Poros Jodoh

Poros Jodoh
ADA CERITA


__ADS_3

Derap langkah kaki Dito bersahutan dengan deru nafasnya yang memburu. Aura kemarahan bahkan sudah terasa sebelum ia memasuki apartemen pribadi milik Angga.


"Kak, Dania sudah tahu semuanya!"


Suara Dania yang yang terdengar memilukan selalu terngiang di telinga Dito, ia bahkan rela mendapat hukuman hanya agar bisa segera menemui adik semata wayangnya itu.


"Sialan kamu, Angga!" umpat Dito, kakinya terus melangkah dengan cepat.


Sebenarnya Dito juga belum mengetahui pasti apa yang terjadi karena Dania hanya menangis setelah mengatakan hal itu, tapi Dito yakin bahwa Angga telah melakukan hal yang begitu menyakitkan terhadap adiknya. Rasa sayang Dito kepada Dania memang tidak sebesar rasa sayangnya kepada Deta, tapi ia tetap melakukan tanggung jawabnya sebagai pengganti sang ayah.


"Dania!!!" teriak Dito begitu ia memasuki apartemen Angga yang nampak sepi.


"Kakak ...."


Dito melihat Dania sedang duduk di sofa sembari terus memegangi ponselnya. Tanpa pikir panjang, Dito langsung merengkuh tubuh Dania dan memeluknya dengan erat.


"Katakan, Dania! Apa yang di lakukan kak Angga padamu?" tanya Dito dengan penuh emosi.


Dania yang masih terguncang dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui, hanya bisa menangis dalam pelukan Dito.


"Jangan menangis! Katakan, ada apa?" tanya Dito lagi, kali ini ia menatap manik mata Dania yang begitu terpuruk.


"Tenanglah, Dito! Aku tidak melakukan apapun kepada Dania," sergah Angga, ia baru saja keluar dari ruang kerjanya.


Mendengar suara Angga, Dito langsung berbalik dan melihat pria itu sedang berdiri menatapnya bersama seorang wanita yang sangat Dito benci.


"Kau?" Dito menatap tajam ke arah wanita itu, kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku tahu, kau pasti mengatakan sesuatu yang membuat Dania menjadi seperti ini. IYA 'KAN, NYONYA MIKAYLA?" bentak Dito, ia sudah tak mampu menahan amarahnya.


***


Di rumah masa depannya bersama Ricky, Deta baru saja tersadar setelah lelah menghadapi serangan dari Ricky. Deta tidak menyadari jika sudah banyak hal yang ia lewati semenjak Ricky membawanya.


Mata Deta enggan terbuka andai saja ponselnya tidak terus berdering. Dengan mata yang masih setengah terbuka, Deta menjawab panggilan di ponselnya.


"Halo?" sapa Deta dengan suara parau.


"Kakak!" Suara tangis Dania di seberang panggilan membuat Deta langsung mendudukkan tubuhnya.


"Ada apa, Dania? Apa kamu baik-baik saja? Kamu dimana, Sayang?" tanya Deta khawatir.


"Aku ... aku ... di apartemen kak Angga. Kakak dimana?" isak Dania memilukan.


Deta melirik jam di dinding yang menunjukkan bahwa ia sudah cukup lama meninggalkan Dania dan juga Rayyan.


'Astaga! Maafkan aku, Sayang-sayangku.' batin Deta nelangsa. "Kamu tunggu disana, Kakak akan segera kesana." ucap Deta kemudian memutuskan panggilannya.

__ADS_1


Pandangan Deta menyapu seluruh ruangan yang sangat besar itu, tapi ia tak menemukan sosok Ricky dimanapun.


"Kemana dia?" gumam Deta, ia melilit tubuhnya dengan selimut sebelum berjalan menuju kamar mandi.


Beruntung, kali ini Ricky tidak merusak pakaiannya. Jadi Deta bisa kembali mengenakan pakaian yang ia kenakan sebelumnya.


Dengan tergesa-gesa, Deta berpakaian dan merapihkan rambutnya sebelum keluar dari kamar penuh romansa cintanya dengan Ricky.


Langkah kaki Deta terdengar nyaring ketika menuruni tangga karena ia berjalan dengan sangat cepat. Dan hal itu memancing dua pasang mata yang berada di lantai bawah untuk melihat ke arahnya.


"Sayang?" panggil Ricky, begitu ia melihat sosok Deta yang menuruni tangga.


"Deta?" ucap Nino, caranya menatap Deta seperti seseorang yang baru saja melihat hantu.


Ricky yang menyadari tingkah sahabatnya itu hanya bisa terkekeh melihat keterkejutan di wajah Nino.


"Aku harus segera kembali ke apartemen Angga." ucap Deta, setelah jaraknya dengan Ricky hanya tinggal beberapa centi aja.


Mendengar nama Angga di sebut membuat Ricky naik pitam. "Kamu masih ingin kembali padanya?"


Kemarahan begitu jelas terlihat di mata Ricky, rasa cintanya yang begitu besar kepada Deta membuatnya tak mampu melepaskan Deta untuk yang kedua kalinya.


"Dia masih suamiku, tidak ada salahnya jika aku kembali kepadanya." sinis Deta, kesal menghadapi sikap posesif Ricky.


"Tapi akulah yang memilikimu seutuhnya," ucap Ricky dingin.


"Aku tidak mendengar apapun." Nino menutup kedua telinganya begitu Deta melemparkan tatapannya kepada pria itu.


"Baiklah." Deta menghela nafas panjang. "Aku harus kembali ke apartemen Angga karena Dania baru saja menghubungiku. Dan yang membuat aku khawatir adalah karena aku mendengar Dania menangis." jelas Deta.


"Dania menangis!!!" teriak Nino tiba-tiba tepat saat Ricky akan membuka mulutnya.


"Apa masalahmu, Brother?" tanya Ricky bingung.


"Dia yang ku maksud, Ky! Dania yang aku temui sebelum aku kesini, gadis itu di bawa pergi oleh Angga dan juga wanita sialan itu." tegas Nino dengan wajah kesal.


"Wanita sialan?" Ricky menaikkan sebelah alisnya.


"MIKAYLA."


Ingatan Nino...


"Dia Dania, adiknya Deta."


"Apa!!!" teriak Nino terkejut.

__ADS_1


"Kamu tidak mungkin melupakannya, No, dia putrinya kak Nika." jelas Mika, menambah keterkejutan Nino.


Setelah membuat Nino terkejut dengan kenyataan itu, Angga membawa Dania pergi dengan di ikuti oleh Mika dan meninggalkan Nino yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


'Adiknya Deta? Putrinya Anika? Keponakan Mika? Moony? Itu artinya dia masih anak-anak? Pantas saja dia menyebutku pedofil.'


Flashback off...


"Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak tadi?" gerutu Ricky, ia menghampiri Deta yang semakin terlihat khawatir. "Tenanglah, Sayang, aku akan mengantarmu." ucap Ricky menenangkan.


"Aku berniat mengatakannya, tapi kamu terlalu larut dalam manisnya cinta." sungut Nino, tak terima di salahkan oleh Ricky.


"DIAM!!!" bentak Ricky yang mendapat acungan dua jari dari Nino tanda perdamaian.


"Aku harus pergi sekarang," lirih Deta, kakinya sudah melangkah. Namun, Ricky langsung menahannya.


"Tunggu! Aku akan mengantarmu." pinta Ricky kemudian bergerak secepat kilat menuju kamar tidur utama.


"Rayyan?" teriak Deta pada Ricky yang sudah mencapai anak tangga teratas.


"Gibran akan membawanya kesana!"


***


Di apartemen Angga, Dito masih menatap Angga dan Mika dengan penuh amarah. Andai saja menghilangkan nyawa seseorang itu semudah menepuk nyamuk, pasti Dito sudah melakukannya.


"Jadi? Rayyan adalah putra kalian berdua?" tanya Dito, tatapannya seperti anak panah yang siap melesat ke arah Angga dan juga Mika.


"Benar!" jawab Angga datar.


"Apa kak Deta tahu?" tanya Dito lagi.


Mika menoleh ke arah Angga yang terlihat tak bergeming. "Aku rasa Deta -"


"Deta tahu semuanya!" tegas Angga, menyela ucapan Mika.


"Apa?" Dito hampir saja tak bisa menahan emosinya, andai saja ia tak merasakan seseorang menyentuh bahunya.


"Itu benar! Aku tahu semuanya."


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga 'ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


SEE YOU NEXT WEEK 😍


__ADS_2