
"Apaaaa???"
Dengan sigap Ricky dan Angga menutup telinga mereka begitu Nino berteriak.
Nino berdecak lalu menatap Angga dan Ricky secara bergantian.
"Jadi malam itu kalian menceritakan wanita yang sama padaku? Tidakkah aku terlihat seperti orang bodoh sekarang?"
Ricky dan Angga sama-sama menunjuk Nino dengan ekor mata mereka dan tertawa dengan terbahak-bahak.
"Teruslah... Teruslah tertawa!!! Setidaknya aku tidak harus melerai kalian." Sungut Nino.
"Sorry, brother!" Ricky menepuk bahu Nino yang terlihat kesal.
"Tidak perlu meminta maaf padanya. Dia sudah kebal tersakiti." Angga menatap Nino seraya meneguk minumannya.
"Tidak.Kalian tahu aku tidak minum itu." Ricky menolak saat Angga menyodorkan segelas minuman kepadanya.
"Kamu harus terbiasa,Ky. Ini akan menjadi suatu hal yang lazim dalam setiap pertemuan dengan para kolega bisnis." Angga menarik kembali gelasnya.
"Itulah yang tidak aku sukai." Gumam Ricky lirih.
Kedua sahabatnya itu hanya menatap Ricky dengan prihatin.
Mereka berdua tahu betul bagaimana selama ini seorang Ricky terus berlari dari nama belakangnya itu.
Dia bahkan mendaftar ke Universitas tanpa nama belakang yang memberatkan nya. Dengan bantuan Angga, selama ini Ricky menggunakan identitas palsu dengan mengganti nama belakangnya.
Sampai saat ini, Angga dan Nino masih belum memahami apa yang sebenarnya di inginkan oleh Ricky. Tapi mereka tetap mendukung segala keputusan Ricky.
"Pelan-pelan saja, Ky. Nanti kamu akan terbiasa." Angga mencoba memberi semangat pada Ricky.
"Nikmati saja! Lagi pula cepat atau lambat hal ini akan terjadi juga. Kamu tidak bisa terus berlari. Hadapilah! Kami selalu mendukungmu." Nino mengembalikan tepukan bahu yang di berikan Ricky padanya.
Mendapat dukungan dari kedua sahabatnya, menambah keyakinan Ricky.
"Aku beruntung memiliki kalian di belakangku."
Senyum Ricky mengembang di wajah maskulin nya.
***
Deta terus menatap Dito seraya menyilangkan tangannya di dada dan menantikan penjelasan dari adiknya.
Namun Dito yang sama sekali tidak merasa bersalah, justru menatap balik kakaknya.
"Deeekkk..." Deta beranjak menghampiri Dito yang duduk di kursi meja belajar miliknya.
Dito berdecak karena sudah memahami maksud kakak nya.
"Kak, aku hanya melakukan apa yang aku anggap benar." Dito memandang ke arah lain untuk menghindari tatapan Deta.
"Benar? Kamu pikir dengan mengurung Dania kamu sudah melakukan hal yang benar?" Deta memicingkan matanya.
__ADS_1
"Kenapa kakak selalu berpikir jika aku menyakiti anak pembawa sial itu?!!" Teriak Dito yang membuat Deta terperangah.
"Aku memang membencinya, kak. Tapi aku tidak pernah berpikir ingin menyakitinya apalagi sampai memukulnya." Sambung Dito dengan emosi yang meluap-luap.
"Setidaknya, kak. Aku menunjukkan kebencianku dengan jelas!!! Tidak seperti kakak yang mencoba mengabaikan kebencian kakak padanya. Itu akan membunuh kakak dari dalam."
Setelah mengatakan semua itu, Dito keluar dari kamarnya dengan kemarahan.
Benarkah aku membenci Dania?
Tapi sejak kapan?
Apakah selama ini aku hanya berpura-pura menyayanginya?
Kenapa aku tidak menyadarinya???
Lutut Deta terasa lemas hingga ia jatuh bersimpuh di lantai dan menangis dalam diam tanpa suara.
***
Malam semakin larut. Deta dan Ricky sibuk dengan pikiran masing-masing hingga melupakan satu sama lain untuk beberapa saat.
Deta yang masih tersentak dengan apa yang di ungkapkan Dito masih mencoba untuk mencerna semua hal yang terjadi di hidupnya sejak kedatangan Dania.
Dan Ricky juga tak kalah hanyut memikirkan nasibnya di masa depan yang harus bertanggung jawab penuh atas semua aset keluarganya.
Hingga keduanya memasuki alam bawah sadar mereka. Tak satupun dari mereka yang mengingat hal indah yang mereka lalui bersama malam sebelumnya.
***
"Aku... Ada urusan sedikit, ma." Senyum Ricky yang kaku dan di paksakan dapat di mengerti dengan jelas oleh Bu Rika.
"Bagaimana kelanjutan hubungan kamu dengan Deta?" Segelas susu hangat datang menghampiri Ricky bersama dengan pertanyaan ibunya.
"Baik, ma." Ricky mengambil sepotong roti dan mulai mengolesnya dengan selai nanas kesukaannya.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" Tanya Bu Rika antusias.
"Entahlah, ma. Aku harus memikirkannya lagi."
Bersamaan dengan jawaban Ricky, Deta melangkah menuju meja makan dan tentu saja dapat mendengar ucapan Ricky dengan sangat jelas.
Ricky yang tidak menyadari hal itu, dengan santai melahap sarapannya. Hingga terdengar suara yang tidak asing baginya.
"Selamat pagi, Bapak ibu Sanjaya." Deta mengangguk sopan.
Tanpa aba-aba dari siapapun, Ricky langsung menoleh dan melihat Deta sedang berdiri di sampingnya.
"Pagi, Ta. Tidak perlu terlalu formal seperti itu. Kamu sudah sarapan? Duduklah!" Bu Rika tersenyum untuk mengurangi ketegangan yang tiba-tiba saja tercipta.
"Terima kasih, bu. Saya sudah sarapan. Saya harus ke belakang. Jika anda butuh sesuatu..." Deta tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena Ricky tiba-tiba berdiri di hadapannya dan menatap nya tajam.
"Berhentilah bersikap seperti seorang pelayan!" Suara Ricky terdengar sangat dingin.
__ADS_1
"Saya memang pelayan. Dan tak ada yang bisa merubah hal itu."
Ricky mendengus begitu mendengar jawaban Deta.
Cukup lama ia menatap Deta tanpa memperdulikan kehadiran kedua orang tuanya.
"Baiklah. Mulai sekarang kamu bukan pelayan dirumah ini lagi." Ucapan Ricky membuat Deta langsung menaikkan pandangannya.
Terlihat Bu Rika sudah akan bicara tetapi ditahan oleh Pak Firman.
"Maaf, pak. Anda tidak bisa memecat saya." Kini Deta menatap Ricky tanpa ragu karena ia sudah di kuasai oleh amarah.
Maksudnya aku ingin mengganti statusmu menjadi istriku bukan ingin memecatmu, Deta ku sayang!!!
Ricky mengumpat dalam hati melihat Deta yang kurang peka.
"Kenapa? Ini rumahku." Ricky berlindung di balik gengsinya.
"Sebelumnya Anda mengatakan kalau ini bukan rumah anda tetapi rumah orang tua Anda. Jadi maaf,pak. Hanya Bu Rika dan Pak Firman saja yang bisa memecat saya." Dengan lugas Deta menyanggah ucapan Ricky.
Tidak seperti biasanya, Ricky kalah beradu mulut dengan seseorang. Biasanya, ia selalu bisa membungkam mulut orang lain. Tapi kali ini justru ia lah yang kehabisan kata-kata.
Cinta membuatku kehabisan kata.
Pikirnya.
"Kalau begitu, ma. Pecat gadis ini sekarang juga." Ricky bicara pada ibunya yang terlihat menikmati perdebatan nya dengan Deta.
"Ma!!!" Ricky menaikkan nada suaranya.
"Ya ampun, ada apa ini sebenarnya? Kemarin kamu mengatakan ingin menikahi Deta tapi sekarang kamu ingin memecatnya." Bu Rika menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Aku hanya perlu waktu, ma." Jawab Ricky.
"Waktu untuk menghilangkan kebosanan." Lirih Deta berucap karena menahan tangis.
"Ikut papa ke ruang kerja, boy!!! " Pak Firman yang sedari tadi menyimak percakapan mereka akhirnya membuka suara.
Ricky menarik nafas dalam dan menghembuskan nya dengan kasar.
Sebelum melangkah mengikuti ayahnya, Ricky melihat sekilas ke arah Deta yang masih menatapnya dengan kemarahan.
Ternyata aku hanya mainan untukmu!!!!
Hallo semuanya🤗
Selamat Hari Raya Idul Adha 🙏
Masih stay bareng Deta dan bang Ricky kan yaa...
Semoga kalian suka ceritanya🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 kalian di sini berupa like👍, comment, rate dan vote 🤭
__ADS_1
Aku sayang kalian semua kesayangan kuuhh 😘