Poros Jodoh

Poros Jodoh
KASIH SAYANG


__ADS_3

Di apartemen Angga kini sudah berkumpul ketiga anak Riady yaitu Deta, Dito, dan juga Dania. Di tambah Ricky, Gibran, Dhirgam, Mika, Angga, tak ketinggalan Rayyan yang turut serta di antara orang-orang dewasa itu.


Wajah-wajah tegang menghiasi semua orang yang ada di apartemen Angga, kecuali Rayyan. Bocah tampan itu kebingungan karena Gibran tiba-tiba membawanya kembali ke apartemen sang ayah.


"Mommy? Say something (katakan sesuatu) ...," rengek Rayyan, ia menarik-narik ujung pakaian Deta.


"Tenanglah, Darling! Belum waktunya kamu bicara," jawab Deta lembut.


Mika menyaksikan interaksi di antara Rayyan dan Deta, hatinya begitu mencelos. Namun, ia menyadari itu semua bisa terjadi karena Deta begitu menyayangi putranya.


"Rayyan? Kemari!" panggil Mika, ia melambaikan tangannya untuk meminta Rayyan menghampirinya.


"No!!!" tolak Rayyan, sikap dinginnya mengingatkan Mika pada Angga.


Deta cukup terkejut dengan penolakan Rayyan pada Mika.


'Bagaimana caraku memberi tahu Rayyan bahwa Mika adalah ibu kandungnya?' batin Deta.


Merasakan kegelisahan Deta, Ricky yang duduk di samping Deta pun segera meraih tangan Deta dan menggenggamnya dengan erat.


"Aku yakin, kamu bisa melakukannya!" bisik Ricky, mencoba memberi semangat kepada Deta.


Entah mengapa, Deta merasa mendapatkan asupan energi dari genggaman serta tatapan Ricky yang penuh cinta. Sekelebat pikiran konyol sempat menghampiri Deta.


'Tidak! Aku tidak bisa seperti ini.' batin Deta. "Terima kasih," ucap Deta seraya melepaskan tautan tangan Ricky.


Angga yang tidak tahan melihat kebungkaman Deta pun akhirnya memecah keheningan dengan ucapannya.


"Segera selesaikan masalah ini," lontar Angga dingin.


Deta menghela nafas panjang. "Rayyan, apa kamu menyayangiku?"


Rayyan yang berada di pangkuan Deta hanya bisa menatap sosok yang dia anggap sebagai ibunya. "Of course, Mommy!"


"Baiklah, bisakah kamu mendengarkan aku berbicara?" tanya Deta lagi, sebelah tangannya membelai rambut Rayyan.


Pipi bulat Rayyan ikut bergoyang ketika ia menganggukkan kepalanya dengan cukup kuat, dan sontak hal itu memancing senyuman di wajah semua orang.


"Good boy!" puji Deta, ia mencium pipi gembul Rayyan. "Listen to me, Darling! (Dengarkan aku, Sayang!) Kamu lihat tante yang duduk di sana?" Deta menunjuk Mika yang berada di seberang sofa.


"Yap!" Angguk Rayyan.

__ADS_1


"Tante itu adalah orang yang telah melahirkan Rayyan ke dunia ini." jelas Deta, ia tidak tahu bagaimana lagi caranya menyampaikan kebenaran kepada Rayyan.


"Mommy?" tanya Rayyan bingung.


"Yes, she is your mom. (Ya, dia adalah ibumu)." jawab Deta, matanya sudah tak kuasa menahan bendungan air mata.


"No!!! You are my mom!" teriak Rayyan seraya memeluk Deta dengan erat.


Tiba-tiba suasana di apartemen Angga menjadi sangat sesak, dan membuat semua yang ada di sana menjadi tidak nyaman.


"Tolong tinggalkan kami!" pinta Angga. "Yang tidak berkepentingan silahkan keluar!" serunya kemudian.


Ricky yang memahami maksud Angga pun hanya bisa mengepalkan tangannya sebelum beranjak pergi dari apartemen Angga.


"Aku akan menunggu di luar," ucap Ricky ketika ia sampai di ambang pintu.


Untuk mengurangi kekhawatiran Ricky, Deta pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya tepat sebelum pintu tertutup.


"Bisakah Dania bertanya?" Dania memberanikan diri untuk membuka mulutnya.


Dito memelototi Dania yang baru saja mengumpulkan keberaniannya. "Diam, Dania!"


"Kakak ... apakah benar Dania bukan adik kandung Kakak dan juga kak Dito?" tanya Dania lirih.


Deta merangkul tubuh mungil Dania dengan sebelah tangannya. "Kamu adik Kakak dan juga kak Dito!"


"Tapi ... nyonya itu bilang kalau Dania adalah keponakannya karena Dania adalah anak dari kakak nyonya itu ... uuu ...," tutur Dania, ia tak mampu menahan tangisnya.


Bola mata Deta langsung tertuju kepada Mika yang merasa bersalah. "Apa maksudmu, Mika?"


"Maaf, Deta, aku pikir Dania sudah tahu semuanya." Mika terlihat serba salah karena telah membuat Dania terluka.


"Aku menjaga hati Dania selama ini, begitu pun kedua orang tuaku. Kami tidak ingin Dania tumbuh menjadi anak yang tidak percaya diri karena terus mempertanyakan identitasnya!" sergah Deta, emosi mulai menguasai pikirannya.


"Kamu benar," lirih Mika.


"Tentu! Itu sebabnya aku mempertanyakan kedatanganmu karena hal itu akan menyakiti hati Rayyan dan juga membuat kesehatan psikisnya terganggu." Deta semakin memojokkan Mika.


Rayyan yang tidak mengerti situasi yang sedang terjadi pun hanya bisa memandangi wajah Deta dan Angga secara bergantian.


"Mommy malah?" celetuk Rayyan, mata bulatnya mengamati setiap perubahan ekspresi di wajah Deta.

__ADS_1


"Tidak, Darling, aku tidak marah. Aku hanya sedang menasihati tante ini agar tidak melakukan kesalahan yang sama," jelas Deta.


Walaupun tidak memahami apa yang di ucapkan Deta, Rayyan tetap menganggukkan kepalanya.


"Dania, apa yang di katakan tante itu memang benar adanya. Kita memang tidak terlahir dari ibu yang sama karena Dania di lahirkan oleh tante Anika, kakak dari tante Mika." Air mata mengiringi pernyataan Deta. "Tapi Dania harus tahu, bahwa kita tetap saudara karena papa Dania juga papa Kakak dan kak Dito." tambahnya.


Manik mata Dania menelaah ke dalam mata bulat Deta, ia mencoba untuk mencerna apa yang di katakan oleh kakak tersayangnya itu.


"Jadi? Nyonya malang itu ... tantenya Dania?" tanya Dania.


"Benar! Dania harus menghormatinya sama seperti Dania menghormati Kakak," pinta Deta, senyum dan sapuan tangannya memberikan kehangatan bagi Dania.


"Apakah Dania harus tinggal bersamanya seperti Rayyan?" tanya Dania polos.


Pertanyaan Dania membuat Deta cukup tersentak. Ia melupakan kenyataan bahwa Mikayla menginginkan Rayyan untuk ikut bersamanya.


"No!!! Aunty bisa ikut belsamanya but i am not!" hardik Rayyan, wajah bulatnya semakin terlihat menggemaskan ketika ia sedang marah.


"Kalian berdua ... harus ikut bersamanya." Deta menciumi pipi Dania dan Rayyan secara bergantian.


"Tidak, Kak!"


"No, Mommy!"


Penolakan dari Rayyan dan juga Dania membuat Mika sangat terpuruk. Ia menyadari bahwa ia sudah melakukan kesalahan, tapi rasanya begitu menyakitkan ketika menyaksikan sendiri penolakan dari orangnya yang di sayangi.


"Kalian tidak harus ikut bersamaku, tapi bisakah kalian memelukku dan menganggap aku sebagai orang yang kalian sayangi?" tanya Mika lirih.


Rayyan dan Dania saling bertatapan. Bagi Dania, wanita yang kini ada di hadapannya masih sama seperti saat mereka pertama bertemu. Wanita malang yang membutuhkan pertolongan. Dan bagi Rayyan, wanita asing itu hanya mengganggu kebahagiaan ayah dan ibunya.


Kebimbangan dari kedua anak itu membuat Deta nelangsa. Ia merasa seperti telah merebut sesuatu yang sangat berharga dari keluarga Sutomo.


"Pergilah! Dia hanya ingin kasih sayang dari kalian. Bukankah kalian memiliki kasih sayang yang berlebih?" Senyuman seceria mungkin di perlihatkan Deta kepada Dania dan juga Rayyan.


Kedua anak itu pun memeluk Deta sebelum berhambur memeluk Mika.


Hallo semuanya πŸ€—


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2