dan membawanya kepada Ricky.
"Ayo!" Angga membukakan pintu mobilnya dan meminta Deta untuk ikut bersamanya. "Letakkan kotak itu!" titah Angga kemudian.
"Tidak. Aku ingin mengembalikannya pada orang yang telah memberikan ini padaku." sergah Deta , tanpa menatap Angga yang sedang memegangi pintu mobil. Sementara Deta sibuk memasukkan kotak besarnya itu.
Helaan nafas terdengar dari Angga yang mulai tidak sabar menghadapi sikap keras kepala Deta. "Baiklah, lakukan apa yang menurutmu baik."
Mobil melaju sangat cepat dan berhenti di sebuah taman yang terletak tidak jauh dari rumah keluarga Riady. Perjalanan singkat itu sangat membosankan karena hanya ada keheningan yang tercipta di antara keduanya.
"Kotak ini berisi gaun pengantin serta beberapa perhiasan yang di berikan pak Ricky padaku. Aku bermaksud untuk mengembalikannya kepada pak Ricky karena aku tidak ingin menyimpan benda apapun darinya." tutur Deta, seketika dadanya terasa sesak saat ia kembali teringat setiap kata yang keluar dari mulut Mika.
Kata-kata Mika terus saja terngiang di telinga Deta. Kenyataan bahwa ayahnya berselingkuh dengan sekretarisnya yang tidak lain adalah kakak kandung dari Mika membuat Deta cukup terkejut. Namun, ada kenyataan yang lebih menyakitkan daripada itu ialah rasa cinta Ricky terhadap Anika yang tak pernah padam hingga membuatnya berniat mengambil Dania dari Deta. Ricky juga sudah menipunya dengan berpura-pura tidak mengetahui kebenaran tentang Dania. Deta berandai-andai jika saat itu Ricky lebih terbuka padanya, mungkin mereka akan menjadi teman baik meskipun pernikahan mereka gagal.
"Menyakitkan?" Tiba-tiba Angga bertanya, tapi pertanyaan itu membuat Deta bingung dan langsung menatapnya untuk meminta penjelasan.
Angga mengambil kotak yang berada di pangkuan Deta dan meletakkannya di bawah kaki Deta. "Aku bertanya, apakah itu begitu menyakitkan?"
"Benar. Sangat menyakitkan." Deta menjawab Angga tanpa berpikir lagi. Rasa sakit yang ia rasakan memang sudah menggerogoti hatinya.
Senyuman sinis menarik sudut bibir Angga. "Aku juga tahu bagaimana rasa sakit itu. Aku sudah mencoba berbagai cara, tapi aku tetap tidak bisa menghilangkan rasa sakit yang di tinggalkan olehnya."
__ADS_1
Deta mengerutkan dahinya, mencoba memahami ucapan Angga. "Maksudmu?"
"Hah!" Angga menghembuskan nafas kasar. "Cinta memang begitu menyakitkan, seperti rasa cintaku yang telah di manfaatkan oleh Mika. Betapa bodohnya aku." Pandangan Angga menerawang jauh ke depan.
"Maksudmu ... kamu dan Mika -"
"Benar. Aku dan Mika pernah saling mencintai sebelum dia pergi meninggalkan aku." lirih Angga.
Gurat kesedihan terpatri jelas di wajah tampan Angga dan itu memunculkan sedikit simpati di hati Deta. "Bukankah Mika disini? Kenapa kalian tidak kembali bersama?"
"Jika Ricky memintamu kembali, apakah kamu akan menerimanya?" Angga memberikan Deta pertanyaan sebagai jawaban dari pertanyaan Deta sebelumnya.
Tatapan mata Deta berubah hampa, jauh di relung hatinya yang terdalam ia begitu mencintai Ricky meskipun bibirnya tak mampu berucap. Namun, kenyataan yang baru saja di ungkapkan Mika membuatnya seolah terhempas dari atas angin.
"Tidak." jawab Deta yakin setelah kesadarannya kembali. "Aku tidak bisa hidup bersama pria yang mencintai wanita lain." ucap Deta kemudian.
"Itulah yang kumaksud. Aku juga tidak bisa kembali bersama Mika karena aku baru saja mengetahui jika dia sudah hidup bersama pria lain, sementara aku terus menunggunya disini seperti orang bodoh." Senyuman di wajah Angga sangat kontras dengan air mata yang baru saja mengalir di pipinya.
Merasa dirinya memiliki nasib yang sama dengan Angga, Deta pun berinisiatif untuk menggenggam tangan Angga sebagai bentuk dukungan terhadapnya. Namun, Angga mengartikannya sebagai hal lain.
Angga menoleh dan menatap manik mata Deta yang juga sedang menatapnya. "Ayo, kita menikah dan lari saja dari rasa sakit ini!"
Hallo semuanya π€
Jangan lupa di tap jempolnya π dan juga tinggalkan jejak kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1