
Ricky tiba di rumah saat tengah malam, ia memutar kunci dengan perlahan karena takut membangunkan keluarganya. Saat ia memasuki rumah semua ruangan sudah gelap gulita kecuali ruang keluarga yang berhadapan dengan kamarnya.
"Mama!!!" Terkejut Ricky melihat ibunya sedang duduk di sofa dengan wajah yang lelah dan menahan kantuk.
Ricky menghampiri ibunya yang tersenyum lega melihat kedatangan putranya.
"Mama kenapa belum tidur?"
"Menunggu kamu pulang, Sayang." Bu Rika membelai kepala Ricky.
" Maaf, Ma, tadi Ricky ketinggalan kereta karena Jerry terus menerus membicarakan hal yang tidak penting." Ricky mendengus kesal.
Membayangkan wajah Jerry membuatnya ingin melayangkan pukulan ke wajah temannya itu.
"Memang Jerry membicarakan apa?" tanya bu Rika lembut saat merasakan amarah yang tersirat dari cerita Ricky.
"Tidak penting, Ma." jawab Ricky seraya bangkit dan hendak memasuki kamarnya.
Namun, saat hendak membuka pintu kamarnya Ricky berbalik dan menatap ibunya yang masih duduk di sana menatap dirinya.
"Lain kali, Mama tidak perlu menunggu Ricky. Tidurlah kalau Mama sudah lelah!"
Bu Rika hanya tersenyum tanpa menjawab apapun.
'Mama akan terus seperti ini sampai ada seseorang yang mengurusmu, Nak.'
***
'A... apaaa yang terjadi pada kamarku? Siapa yang melakukan kekonyolan ini?'
Ricky sangat terkejut melihat perubahan pada kamarnya.
Kamar yang awalnya beraura maskulin. Kini berubah menjadi kamar yang hangat. Dengan tirai dan seprai berwarna senada. Yaitu putih dan nude.
Meja kerja yang tadinya sedikit berantakan oleh beberapa berkas kini sudah rapih. Alat tulis pun tersusun rapih dalam satu tempat bergambar doraemon.
'Apaaa!!! Doraemon???'
Tatapan Ricky berhenti pada pencil case berbentuk tabung berwarna biru langit .
'Cih!!! Siapa yang berani - beraninya menyentuh barang - barang ku???'
Ricky mengusap wajahnya kasar, kesal karena menyadari seseorang sudah dengan berani masuk ke area pribadi miliknya.
Ricky bergegas keluar kamarnya untuk menemui ibunya dan meminta penjelasan. Saat ia akan mengetuk pintu kamar tidur orang tuanya, Ricky mengurungkan niatnya dan menarik kembali tangannya.
"Mama pasti lelah. Baiklah akan aku tunggu sampai besok." gumam Ricky kemudian kembali ke kamarnya.
***
Ricky tersenyum sinis memandang kamarnya kemudian kembali memeriksa meja kerjanya dan memastikan barang apa saja yang hilang.
Ricky duduk di kursi dan menyandarkan tubuhnya, menarik laptopnya agak lebih dekat. Ternyata ada sebuah kertas yang ikut terseret bersama laptopnya.
"Apa ini?"
Ricky membuka kertas tersebut yang ternyata adalah sebuah surat.
__ADS_1
Maaf Pak Ricky saya membersihkan kamar anda tanpa izin. Tapi saya sudah mendapat izin dari bu Rika.
"Cih!!! Memangnya ini kamar mama? Ini 'kan kamarku!" Ricky bergumam sendiri.
Tentu bapak akan marah?
"Pastinya!!!"
Bapak tenang saja. Saya tidak merubah apapun disini. Semua berkas bapak saya letakkan di laci meja kerja bapak dan sudah saya urutkan sesuai tanggal.
Ricky memeriksa lacinya dan menemukan tumpukan berkasnya berada di sana. Ia pun bernafas lega. Kemudian kembali fokus kepada surat itu.
Sekali lagi saya mohon maaf . Semoga anda tidak terganggu. Deta
"Deta??? Siapa Deta??? Apa dia asisten baru papa?" Ricky menggerak-gerakkan bola matanya ke kiri dan ke kanan. Mencoba menelusuri ingatannya dan mencari siapa sosok Deta. Nihil. Dia tidak mengingat apapun.
"Baiklah, Deta. Kita lihat apa yang akan terjadi besok."
***
"Ma, siapa yang membereskan kamar Ricky kemarin?" Ricky menekankan kata "membereskan" pada pertanyaannya.
Saat ini Ricky sedang makan siang bersama kedua orang tuanya di ruang makan. Hanya ada mereka bertiga. Karena Refita belum datang berkunjung.
Sebenarnya, sejak pagi Ricky menunggu ibunya untuk menjelaskan sendiri tapi sepertinya bu Rika tidak tampak akan melakukan hal itu.
"Deta." Jawaban singkat bu Rika membuat Ricky menaikkan sebelah alisnya.
"Maaaaa ...," Bu Rika tersenyum melihat ketidak sabaran putranya.
" Pa... apa-apaan sih?" Kesal Ricky dengan ulah ayahnya.
"Apalagi? Papa sedang menyuapi Mama." Pak Firman tidak menghiraukan kekesalan putranya.
"Cih!!! Seperti anak remaja saja." Ricky bergumam tapi bisa di dengar oleh pak Firman.
"Memang masih remaja. Hahaha ...." Tawa pak Firman membahana di ruang makan siang hari itu, menambah level kekesalan Ricky.
Bu Rika yang memahami keadaan langsung menggenggam tangan suaminya agar berhenti tertawa.
"Baiklah. Lanjutkan, Ma! Seperti nya jagoan sudah mulai marah." Pak Firman mengedipkan sebelah matanya kepada Ricky .
"Begini, Sayang. Deta itu yang membantu Mama di rumah dan juga di sekolah." jelas bu Rika.
"Asisten mama?" tanya Ricky ragu dan bu Rika hanya mengangguk .
"Sejak kapan?"
"Hampir dua bulan,"
"Dua bulan???" ulang Ricky.
"Hampir, Sayang," Bu Rika tidak menyadari keterkejutan putranya.
"Bagaimana mungkin selama ini aku tidak tahu kalau ada orang asing di rumah kita, Ma?"
Bu Rika meletakkan sendoknya kemudian menatap putranya.
__ADS_1
"Tentu mungkin, Sayang, kamu jarang sekali berada di rumah. Selalu pulang larut malam dan pergi bekerja bahkan saat matahari belum menampakkan diri." Helaan nafas mengakhiri ucapan atau lebih tepatnya keluhan bu Rika.
"Itu tuntutan pekerjaan, Ma. Setiap hari Ricky harus lembur. Dan kalau Ricky tidak berangkat pagi-pagi, bisa-bisa Ricky ketinggalan kereta dan akan terlambat ke kantor. "
"Kalau begitu bawa mobil saja, Boy! " Akhirnya Pak Firman bersuara setelah cukup lama mengamati perdebatan istri dan putranya.
"Ricky tidak punya mobil, Pa," jawab Ricky santai sambil terus menghabiskan makan siangnya.
"Mobil di rumah ini ada banyak, *B*oy. Kamu bisa pakai salah satunya. Atau kamu mau di belikan mobil keluaran terbaru?"
"Tidak, Pa, Ricky akan membelinya sendiri."
"Kapan?"
"Nanti, Pa, Ricky masih menabung. Uangnya belum cukup." Ricky meneguk minumannya dan mengelap mulutnya.
"Kenapa harus seperti itu? Uang Papa banyak, kamu tinggal memilih dan akan Papa belikan." Pak Firman mulai menaikkan nada bicaranya.
"Kenapa seperti itu??? Itu adalah didikan papa. "Kalau kamu menginginkan sesuatu maka berusahalah!" Papa ingat, kan?" Ricky tersenyum usil dan mengedipkan sebelah matanya, menirukan apa yang di lakukan ayahnya tadi.
"Anak ini ternyata masih ingat sampai sekarang." Pak Firman bergumam sembari memijat dahinya. Bu Rika hanya terkekeh melihat keduanya.
***
"Pa, Ricky ingin sepeda seperti teman-teman." Ricky kecil merengek pada ayahnya.
Pak Firman menggendong putranya kemudian berkata, "Kalau kamu menginginkan sesuatu maka berusahalah!"
" Seperti apa, Pa?" Ricky kecil menatap ayahnya bingung.
"Seperti menabung uang jajanmu. Setelah uangnya terkumpul baru kamu bisa membeli sepeda yang kamu inginkan." Pak Firman tersenyum dan mencubit hidung anaknya.
"Tapi uang Papa kan banyak? Kenapa aku harus menabung?"
"Karena apa yang kamu hasilkan dengan jerih payahmu sendiri akan membuatmu bangga, *Bo*y. Apa kamu mengerti?"
Ricky kecil mengangguk walaupun dalam hatinya masih terselip kebingungan. Pak Firman tersenyum dan menciumi putranya itu.
"Anak pintar."
***
Pak Firman mengusap wajahnya saat ingatannya kembali teringat begitu Ricky mengucapkan hal yang pernah ia ucapkan dulu.
"Simalakama telah memakan tuannya." gumamnya lirih.
***
Hallo semuanya🤗
Semoga kalian suka ceritanya 🥰
Sebelum baca, like dulu ya 👍
Dan kalo bisaaa nihh tolong vote yaa 😘
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 kalian.
__ADS_1