Poros Jodoh

Poros Jodoh
SWEET CHAPTER 1


__ADS_3

Setelah hingar bingar pesta pernikahan putra mahkota Sanjaya usai, semua orang kembali ke dunia mereka masing-masing.


Rasa penat menghinggapi Deta yang memang tengah hamil muda. Ia kini tengah bersandar di dada Ricky akibat kelelahan yang menderanya.


"Maaf ...," lirih Deta, jarinya membuat pola lingkaran di dada bidang Ricky yang terbuka.


"Untuk apa, Sayang?" tanya Ricky seraya menghujani puncak kepala Deta dengan ciuman penuh cinta.


"Malam pertama kita ...."


Ricky terkekeh mendengar ucapan Deta yang tak dapat ia selesaikan itu. "Kenapa malam pertama kita?" goda Ricky.


"Itu ...."


"Kita sudah melewatinya 'kan, Sayang," Ricky menangkup kedua pipi Deta dengan tangan besarnya. "Malam ini memang malam pernikahan kita, walau bukan malam pertama kita. Tapi ... malam ini sangat istimewa karena di malam ini untuk pertama kalinya kamu tidak menolakku." ucap Ricky lembut.


Mendengar penuturan Ricky membuat wajah Deta bersemu merah. Kenangan akan malam-malam yang pernah mereka lalui bersama sebelum pernikahan kembali berputar di ingatan Deta.


"Menggemaskan!" Ricky mencubit hidung Deta dengan lembut.


Setelah pesta usai...


Ricky membopong tubuh mungil Deta menuju kamar pengantin yang telah ia siapkan secara mendadak di rumahnya. Rumah yang selalu menjadi tempat impian baginya untuk membangun keluarga bahagia bersama Deta.


Di kamar itu sudah bertabur kelopak mawar yang indah dan harum. Bahkan aromanya sudah bisa tercium begitu pintu terbuka, tapi hal yang tidak di duga sungguh terjadi. Deta yang masih berada dalam gendongan Ricky tiba-tiba merasa mual dan memuntahkan isi perutnya di pakaian Ricky.


"Ada apa, Sayang?" tanya Ricky panik, ia tidak menghiraukan pakaiannya yang kotor.


"Aku tidak suka baunya." Deta menunjuk kelopak mawar yang sudah tersusun dengan cantiknya.


"Tapi aroma mawar itu sangat menenangkan. Bukankah kamu menyukainya?" tanya Ricky seraya mengangkat sebelah alisnya.


"Sekarang tidak lagi! Turunkan aku! Aku ingin ... Hooeekk ...." Lagi, Deta memuntahkan makanannya di atas pakaian Ricky.


Melihat kondisi Deta yang seperti ini membuat Ricky berbalik dan membawa Deta ke kamar lain.


Tak jauh dari kamar utama, Ricky merebahkan tubuh Deta di atas tempat tidur dan ia langsung membersihkan dirinya sendiri di kamar mandi yang ada di kamar itu.


"Sayang, aku lupa mengambil pakai -" Ricky yang hanya mengenakan handuk yang di lilitkan di pinggang langsung terpana ketika melihat Deta yang sudah melepaskan pakaian pengantinnya.


Tubuh putih dan mulus Deta memang bukan pertama kali Ricky lihat, tapi kali ini tubuh itu telah sah menjadi miliknya hingga "adik" Ricky pun langsung menuntut ketika melihatnya.


"Kamu sudah selesai?" tanya Deta, ia berbalik dan membungkus tubuhnya dengan selimut.


Ricky tidak menjawab. Ia hanya menatap Deta dan terus melangkah untuk mengurangi jarak di antara mereka.


"Ka- Kamu ... ummm ...."


Dalam sekali sergap, bibir Ricky berhasil menguasai bibir Deta yang semakin menggoda.


Tangan nakal Ricky mulai beraksi dan menjelajah setiap jengkal tubuh Deta yang membuatnya candu, hingga tangannya menyentuh perut Deta yang masih rata.


"Apa anakku akan terluka?" gumam Ricky, tangannya berhenti disana dan mengusapnya dengan lembut.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Deta ketika ia tak lagi merasakan sentuhan Ricky.


"Tidak ada! Aku hanya mengkhawatirkan anak kita. Aku takut adikku ini akan melukainya." jawab Ricky, tapi tangannya masih mengusap perut Deta.


"Aku juga takut," ucap Deta mendecit.


"Kalau begitu ...," Ricky merubah posisi tubuhnya menjadi duduk bersandar di tepi tempat tidur kemudian menarik kepala Deta untuk bersandar di dadanya.


"Aku mencintaimu, Deta Sanjaya." ungkap Ricky.


"Aku juga." balas Deta.


"Kamu apa?" goda Ricky.


"Aku ...."


"Apa?"


"Sama seperti kamu!"


"Sama apanya?"


"Perasaannya!"


"Perasaan apa, Sayang?"


"Perasaan cinta!"


"Cintanya siapa?"


"Hahaha ... akhirnya kamu mengungkapkan perasaan yang sudah lama kamu pendam."


Flashback off...


"Terima kasih karena selalu mencintaiku." Deta menatap Ricky dengan penuh cinta.


"Terima kasih juga karena selalu menjaga hati dan juga dirimu hanya untukku." Ricky kembali mencubit hidung Deta.


Wajah Deta tiba-tiba murung begitu menyadari makna pada ucapan Ricky.


"Kenapa, Sayang?"


"Aku hanya sedang memikirkan reputasimu. Aku sudah pernah menikah sebelumnya dan saat ini aku sedang hamil. Aku takut orang lain akan berpikir jika -"


"Anak ini milik Angga?"


Deta mengangguk.


"Walaupun seluruh dunia mengatakan hal yang sama padaku, tapi aku akan tetap mengatakan bahwa anak ini adalah milikku." tegas Ricky.


Deta tak kuasa menahan haru hingga butiran bening meluncur dari matanya. "Kamu begitu mempercayai aku?"


"Tentu! Karena akulah yang pertama dan satu-satunya yang pernah menanam bibit di sini." Ricky kembali mengusap perut Deta.

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Aku tahu, Angga tidak pernah menyentuhmu."


"Darimana kamu tahu?"


"Karena saat kita pertama kali bertemu setelah kamu kembali, itulah saat pertama bagi dirimu dan juga diriku."


Deta merasa wajahnya terbakar karena malu. Lidahnya bahkan terasa keluh hingga tak mampu mengatakan apapun.


Rasa cinta Ricky yang begitu besar padanya membuat Deta merasa sangat beruntung. Penantian dan harapannya selama lima tahun ini tidak terbuang sia-sia.


"Aku mencintaimu." ungkap Deta sebelum ia membenamkan wajahnya di dada bidang Ricky.


***


Pagi menjelang, keriuhan mulai tercipta di rumah pengantin baru yang masih terlena di alam mimpi.


Keluarga Sanjaya dengan formasi lengkap sudah membuat kebisingan di ruang keluarga, sedangkan Dania dan Dito baru saja datang bersama seorang dokter cantik yang memeriksa Deta sebelumnya.


"Dimana Ricky?" tanya pak Firman yang tergesa-gesa menuruni tangga.


Seorang pelayan segera berlari dan menghampiri tuan besar Sanjaya itu.


"Tuan dan nyonya beristirahat di kamar tamu, Tuan," jawab pelayan itu sopan.


"Kamar tamu? Apa mereka bertengkar semalam?" tanya pak Firman yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya. "Aduh, sakit, Ma!" keluh pak Firman.


"Makanya Papa jangan sembarangan bicara!" sungut bu Rika.


"Tidak, Tuan besar, semalam nyonya muntah karena menghirup aroma kelopak mawar yang menghiasi kamar utama." jelas pelayan tadi.


"Hahaha ... sepertinya cucu Payang suka menyiksa papanya!" sorak pak Firman kegirangan.


"Mayang, ada apa dengan Payang?" tanya Nayla bingung melihat tingkah kakeknya.


"Payang baru saja mendapat undian dari sabun colek, Sayang," canda bu Rika yang semakin membuat cucunya itu kebingungan.


"Ayo, kita bangunkan mereka!" ajak pak Firman.


Awalnya, mereka semua tidak setuju dengan ide pak Firman. Namun, ketika pak Firman melangkah, mereka semua pun mengekori pria yang biasanya amat menjaga wibawanya tersebut.


Mereka berjalan perlahan hingga sampai di depan sebuah pintu dan tangan pak Firman membuka handle pintu dengan perlahan.


"Jangan masuk, Pa! Atau Ricky tidak mau mengurus Sanjaya Corporation!" ancam Ricky dari dalam kamar.


Pak Firman menciut mendapatkan ancaman yang begitu mengerikan baginya. Ia memilih untuk menutup kembali pintu kamar itu dan berbalik.


"Kenapa tidak jadi, Pa?" tanya Refita yang sudah mulai penasaran.


"Ada bom yang akan meledak jika kita masuk."


Hallo semuanya 🤗

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga 'ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2