Poros Jodoh

Poros Jodoh
ANAK


__ADS_3

Rayyan Pratama. Sebuah nama yang menarik perhatian Ricky. Bukan hanya namanya, tapi wajah dari pemilik nama itu juga membuat Ricky sangat penasaran.


"Cari tahu asal-usul anak itu!" titah Ricky, ia menunjukkan potret Rayyan pada Gibran yang baru saja datang atas perintahnya.


Ricky kesulitan menjaga kedua keponakan kembarnya. Itulah sebabnya ia menghubungi Gibran dan meminta bantuan padanya. Seperti saat ini, Kayla dan Nayla bertengkar hanya karena keduanya ingin boneka yang sama.


"Kamu harus mengalah padaku, Kay!" teriak Nayla, ia tak mau melepaskan boneka yang baru saja di dapatkan Ricky dari mesin pengambil boneka.


"Tidak! Kamu yang harus menurutiku, aku ini kakakmu." sanggah Kayla, suaranya tak kalah nyaring dari adiknya.


Pertengkaran kecil di antara kedua gadis kecil itu membuat Ricky memijat keningnya. "Astaga! Apa seperti ini rasanya memiliki anak?" gumamnya.


"Anda harus latihan, Pak, karena tidak lama lagi anda juga akan memiliki anak." celetuk Gibran, ia bisa mendengar gumaman Ricky dengan jelas karena posisinya yang berada di belakang Ricky.


'Anakku? Benar juga. Bagaimana jika Deta hamil? Sial!!! Aku harus berpacu dengan waktu.'


***


"Kenapa kamu tidak makan?" tanya Angga, ia mulai jengah dengan sikap Deta yang hanya memainkan makanannya sejak tadi.


Deta mengerjap mendengar suara Angga. "Aku ... aku tidak lapar." elak Deta.


"Habiskan makananmu dan kita akan pulang ke rumah." Nada bicara Angga sudah mulai berubah, karena ia kecewa dengan sikap Deta yang berbeda setelah bertemu dengan Ricky tadi.


Beberapa saat yang lalu...


"Apa dia putramu?" tanya Ricky.


"Benar. Dia adalah Rayyan Pratama." jawab Angga, penuh rasa bangga.


Deta berdiri seraya menggendong Rayyan. Ia mengusap bibir Rayyan yang sedikit kotor terkena coklat. "Bibirmu sangat menggemaskan."


"Sama seperti bibirmu, membuatku candu." lontar Ricky, ia tak peduli pada Angga yang berdiri menahan amarah.


Pipi Deta merona karena ucapan Ricky dan itu sangat di sadari oleh Angga. "Kau benar, Tuan Sanjaya. Bibir putraku sangat mirip dengan bibir istriku karena itu adalah salah satu bagian yang paling aku sukai dari istriku."

__ADS_1


Ricky mencebik. "Kamu hanya menyukainya, tapi aku sudah memilikinya."


Sorot mata nakal Ricky tak lepas dari bibir ranum Deta yang seolah memanggil dirinya. Sekuat tenaga Ricky menahan hasratnya untuk tidak melahap bibir yang menggoda itu. Ricky merasa aneh dengan dirinya sendiri, karena hanya dengan melihat Deta saja sudah bisa membangunkan adiknya meskipun Deta sudah memakai pakaian yang menutupi bentuk tubuhnya.


Merasa di perhatikan Ricky, Deta pun langsung berbalik dan berniat membawa Rayyan menjauh dari Ricky sebelum anak itu mendengar hal yang tidak baik.


Baru saja Deta akan melangkah, ia melihat dua gadis kecil berlari ke arahnya. Namun, kedua gadis itu melewati Deta dan menghampiri Ricky yang masih berdiri di belakangnya.


"Kenapa lama sekali? Ayo, kita bermain!" Nayla menarik tangan Ricky agar mengikutinya.


Deta memperhatikan kedua gadis kecil itu, keinginannya untuk menjauhkan Rayyan dari Ricky pun ia lupakan.


'Siapa mereka? Kenapa wajah mereka terlihat mirip dengan pak Ricky?' batin Deta. "Siapa mereka?" tanya Deta, ia masih enggan menyebut nama Ricky jika tidak terpaksa.


Senyuman usil terlukis di wajah Ricky. "Mereka?" Ricky menaikkan alisnya. "Mereka adalah putriku." jelasnya kemudian.


***


"Kenapa anda mengatakan hal seperti itu kepada nyonya Deta, Pak?" Gibran terlihat begitu khawatir ketika Ricky mengatakan bahwa ia mengakui si kembar adalah putrinya di hadapan Deta.


Gibran hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah bosnya itu. "Anda tahu yang terbaik untuk anda, Pak."


Ricky terkekeh menanggapi ucapan Gibran. "Atur waktu pertemuanku dengan Dito! Banyak yang ingin ku tanyakan padanya."


Tatapan mata Ricky menerawang ke depan. Hamparan jalan yang begitu ramai oleh lalu lalang kendaraan tak membuatnya terganggu. Ia bahkan tidak memperdulikan kedua keponakannya yang sedang berkelahi di kursi penumpang.


'Tunggu aku, Sayang! Aku pasti datang untuk menjemputmu.'


***


Setelah kesalahpahaman yang sengaja di ciptakan Ricky di taman bermain tadi, Deta terlihat murung dan enggan berbicara kepada siapapun. Beberapa kali Angga mengajaknya bicara, tapi Deta hanya diam. Ia seolah berada di dunia lain.


Langkah kaki yang menuntunnya memasuki sebuah apartemen pun tak disadari oleh Deta. Ia baru tersadar ketika Rayyan menciumi tangannya.


"Welcome home, Mommy!!!" teriak Rayyan, bocah tampan itu langsung berlari untuk mengambil sesuatu.

__ADS_1


"Ini dimana, Ga?" tanya Deta, ia memandang sekeliling apartemen yang sangat mewah itu. Deta baru mau bertanya ketika Rayyan sudah pergi.


"Ini apartemen lamaku," jawab Angga. Ia menjatuhkan dirinya di atas sofa.


"Kenapa kita kesini? Kenapa tidak kembali ke rumahku?" Deta merasa tidak nyaman jika hanya tinggal dengan Angga dan juga Rayyan layaknya sebuah keluarga kecil yang harmonis.


Angga menegakkan tubuhnya dan menatap tajam ke arah Deta yang terlihat gusar. "Kenapa? Kamu tidak nyaman disini? Kalau begitu, aku akan membeli sebuah rumah yang akan membuatmu nyaman."


"Bukan itu, Ga! Aku hanya tidak terbiasa tinggal bersama denganmu saja. Lagi pula bagaimana dengan Dania? Dia pasti kesepian tinggal seorang diri." elak Deta. Namun, matanya menyiratkan hal lain.


Alasan yang sama yang selalu di lontarkan Deta setiap kali Angga memintanya untuk hidup layaknya sebuah keluarga bersama dengannya. Angga mulai berada di titik jenuhnya dalam menghadapi Deta, ia segera meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Datanglah ke apartemenku! Aku menunggumu." ucap Angga, pada seseorang di seberang panggilan. Tak lama, ia kembali menghubungi seseorang. "Aku membutuhkan bantuanmu, Dhirgam." ucapnya lagi.


Setelah Angga melakukan panggilan-panggilan singkat itu, keadaan kembali sepi dan menimbulkan kecanggungan di antara mereka berdua. Angga menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, sementara Deta memilih untuk mencari Rayyan.


Apartemen mewah itu memiliki tiga kamar tidur yang cukup nyaman dan sangat sesuai untuk keluarga kecil yang sempurna. Andai saja, Angga adalah pria yang di cintai oleh Deta. Ia pasti akan dengan senang hati menetap di tempat itu.


Deta memeriksa semua kamar tidur dan menemukan Rayyan berada di salah satu kamar yang telah di dekorasi menjadi kamar anak bernuansa biru dan merah. "What are you doing, Darling? (Apa yang sedang kamu lakukan, Sayang)?"


Rayyan menoleh ketika mendengar suara Deta. "Aku mencali gift fol Mommy, but i can't found it. (Tapi, aku tidak bisa menemukannya)."


Deta tertawa mendengar cara bicara Rayyan, anak itu berusaha keras untuk berbicara dalam bahasa yang sama dengan Deta. "Lupakan itu! Aku tidak butuh hadiah apapun. Aku hanya ingin pelukanmu."


Tanpa menunggu lagi, Rayyan langsung berhambur memeluk Deta dan menghujaninya dengan ciuman tanpa henti sampai seseorang datang mengganggu kebersamaan mereka.


"Sekarang giliranku!"


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih sudah sabar menanti 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2