Poros Jodoh

Poros Jodoh
STEMPEL KEPEMILIKAN


__ADS_3

"Tuan putri, apakah kamu tahu jika seorang gadis diam saja maka awan akan menurunkan hujan untuk memeriahkan suasana?" Ricky berbicara pada Dania, tapi matanya tertuju pada Deta.


Sejak kembali dari rumah besar Sanjaya, Deta terus diam tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Awalnya Ricky ingin memberikan waktu bagi Deta untuk merenung, tapi ia rasa Deta terlalu lama larut dalam pikirannya.


"Benarkah?" Suara kecil Dania melepaskan pandangannya pada Deta.


Ricky tersenyum dan menatap Dania yang terlihat hangat dan ceria, dan melirik Deta yang masih tenggelam dalam pikirannya.


"De, kenapa wajahmu dan Dania sangat berbeda?" tanya Ricky iseng.


Tapi, tanpa di duga, Deta yang sedari tadi diam langsung membuka mulutnya untuk menjawab.


"Kami itu kakak beradik. Bukan kembar identik!" ketus Deta.


Ricky menyadari nada bicara Deta yang mulai berubah terhadapnya.


"Aku hanya bertanya kenapa kamu menganggapnya serius?"


Terdengar Deta menghembuskan nafas kasar. Di lihatnya Dania yang masih sibuk menghitung pepohonan yang berjalan berlawanan.


Ricky terus memperhatikan Deta. Di tatapnya gadis yang akan ia nikahi itu, ada gurat kesedihan di matanya dan Ricky ingin menghilangkan itu untuk selamanya.


'Ada yang tidak beres dengan Dania. Aku harus mencari tahu!'


***


"Tidak perlu, Pak, saya yang akan membawa Dania ke dalam." Deta sudah mengulurkan tangannya untuk membopong tubuh kecil Dania yang tertidur.


"Biar aku saja. Tubuhmu itu sama kecilnya dengan Dania, mana mungkin kamu bisa menggendongnya?" ledek Ricky.


Ricky memandang Deta dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya. Ia sungguh terkejut menyadari bahwa postur tubuh Deta sangat ideal.


Deta memiliki postur tubuh yang sedikit berisi. Pinggulnya yang besar namun dengan pinggang yang kecil membuat lekukan di tubuhnya terlihat sangat jelas.


"Saya memang kecil, Pak, tapi saya bahkan kuat menanggung beban hidup ini." Deta bergumam, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya dapat di dengar jelas oleh Ricky.


"Maka dari itu, bagilah bebanmu itu padaku agar lebih ringan."


Deta menatap Ricky yang balas menatapnya. Ia mencoba mencari maksud dari ucapan Ricky.


Tiba-tiba suara seseorang memutus kontak mata Deta dan Ricky.


"Eheemmmm ...." Dito berdehem dengan keras.


Deta dan Ricky menoleh bersamaan dan melihat Dito sedang bersiul dan pura-pura tidak menyadari kehadiran mereka berdua.


"Deekkkk ...." Deta memutar bola matanya malas.


"Hehehe ... iya, Kak," Dito segera menghampiri Deta dan merangkul tubuh kakaknya yang sedikit lebih pendek darinya.


" Pak, kenalkan. Ini Dito adik saya," Deta tersenyum pada Ricky yang mulai terlihat waspada.


Tapi begitu mendengar Deta mengenalkan Dito sebagai adiknya, Ricky pun tersenyum dan bernafas lega.

__ADS_1


"Hai, saya Ricky. Senang bertemu denganmu." Ricky tersenyum pada Dito dan menunjukkan tangannya yang tidak bisa bersalaman karena sedang menggendong Dania.


Dito melihat Dania kemudian berdecak. "Anak ini merepotkan saja!"


Di raihnya tubuh Dania di tangan Ricky dan membawanya masuk ke dalam. Namun, baru saja melangkah pikiran jahatnya muncul untuk mengerjai kakaknya.


"Kak ... apakah tadi pria ini juga mau mencium kakak sama seperti yang di lakukan oleh kak Angga waktu itu?" Dito menatap ke atas seolah sedang mengingat sesuatu.


Ricky yang mulai terprovokasi mengepalkan tangannya, dan menoleh kepada Deta yang sedang memelototi adiknya.


Terlihat Deta sedang komat-kamit tidak jelas pada Dito yang justru terkekeh dan masuk ke dalam rumah.


"Jadi?" Suara dingin Ricky mengejutkan Deta.


"Jadi apa, Pak?"


"Apa maksud ucapan adikmu barusan?"


"Oh... ho... dia hanya bergurau, Pak," Kembali Deta memijat-mijat tangannya.


"Apa kamu gugup? Atau apakah kamu sedang ketakutan?" Ricky menatap Deta tanpa berkedip seraya melipat kedua tangannya di dada.


"Ti- Tidak, Pak."


"Sungguh?" Ricky menaikkan sebelah alisnya menantikan sebuah penjelasan.


Deta mengangguk dan semakin tertunduk.


"Tapi kamu selalu melakukan hal itu jika merasa gugup. Apa aku benar?" Ricky menunjuk tangan Deta.


"Sekarang jawab aku! Apa betul kamu pernah berciuman dengan pria itu?" Ricky sudah mulai kehilangan kesabarannya.


"Angga?"


'Cih!!! Mesra sekali dia menyebut namanya.' umpat Ricky dalam hati.


"Apakah ada pria lain selain dirinya?"


"Ada,"


"Ada?" Ricky menatap Deta tak percaya.


'Apakah gadis ini tak sepolos dan sedingin yang aku pikirkan?'


"Iya,"


"Katakan siapa saja!!! Apa kamu memiliki hubungan dengan banyak pria?"


Nada bicara Ricky yang terdengar seperti hinaan bagi Deta, seperti memberikan bahan bakar untuk amarah di hati Deta.


Di tatapnya Ricky dengan penuh amarah.


"Kamu!!! Kamu yang pertama dan hanya kamu yang tahu rasanya bibirku!!!" Suara lantang Deta keluar dari mulutnya diiringi air mata yang berselancar bebas dari matanya.


Ricky terkejut dengan pengakuan Deta. Namun, segera ia tersadar akan kesalahannya.

__ADS_1


Deta sudah melangkah dan akan masuk ke dalam rumah, tapi rangkulan tangan Ricky di pinggangnya menghentikan langkah Deta.


Di baliknya tubuh Deta untuk berhadapan dengannya. "Maafkan, aku! Aku hanya terlalu cemburu. Membayangkanmu di sentuh pria lain membuat darahku mendidih." Ricky berbisik di telinga Deta.


Deta terlalu marah saat itu hingga ia langsung memalingkan wajahnya.


Ricky yang menyadari kesalahannya mencoba untuk mengalah dan memahami sikap Deta.


Di tangkupnya pipi chubby Deta dengan kedua tangannya yang besar, dan tanpa aba-aba Ricky kembali "menabrakkan" bibirnya dengan bibir Deta.


Deta merasakan ciuman Ricky kali ini berbeda, jauh lebih dalam dari sebelumnya. Ricky menjilati bibir Deta yang terasa manis. Dipaksanya Deta agar membuka mulut.


Karena terus di desak dan di paksa, akhirnya mulut Deta terbuka dan memberi jalan bagi lidah Ricky untuk merasakan kehangatan di dalamnya.


Ricky mencari-cari dimana lidah Deta untuk menyapanya, tapi Deta yang masih enggan untuk membalas ciuman Ricky mencoba untuk menahan semua gejolak di hatinya.


Ricky mulai merasakan panas di tubuhnya. Nafasnya terengah-engah namun ia enggan untuk melepaskan kenikmatan bibir Deta.


Sebenarnya tubuh Deta juga sudah mulai memanas, tapi karena teringat dengan ucapan Ricky sebelumnya, amarah Deta kembali menguasai hatinya.


Deta melepaskan paksa pagutan bibir mereka berdua. Namun, Ricky dengan cepat menahan tengkuk Deta agar tidak menjauh.


Terdengar dering ponsel dari saku celana Ricky. Ia terpaksa melepaskan bibir Deta dengan tidak rela.


"Hallo, Mika, ada apa?" Ricky menatap Deta yang masih menatapnya dengan tajam.


'Mika? Gadis yang di bicarakan kak Fita waktu itu, kan? Dia bahkan tidak memikirkan perasaanku???' Batin Deta kesal.


Deta memajukan bibirnya karena kesal.


Ricky yang melihat hal itu langsung mengusap bibir Deta dengan sebelah tangannya.


"Baiklah, aku akan datang. Tunggu aku!" Ricky memutus panggilannya.


"Jangan memainkan bibirmu di hadapan pria lain!" Ricky beralih pada Deta.


"Dan jangan sembarangan menabrakkan bibirmu itu!" sungut Deta.


Ricky tertawa melihat Deta yang sedang marah. Namun, pipinya bersemu merah.


"Bibir ini milikku." Sekali lagi Ricky mengusap bibir mungil Deta.


"Belum!" Deta menepis tangan Ricky.


"Maka, katakan iya! Aku akan segera menikahimu dan akan memberikan stempel kepemilikan di seluruh tubuhmu ini."


Hallo semuanya🤗


Dukung aku terus ya💪


Jangan lupa tinggalkan 👣 kalian disini berupa like👍, comment, rate and vote🤭


Makasih yang sudah ikut nyemplung ke dunianya Deta dan bang Ricky😘


Semoga kalian suka ceritanya🥰

__ADS_1


__ADS_2