
"Paksa dia dan bersikaplah seperti seorang tuan muda!!!"
"Tuan muda apanya? Cih!!!" Ricky mengumpat mengingat saran yang di berikan oleh Nino tadi di cafe.
Langit-langit kamar kini menjadi sasaran mata tajamnya yang membayangkan wajah menyebalkan Nino.
Rasa penyesalan terus saja menggelayuti hatinya. Belum juga ia meminta maaf perihal "kejutan" di kamarnya, dan kini ia justru menambah daftar permintaan maafnya karena sudah "menabrakkan" bibirnya dengan paksa ke bibir Deta.
"Menabrakkan???" Ricky bergumam seraya terkekeh mengingat ekspresi wajah Deta saat mengatakan hal itu.
Ricky mengingat-ingat ciuman yang ia lakukan. Dari kedua ciuman itu terlihat sangat jelas bahwa Deta tidak pernah melakukannya.
'Sial!!!'
Ricky mengacak-acak rambutnya dan mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa aku harus terburu-buru seperti itu? Pantas saja dia sampai berpikir bahwa aku menganggapnya wanita murahan."
Ricky segera bangkit dari tempat tidur dan berniat untuk menemui Deta di kamarnya, tapi baru saja melangkah ia langsung berubah pikiran.
"Bagaimana kalau dia berpikir aku menginginkan "sesuatu" darinya? Bukankah hubungan yang bahkan belum di mulai ini akan semakin berantakan?" Ricky mencoba menimbang-nimbang keputusannya.
Hingga akhirnya,ia memilih kembali ke tempat tidur. Namun dengan mata yang sulit terlelap hingga dini hari.
***
"Sepertinya semalam ada tamu, Ta." Refita yang baru turun langsung ke dapur menghampiri Deta yang sedang membuat sarapan.
"Iya, Kak," Deta tersenyum dan menyerahkan segelas teh hangat kepada Refita.
"Siapa?"
"Pak Ricky, tapi karena Kak Fita sudah tidur. Saya tidak enak untuk membangunkan," Deta tidak berani menatap mata Refita karena ia sedang berbohong.
Refita yang sebenarnya sudah tahu hanya mengangguk pura-pura tidak tahu.
"Mau apa dia kesini?" Refita mencoba mencari tahu ada hubungan apa antara Deta dengan adiknya.
Deta yang merasa kebingungan di tanya mengenai hal itu tak bisa mengatakan apapun sampai terdengar seseorang sedang menuruni tangga.
Refita dan Deta menoleh bersamaan dan melihat Ricky yang sepertinya baru saja terjaga.
"Kak, aku pinjam bajunya kak Yoga." Ricky langsung menghampiri meja makan dan melihat tidak adanya susu hangat di meja.
"Dimana susu hangat untukku, Kak?" Ricky bertanya pada Refita yang berjalan mendekatinya. Namun, matanya menatap Deta yang masih di dapur dan membelakanginya.
Sadar dengan situasi yang terjadi antara Deta dan adiknya, Refita yang tidak ingin ikut campur hanya mengangkat bahunya acuh.
Ricky mendengus melihat tingkah kakaknya. "Baiklah, aku tidak perlu minum susu. Aku hanya akan sakit perut!!!"
Dengan sengaja Ricky mengeraskan suaranya agar dapat di dengar oleh Deta yang berada di dapur.
Refita yang mendengar Ricky mengatakan hal itu bersusah payah untuk menahan tawanya.
__ADS_1
'Hahaha ... sejak kapan anak nakal ini akan sakit perut hanya karena tidak minum susu?' Refita tertawa dalam hatinya.
Di liriknya Deta yang masih tidak bergeming meskipun Ricky sudah mencoba menarik perhatiannya.
'Aku akan membantumu, adik kecilku.' Refita menatap adiknya yang sudah mulai putus asa.
"Ta... Ta!!!" Refita memanggil Deta yang masih sibuk di dapur.
"Jangan memanggilnya seperti itu, Kak!" Ricky sangat kesal bila ada yang memanggil Deta dengan panggilan lain yang lebih akrab.
Sebenarnya, Ricky hanya cemburu karena ia tidak bisa sedekat itu dengan Deta hingga bisa mempunyai panggilan khusus.
"Memang kenapa? Deta saja tidak keberatan. Iya 'kan, Tata?" Terlihat Deta yang sudah mendekat dengan segelas susu hangat di tangannya.
Ricky terkejut melihat Deta ternyata membuatkan susu hangat untuknya.
"Silahkan!" Deta meletakkan susu itu di meja tepat di hadapan Ricky.
"Terima kasih." Ricky tersenyum dengan sangat manis berharap Deta akan membalas senyum nya dengan manis pula.
"Kembali kasih, Mas Ricky." jawab Refita sembari menopang pipinya dengan sebelah tangan.
Deta dan Ricky sama-sama terkejut dan saling berpandangan mendengar ucapan Refita.
'Bagaimana kak Fita bisa tahu?' Batin Deta seraya terus menatap Ricky dan Refita secara bergantian.
'Jangan-jangan semalam kakak mengintip! Kakak ini benar-benar!!!' Ricky mengumpat dalam hati dan melihat wajah Deta yang sudah terlihat kebingungan.
"Ada apa?"
"Tidak!" ketus Ricky.
"Ky, bagaimana kabar Mika? Kakak dengar dia sudah kembali, apa kamu sudah bertemu dengannya?" Refita melirik Deta yang masih berdiri di sampingnya, berusaha menangkap setiap ekspresinya.
"Sudah. Duduklah jangan berdiri saja seperti pelayan!" Ricky melayangkan pandangannya pada Deta yang masih mematung.
"Maaf, Pak, saya memang pelayan." Deta menunduk semakin dalam menyadari posisi dirinya.
"Tapi kamu bukan pelayanku." Ricky sudah berdiri dan meraih tangan Deta untuk duduk.
"Maaf, Pak, karena saya bukan pelayan anda, jadi anda tidak bisa memerintah saya. Tapi jika anda merasa terganggu dengan kehadiran saya disini, maka saya akan pergi. Saya permisi." Deta melangkah mundur kemudian berbalik meninggalkan tangan Ricky yang merasa hampa karena baru saja di lepaskan dari tangannya.
Refita memperhatikan semua adeganyang terjadi di hadapannya dan mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Lagi-lagi ia tersenyum penuh arti melihat kedua anak manusia yang saling berdekatan. Namun, tidak bisa berdampingan.
'Kamu bergerak lambat!!!'
***
Atas permintaan Refita, Deta akhirnya terpaksa mengantarkan pakaian Yoga ke kamar Ricky.
Tok... tok... tok...
__ADS_1
Tidak lama, pintu kamar langsung terbuka dan menampakkan wajah tampan Ricky.
Deta mengulurkan tangannya dan menyerahkan pakaian yang di bawanya tadi kepada Ricky.
Ricky yang bingung menaikkan sebelah alisnya menuntut penjelasan. Namun, Deta yang tak menyadari hal itu hanya terdiam mematung di depan pintu.
Terdengar Ricky berdecak dan menarik tangan Deta untuk masuk ke dalam kamar.
Deta yang bertubuh mungil bisa dengan mudahnya terseret dengan tarikan Ricky.
Saat Deta berbalik, Ricky sudah menutup pintu dan menguncinya.
"Apa yang anda lakukan?" Deta bertanya dengan panik.
"Memberimu hak untuk bicara." Ricky mengambil pakaian di tangan Deta dan meletakkannya di atas tempat tidur.
"Saya tidak ingin membicarakan apapun."
Deta sudah melangkah ke depan pintu dan akan memutar kunci pintu namun tiba-tiba Ricky memeluknya dari belakang.
Karena terkejut Deta langsung berbalik dan wajahnya langsung berhadapan dengan Ricky.
'Kenapa bila di dekatnya aku selalu kehilangan kendali atas diriku?' Ricky menatap Deta penuh arti.
'Aku tidak bisa seperti ini!!! Atau aku akan di rendahkan terus olehnya.' Deta menarik nafas dalam dan mendorong dada bidang Ricky dengan sekuat tenaga.
Ricky mundur beberapa langkah dan melihat Deta yang mulai di liputi amarah.
"Dengar, Tuan muda Ricky Sanjaya! Saya memang hanya pelayan, tapi jangan anda pikir jika anda menyentuh saya maka saya akan merasa terhormat. Anda salah, Pak! Yang benar adalah Anda telah kehilangan rasa hormat saya, karena Anda telah mengambil hak calon suami saya."
"Kamu akan menikah?"
"Tentu!!!"
"Kapan?"
Deta diam tidak menjawab.
"Dengan siapa!!!!" Kali ini Ricky berteriak dan membuat Deta terlonjak.
Rasanya sebentar lagi akan ada badai di mata Deta. Namun, ia berusaha untuk menahannya.
"Itu bukan wewenang Anda untuk mengetahuinya, Pak." tegas Deta menjawab, tapi dengan bibir yang mulai gemetar.
Ricky melangkah maju dan menempelkan telapak tangannya di pintu menjaga Deta tetap di tempatnya, kemudian membisikkan sesuatu di telinga Deta yang membuat Deta membelalakkan matanya.
Deta diam terpaku hingga terdengar Refita mengetuk pintu dan memanggil nama Ricky.
Apa sih yang di bisikkin bang Ricky sama Deta 🤔 Emmm jadi penasaran 🤭
Semoga kalian suka ceritanya 🤗🥰
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak 👣 kalian ya 👍
__ADS_1