
Ricky melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke alamat yang di kirimkan oleh Fita.
Kali ini tekadnya sudah bulat. Sebagai seorang pria sejati, ia tidak ingin di anggap playboy oleh Deta. Ia akan membuktikan ucapannya hari ini.
"Apa ini rumahnya?" Ricky bergumam begitu sampai di depan sebuah rumah.
Ricky melepaskan sabuk pengaman dan mematikan mesin mobilnya.
Dengan dada yang berdegup kencang, Ricky melangkahkan kaki dan memasuki halaman rumah itu.
Ricky mencoba mengetuk pintu, tak lama pintu terbuka dan menampakkan seorang wanita paruh baya yang terlihat sedikit lebih muda dari ibunya.
Wanita itu terlihat bingung melihat seorang pria tampan dan berpenampilan menarik layaknya seorang CEO sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Selamat siang, Bu, saya mencari Deta. Apa Deta ada di rumah?" Ricky tersenyum sopan.
"Iya, Deta ada di dalam," jawab wanita itu seraya mengarahkan jarinya ke dalam rumah.
Tiba-tiba wanita itu menepuk keningnya. "Ah, kamu pasti kekasihnya Deta?"
Ricky mengerutkan keningnya, tapi kemudian tersenyum karena menyadari sesuatu.
'Apa gadis dingin itu sudah mengatakan kepada keluarganya bahwa aku kekasihnya?'
Hati Ricky berbunga-bunga membayangkan hal itu.
"Masuklah! Maaf ya rumah kami kecil, silahkan duduk!"
Setelah berbasa-basi dan menyambut Ricky, Wanita tadi yang ternyata adalah ibunya Deta berjalan dan mengetuk sebuah pintu yang berhadapan dengan ruang tamu.
"Kak! Ada tamu mencari Kakak." Bu Sarah mengetuk pintu kemudian berbalik dan tersenyum kepada Ricky yang masih duduk dengan manisnya di kursi ruang tamu.
"Siapa, Ma?" Terdengar suara Deta dari dalam kamar.
"Angga!"
Deta dan Ricky sama-sama terkejut.
Apa???
***
Ricky terus memandangi Deta yang memijat-mijat tangannya karena salah tingkah.
"Siapa Angga?" Ricky bertanya dengan tenang. Namun, terdengar menakutkan bagi Deta.
"Ehmm... itu, Pak, apa anda butuh sesuatu?" Deta mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Apa dia calon suami yang kamu katakan?"
"Jika anda butuh sesuatu, anda hanya perlu menghubungi saya. Hehe... he ...." Tawa yang sangat di paksakan oleh Deta agar bisa mencairkan suasana.
"Apa kamu pernah memberikan nomor ponselmu padaku?" sinis Ricky bertanya.
"Apa anda pernah memintanya?" Deta tak kalah sinis.
__ADS_1
Ricky menghembuskan nafas kasar, menyadari kebodohannya selama ini.
'Benar juga!!!'
Tapi memang itu di luar kendali Ricky, setiap berdekatan dengan Deta tiba-tiba saja ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia hanya menginginkan gadis itu, dan ia sudah memutuskan untuk memilikinya seorang diri.
"Apa yang membuat Anda jauh-jauh datang kemari, Pak?" Pertanyaan Deta menarik bola mata Ricky untuk kembali menatapnya.
"Apakah hanya pria yang bernama Angga itu yang boleh datang ke rumahmu?" Kali ini Ricky berbicara lebih menakutkan dari sebelumnya.
"He... he... he ...." Bahkan untuk tertawa pun Deta terbata-bata karena terlalu terintimidasi oleh Ricky.
S'emua orang mengatakan bahwa putra bu Rika sangat baik dan sopan, tapi kenapa dia tidak ada bedanya dengan tuan muda yang ada di novel yang selalu kubaca? Tukang perintah,dingin dan suka berteriak!!!' Deta memaki Ricky dalam hatinya.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" Deta menggeleng. "Bersiaplah! Aku ingin mengajakmu pergi," Ricky melihat jam di tangannya.
"Maaf, Pak, Anda mau membawa saya kemana?"
"Ikut saja!"
'Cih!!! Melelahkan berlagak seperti tuan muda begini, tapi dia hanya akan menurut jika aku bertingkah seperti ini.'
***
Di dalam kamar saat Deta sedang mengganti pakaiannya, bu Sarah tiba-tiba masuk dan mendekati Deta.
"Jadi? Ricky atau Angga?"
"Tidak keduanya, Ma," Deta mengambil sebuah kaus berwarna putih.
"Yang hitam lebih bagus." Bu Rika menunjuk kaus hitam yang baru saja di letakkan Deta di atas tempat tidur.
"Angga?" Bu Sarah bertanya lagi dan Deta masih dengan tenang mengganti pakaiannya.
"Ricky?" Kali ini Bu Sarah tersenyum melihat Deta yang tiba-tiba menghentikan aktivitasnya di depan cermin begitu mendengar nama Ricky.
"Ricky!" ulang bu Sarah memastikan.
"Ma, pak Ricky itu putranya bu Rika. Jadi jangan berharap terlalu tinggi."
"Tapi dia sampai datang kesini, Kak. Pasti dia memiliki perasaan kepada Kakak."
"Pak Ricky datang kesini atas permintaan ibunya, Ma," jelas Deta sembari memakai jaket berwarna cokelat untuk menutupi lekuk tubuhnya.
Deta menghampiri ibunya yang terlihat sedikit kecewa.
"Ma, jangan pernah memimpikan hal yang tidak mungkin terjadi! Aku bahkan sudah mematahkan sayapku agar tidak lupa diri dan terbang terlalu tinggi."
***
Begitu Deta dan ibunya keluar dari kamar, mereka melihat Dania sedang duduk di pangkuan Ricky.
"Dania!!!" Bu Sarah setengah berteriak. "Jangan seperti itu! Tidak sopan."
Deta menggenggam tangan ibunya dan menatap ibunya penuh harap.
__ADS_1
Ricky yang ikut terkejut dengan teriakan bu Sarah tersadar ketika merasakan tubuh Dania gemetar.
Di pandangnya wajah ketakutan Dania dan beralih menatap Deta yang terlihat sangat khawatir.
"Tidak apa-apa, Bu, Dania sangat manis. Saya menyukainya," Ricky mencoba mencairkan suasana.
"Maaf, ya, Nak Ricky. Ibu sampai lupa, Dania memang seperti itu. Kemari Dania!" Bu Sarah terlihat canggung menyadari kesalahannya.
Ketika Dania tak juga menghampirinya. Bu Sarah mencoba melangkah untuk menarik tangan Dania, tapi Deta lebih cepat dan segera mengambil Dania di pangkuan Ricky.
"Dania anak baik, Ma, biar aku yang menjaganya. Mama sedang memasak, kan?" Deta tersenyum untuk membujuk bu Sarah.
Bu Sarah menarik nafas dalam dan berjalan menuju dapur setelah tersenyum pada Ricky.
Ricky menyadari ada sesuatu yang salah di rumah itu. Namun, ia tak yakin untuk menanyakannya pada Deta.
Di tatapnya Deta yang masih memeluk Dania di sampingnya.
"Tidak apa, Dania. Semua orang sayang Dania." Deta terus mengatakan hal yang sama seraya mengusap rambut lurus Dania.
"Sudah siap? Ayo berangkat!" Ricky ikut menyentuh rambut Dania.
Bukannya menjawab, Deta justru semakin mengeratkan pelukannya pada Dania.
Ricky mengerti dengan maksud Deta yang tak bisa ia ucapkan.
"Bawa Dania juga!" Perintahnya yang membuat Deta tersenyum kepadanya untuk pertama kalinya.
***
Sebenarnya, hari ini Ricky berniat untuk melamar Deta.
Ia memutuskan semuanya begitu Deta mengatakan tentang calon suaminya. Di tambah lagi dengan pria bernama Angga itu.
'Angga!!! Tidak mungkin Angga Pratama, kan???
Tidak!!! Ada banyak Angga di dunia ini.'
Perdebatan berkecamuk dalam hatinya.
Namun,Ricky tetap berusaha menyembunyikan semuanya di hadapan Deta.
"Kita akan kemana, Pak?" tanya Deta begitu ia berhasil menenangkan Dania.
"Tidak bisakah kamu duduk di sampingku? Rasanya aku seperti seorang supir!" Ricky melirik Deta yang duduk di kursi penumpang menemani Dania.
"Maaf, pak, tapi Dania?" Deta mengusap rambut Dania.
"Dania cantik, bolehkah kakakmu yang manis itu duduk di sebelahku? Aku kesepian," Ricky bertanya dengan nada yang di buat-buat.
Dania tertawa dan mengangguk. "Tentu saja, Pangeran."
"Terima kasih, Tuan putri."
Hallo semuanya🤗
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan 👣, 👍 dan votenya yaaaa 😘
Semoga kalian suka ceritanya🥰