
"Kemana Ricky pergi?" Bu Rika sudah menanyakan hal yang sama berulang kali kepada suaminya.
"Tenanglah, ma! Ricky sudah dewasa, dia pasti tahu cara menjaga dirinya sendiri."
Pak Firman yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya mulai jengah dengan sikap istrinya yang tidak bisa tenang.
"Papa tidak berniat mencarinya?" Bu Rika menatap suaminya curiga.
"Untuk apa di cari kalau sudah tahu ada dimana." Pak Firman meletakkan ponselnya di nakas dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
"Maksudnya apa? Papa sudah tahu Ricky ada dimana? Kenapa tidak memberitahu mama?"
Bu Rika ikut berbaring di samping suaminya itu dan memiringkan tubuhnya agar menghadap sosok pria yang sudah menua bersamanya.
"Lebih baik mama tidak tahu. Kalau mama tahu, mama pasti lebih khawatir."
Pak Firman bicara namun matanya masih tetap fokus pada langit-langit kamar.
"Sesuatu yang salah terjadi kan, pa?"
"Tidak salah, ma. Hanya terlalu cepat."
"Apanya yang terlalu cepat, pa?"
"Jagoan Papa terlalu tancap gas." Pak Firman berdecak dan meletakkan tangannya di atas kepala.
Bu Rika yang sama sekali tak mengerti kemana arah pembicaraan suaminya hanya bisa mengerutkan keningnya.
***
Berbeda dengan kediaman Sanjaya yang tetap tenang karena kehilangan jejak Ricky.
Di rumah keluarga Riady segala hal berjalan tidak baik. Semua orang panik mencari keberadaan Deta.
Terdengar pertengkaran antara Bu Sarah dan pak Danang yang berimbas pada Dania.
Anak malang itu selalu di salahkan di setiap situasi buruk yang terjadi di rumah itu. Biasanya Deta akan menjadi perisainya. Namun kali ini, jangankan menjadi perisai bagi Dania. Justru Deta lah yang menjadi alasan Dania kembali menjadi bulan-bulanan keluarganya.
"Kalau sampai kak Deta tidak kembali. Aku akan membuangmu di jalanan!!!"
BRAKKK!!!!
Dito membanting pintu kamar Dania dan menguncinya dari luar.
"Kakak dimana?hiks... hiks... Cepat pulang kak! Dania ta.... kuuuuttt...hiks... hiks"
Gadis kecil itu duduk di sudut ruangan sambil terus menangis dan memeluk lututnya.
***
Kukuruyukk... Kukuruyukkk...
Suara alarm di ponsel Deta berbunyi seperti biasa setiap paginya.
Dengan berat hati Deta membuka matanya dan tersentak menyadari bahwa ia tidak sedang berada di dalam kamarnya.
Deta mengucek matanya dan mencoba mengingat hal-hal yang terjadi malam sebelumnya.
Lambat laun,ingatan tentang dirinya dan Ricky yang berciuman di pantai hingga pertengkaran kecil yang berakhir dengan pelukan hangat. Perlahan mulai muncul dan membuat rona merah di pipinya yang chubby.
Deta menutupi wajahnya dengan selimut dan berguling-guling di atas tempat tidur hingga selimut membungkus tubuhnya.
__ADS_1
"Tunggu!!! Dimana Pak Ricky?" Deta berguling ke arah sebaliknya untuk melepaskan selimut yang melilitnya.
Di perhatikannya sekeliling kamar hotel tempat ia menginap semalam. Tak nampak sosok pria yang ia cari.
"Apakah dia berada di dalam kamar mandi?" Deta menurunkan kakinya dan melangkah mendekati kamar mandi.
Tok... Tok... Tok...
"Pak, anda di dalam?"
Karena tak kunjung mendapat jawaban, Deta menyelipkan rambutnya di telinga dan menempelkan telinga nya di pintu.
"Tidak ada suara apapun." Gumam Deta. Ia tak menyadari bahwa seseorang telah membuka pintu kamarnya.
"Bolehkah aku bertanya sedang apa dirimu, sayang?"
"Astagaaaa!!!" Tubuh Deta terlonjak karena begitu terkejut.
Rasanya jantung Deta sudah jatuh ke perutnya. Kakinya merasa lemas dan tangannya sudah berkeringat.
Ricky melangkah dan semakin mengurangi jaraknya dengan Deta yang masih mematung di tempatnya.
"Haruskah aku bertanya lagi?" Ricky menyentuh ujung rambut Deta.
"Saya pikir anda di dalam, pak." Jawab Deta ragu,tak berani menatap Ricky.
"Kamu mencariku? Sudah lama? Apa kamu butuh sesuatu? Aku berada di kamar sebelah. "
"Anda tidak tidur disini, pak?"
"Hemm"
Dengan cepat Deta mengalihkan pandangan nya.
"Ada apa? Kamu kecewa?" Ricky tersenyum usil melihat raut wajah Deta yang berubah masam.
"Tentu tidak, pak. Memang sebaiknya anda tidak berada di satu ruangan dengan saya karena itu akan merusak citra baik anda."
Ricky berdecak kemudian memutar tubuhnya. Begitu akan melangkah ia mengurungkan niatnya.
"Lidahmu begitu tajam.Sayangnya ,hanya kamu gunakan untuk merendahkan dirimu sendiri." Ricky melangkahkan kakinya menuju pintu.
Deta merasa cara bicara Ricky padanya kali ini berbeda. Dan itu membuat sedikit luka di hati Deta.
"Tidak ingin pulang?" Ricky sudah berdiri di ambang pintu dan menunggu Deta yang masih termenung.
Kesadaran Deta kembali begitu mendengar suara Ricky.
"Ah, iya. Maaf pak!"
Deta melangkah dengan pikiran yang tidak karuan dan bercabang kemana-mana.
***
"Kita akan makan dulu, lalu aku akan mengantarmu pulang. Apa kamu keberatan?" Ricky menoleh pada Deta yang duduk di sampingnya.
Deta hanya tersenyum dan mengangguk. Ia masih bingung dengan sikap Ricky.
Sebelumnya Deta berpikir akan menerima pria ini dalam hidupnya tapi begitu melihat perubahan sikap Ricky padanya. Membuat hatinya kembali ragu.
Haruskah ku katakan sekarang?
__ADS_1
Tapi dia tak pernah menanyakannya lagi.
Batin Deta berkecamuk.
Hanya keheningan yang tercipta sepanjang perjalanan mereka kembali.
Bahkan saat menepi di restoran, baik Ricky maupun Deta hanya diam dan menghabiskan makanan mereka.
Di perlakukan seperti orang asing. Itulah yang Deta rasakan saat ini.
Apakah dia menganggapku sebagai wanita murahan karena telah membalas ciumannya???
Ataukah sebenarnya dia hanya bermain-main denganku dan dia sudah mulai bosan?
Pikiran Deta tak henti-hentinya memikirkan segala kemungkinan yang ada.
Ricky berjalan lebih dulu dan membiarkan Deta berada di belakangnya.
Deta yang melangkah gontai tertinggal cukup jauh dengan langkah kaki Ricky yang panjang.
Saat keluar dari restoran Deta melihat Ricky sedang berbicara dengan seseorang di telpon sembari sesekali melihat jam di tangannya.
Sepertinya seseorang sedang menunggunya.
Deta memperhatikan Ricky dari kejauhan.
Seorang pria muda tampan nan kaya. Di lihat dari segi manapun ia sangat sempurna.
Tubuhnya yang tinggi dengan otot yang kekar. Garis wajah yang maskulin. Senyum yang menawan. Tak hanya baik di luar, Ricky juga memiliki kepribadian yang baik.
Menyadari semua hal itu semakin menurunkan rasa percaya diri Deta.
Dirinya yang hanya seorang pelayan dan tidak memiliki pendidikan yang tinggi.Sangat tidak layak bersanding dengan seorang tuan muda yang sempurna seperti Ricky Sanjaya.
Lagi-lagi air mata lolos dari matanya. Kali ini Deta tersenyum dan menghapus air mata nya.
"Kenapa akhir-akhir ini aku menjadi cengeng?" Deta mengelap matanya sambil terus terisak.
Sedangkan Ricky yang sudah selesai dengan urusannya di telpon. Terus memperhatikan Deta yang tersenyum namun air matanya terus mengalir.
"Cih!!! Kamu memang aneh!"
Ketika Ricky hendak menghampiri Deta. Ia melihat pedagang balon di tepi jalan. Ia pun tersenyum dan berbelok ke penjual balon tersebut.
"Ini untukmu." Ricky menyodorkan beberapa balon kepada Deta.
"Untuk apa?" Deta terlihat bingung namun tetap menerimanya.
"Agar kamu senang dan berhenti menangis."
Hah???
Hallo semuanya🤗
Semoga kalian suka ceritanya🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak👣 kalian di sini ya 👍
Aku sayang kalian semua 😘
Follow ig ku ya @deawahyunita
__ADS_1