
"Damn it! (Sial!)" umpat Nino, ia terus saja menghantamkan kepalanya di kemudi mobil.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, Nino meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Hei, Brother! Kamu dimana?" tanya Nino, begitu panggilannya tersambung.
"Aku di rumah," jawab seseorang di seberang panggilan.
"Baiklah, aku kesana." Nino segera memutuskan panggilannya dan melaju ke tempat yang di maksud.
***
Sementara di tempat lain, Ricky baru saja merutuki panggilan dari ponselnya yang membuat dirinya harus menunda aktivitasnya.
"Seharusnya, aku mematikan benda ini lebih dulu!" gumam Ricky kesal, ia melihat ke arah Deta yang sedang menatapnya.
"Siapa?" tanya Deta, suaranya nyaris tak terdengar.
"Nino." Ricky menunjukkan ponselnya sebelum meletakkan benda pipih itu ke dalam laci nakas.
"Nino?" Deta memutar bola matanya, mencari sosok yang di maksud Ricky.
Ricky segera menyusul Deta yang menunggunya di atas tempat tidur. "Jangan memikirkan orang lain! Cukup pikirkan aku saja!"
Tangan nakal Ricky melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda. Ia memulai aksinya untuk membuat Deta lupa diri.
Beberapa saat sebelumnya...
Mobil Ricky baru saja memasuki halaman rumah yang cukup besar. Rumah itu nampak terawat meskipun sepertinya tidak berpenghuni. Pandangan Deta berkeliling mengamati rumah itu.
"Rumah ini?" tanya Deta ragu.
"Benar! Ini adalah rumah masa depan kita." sergah Ricky, seperti mengerti maksud Deta.
Dengan cepat Ricky keluar dari mobil dan berjalan memutar untuk membukakan pintu bagi Deta.
"Ayo, Sayang!" Ricky mengulurkan tangannya. Meskipun terlihat ragu, tapi Deta tetap menyambut uluran tangan Ricky.
Senyum Ricky mengembang, ia menggandeng tangan Deta untuk memasuki rumah yang pernah di datangi oleh Deta lima tahun yang lalu.
Begitu mereka sampai di depan pintu, tiba-tiba saja pintu terbuka dan memperlihatkan beberapa pelayan yang sudah menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang, Nyonya," ucap para pelayan itu bersamaan.
"Welcome to our home, Mrs. Sanjaya, (Selamat datang di rumah kita, Nyonya Sanjaya,)" ucap Ricky seraya merentangkan tangannya ke depan.
Deta menoleh, ia tak kuasa menahan haru melihat betapa besarnya cinta Ricky untuknya.
__ADS_1
"Jangan menangis, Sayang!" Tangan besar Ricky menghapus air mata yang membasahi pipi Deta. "Ayo, kita mulai hidup kita yang baru!" ajak Ricky.
Mereka melangkah bersama memasuki rumah yang menjadi impian mereka di masa lalu. Dan betapa terkejutnya Deta, ketika ia melihat ada banyak potret dirinya menghiasi dinding rumah besar ini.
"Foto itu ...," Deta menunjuk sebuah potret dimana dirinya dan Ricky baru saja melangsungkan acara lamaran.
"Itu foto saat aku melamarmu." Ricky mengikuti arah tatapan Deta. "Lihat! Embem masih disana." Ricky menunjuk pipinya sebelum menunjuk potret itu.
Pandangan Deta beralih menatap Ricky yang sedang terkekeh. Di tatapnya wajah pria yang selalu ia rindukan.
'Dia begitu bahagia! Apakah memang aku sudah salah meninggalkannya?' batin Deta.
Ricky yang menyadari bahwa Deta sedang menatapnya pun tiba-tiba menoleh dan menatapnya dengan penuh arti.
"Aku semakin tampan bukan? Kamu menyesal 'kan sudah meninggalkan aku?" tanya Ricky seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Ya, kamu memang tampan. Tidak mungkin 'kan aku mengatakan bahwa kamu semakin cantik," sanggah Deta, tak mau mengakui bahwa Ricky memang semakin tampan.
Tak ingin banyak bicara, Ricky kembali membopong tubuh Deta dan membawanya masuk ke dalam kamar utama.
"Turunkan aku!" teriak Deta, tangannya memukul-mukul dada bidang Ricky.
Walaupun terasa nyeri, tapi Ricky tetap bertahan dan membiarkan Deta memukulnya sesuka hati hingga akhirnya Ricky menurunkan Deta di atas tempat tidur yang sama yang membuat Ricky hampir kehilangan kendali atas dirinya lima tahun yang lalu.
"Mesum!" sungut Deta seraya mendorong tubuh diri agar menjauh darinya.
Begitu tubuh Ricky menjauh, Deta melihat ada banyak potret dirinya di sekeliling kamar tidur yang besar itu. Deta mendudukkan tubuhnya dan menangis sejadi-jadinya.
Deta menghapus air matanya. "Tidak, tapi kamu membuatku merasa bersalah."
"Aku tidak mengerti," ucap Ricky bingung.
"Kenapa masih mencintaiku? Seharusnya, kamu melupakanku dan menikah dengan wanita lain, seperti yang aku lakukan." jelas Deta, air matanya terus mengalir seolah mewakili betapa dalam luka di hatinya.
Ricky menatap tajam ke arah Deta. "Aku tahu, kamu melakukan itu karena terpaksa. Dan aku juga tahu, bahwa kamu selalu mencintaiku."
"Itu tidak benar!" sanggah Deta seraya memalingkan wajahnya.
Seringai tipis tertarik di sudut bibir Ricky mendengar jawaban wanita yang sangat ia cintai. Dengan penuh semangat, Ricky mengambil sesuatu yang tersimpan di dalam laci yang berada di sisi tempat tidur.
"Lalu, apa arti semua ini?" Ricky menunjukkan sebuah buku yang pernah di berikan oleh Dito kepadanya.
Mata bulat itu terbelalak melihat apa yang ada di tangan Ricky, tepat sebelum ia menyangkalnya. "Aku tidak tahu!"
Langkah kaki Ricky membuat jarak di antara mereka semakin berkurang hingga detak jantung Deta berpacu lebih cepat.
'Apa yang akan dia lakukan sekarang?'batin Deta, ketika Ricky semakin mengukung tubuhnya.
__ADS_1
Dalam sekali gerakan, Ricky menyergap bibir mungil yang menantangnya itu. Kali ini, ia melakukannya dengan lebih menuntut dan membuat Deta kewalahan.
"Emm ...," Deta mencoba mendorong tubuh Ricky, tapi pria itu bersikukuh untuk menawannya.
Tiba-tiba, suara ponsel Ricky berdering. Awalnya ia ingin mengacuhkan panggilan itu, tapi ponselnya terus berdering dan mengganggu dirinya.
"Sial! Siapa yang berniat sekali untuk menggangguku?" umpat Ricky seraya berjalan untuk mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas nakas.
Flashback off...
"Ricky!!! Dimana kamu?" teriak Nino ketika seorang pelayan baru saja membukakan pintu untuknya.
"Maaf, Tuan Ferdinan, tuan sedang beristirahat di kamarnya." Pelayan itu menjelaskan seraya membungkukkan tubuhnya.
"Di kamarnya?" Nino mengulangi perkataan pelayan tadi.
"Iya, Tuan,"
"Dengan siapa?" tanya Nino lagi, penasaran dengan apa yang sedang di lakukan oleh Ricky.
"Untuk apa kamu tahu? Kamu ingin memata-mataiku, ya?" sergah Ricky yang baru saja menuruni tangga.
Mata Nino memicing ketika melihat penampilan sahabatnya yang sedikit berantakan. "Apa yang baru saja kamu lakukan?"
"Apa?" Ricky melipat kedua tangannya di dada begitu ia duduk berhadapan dengan Nino.
"Kamu ... habis bermain, kan?" tuduh Nino, ia mengarahkan jari telunjuknya kepada Ricky. "Akhirnya, cintamu terkalahkan oleh hasrat yang tak tertahan." sindir Nino.
"Hahahaha ... kamu benar! Aku telah kalah oleh hasratku." Ricky tak bisa menahan tawanya.
"Stop it! Kamu benar-benar akan menyesal, Brother," ucap Nino, memberi peringatan kepada sahabatnya.
"Maksudmu?" Ricky menaikkan sebelah alisnya.
Nino menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Aku baru saja bertemu dengan adiknya Deta."
"Lalu?" tanya Ricky santai.
"Lalu apa?" sungut Nino, kesal dengan reaksi yang di tunjukkan oleh Ricky. "Itu artinya, Deta juga ada disini. Dia sudah kembali!" jelas Nino.
Terdengar gelak tawa dari bibir Ricky dan kali ini lebih keras dari sebelumnya. "Apa kamu baru saja keluar dari gua hantu, No?"
Nino mengernyit.
'Selain kesepian karena di tinggalkan Deta, apakah kini Ricky juga menjadi gila?'
Hallo semuanya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga 'ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh