
"Mas Ricky." Sudah yang kesekian kali Deta mengucapkan itu atas permintaan si pemilik nama.
Ricky sangat suka saat Deta memanggilnya seperti itu.
"Lagi!" Ricky tersenyum sendiri melihat Deta yang mulai salah tingkah.
'Biasakan lidahmu itu menyebut namaku!!!' pikirnya.
"Tapi, Pak ...." Deta mulai merasa aneh menyebut nama Ricky berulang-ulang seperti itu, sementara Ricky terus berdiri dan memperhatikannya.
Ricky mengerutkan keningnya mendengar Deta kembali memanggilnya dengan embel-embel "pak".
Kembali di raihnya pinggang Deta dan mempertemukan kembali bibirnya yang sudah rindu dengan manisnya bibir Deta.
Deta yang sudah dua kali mengalami hal ini langsung bereaksi.
Di dorongnya dada bidang Ricky. Namun karena tubuhnya yang mungil, tenaga Deta bahkan tak mampu membuat Ricky bergeser sedikit pun.
Karena terlalu terbawa suasana, baik Deta maupun Ricky tak ada yang menyadari bahwa seseorang sedang memperhatikan mereka dari ujung tangga lantai dua.
***
Refita terjaga begitu mendengar bel rumah berbunyi. Tapi ia tak lantas meninggalkan tempat tidurnya.
"Biarlah, ada Deta yang akan membukanya." gumamnya kemudian kembali memejamkan mata.
Karena tak mendengar suara apapun, Refita akhirnya memutuskan untuk turun dan memeriksa keadaan di lantai bawah.
Ia melihat Deta sedang berdiri dan di rangkul oleh seorang pria, namun ia tak bisa melihat dengan jelas siapa pria itu.
Refita mengucek matanya dan mencoba mengenali sosok yang ada di hadapan Deta.
'Ricky!!! Itu Ricky, kan?' Batin Refita.
Ia tak percaya melihat adiknya ada di rumahnya malam-malam seperti itu.
Begitu Refita hendak melangkah turun dan menghampiri adiknya, ia melihat Ricky melepaskan pelukannya dengan wajah kesal.
"Apa mereka bertengkar?" Refita bergumam sendiri karena penasaran dengan apa yang di bicarakan Deta dan Ricky.
Diselipkannya rambutnya di telinga, berharap dengan melakukan hal itu bisa membuatnya mendengar apa yang sedang di bicarakan Deta dan Ricky.
"Aku tidak bisa mendengar apapun." Refita terus bergumam hingga ia terkejut saat melihat Ricky yang tiba-tiba mencium Deta.
"Astaga!!!" Refita terkejut dengan suaranya sendiri kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Sepersekian detik ia berpikir apa yang harus ia lakukan, tapi Refita memutuskan untuk tidak ikut campur terlalu jauh dalam hubungan asmara Ricky dan Deta.
Ia berbalik dan kembali masuk ke kamarnya dengan nafas terengah-engah.
"Aku melihat lebih banyak daripada mama." Terlukis senyum di wajah cantiknya.
***
Deta menaiki tangga dengan perlahan dan diikuti oleh Ricky yang terus saja menebar senyumnya.
__ADS_1
'Kenapa dia senang sekali menabrakkan bibirnya?' sungut Deta dalam hatinya.
Mereka berjalan di koridor lantai dua dan berhenti di depan sebuah pintu.
"Anda bisa tidur di sini, Pak." Deta membukakan pintu yang ternyata adalah kamar tamu.
"Pak?" tanya Ricky dengan nada bicara yang aneh.
Deta hanya diam dan menarik nafas dalam.
"Akan kulakukan yang tadi kulakukan sebelumnya jika kamu masih memanggilku seperti itu." ancam Ricky seraya melangkah masuk.
Deta berbalik tanpa mengatakan apapun kepada Ricky, ketika Ricky berbalik dia tidak menemukan Deta di belakangnya.
Segera ia berlari keluar kamar dan melihat Deta sedang berjalan menuruni tangga.
"Kemana kamu akan pergi?" tanya Ricky setelah berhasil mengejar Deta.
"Apa anda butuh sesuatu?" Bukannya menjawab tapi Deta justru bertanya dengan sikap yang kaku.
'Kenapa dia sangat dingin kepadaku? Dan hanya kepadaku!!!' Batin Ricky.
Ricky juga tidak menjawab pertanyaan Deta melainkan hanya menatap tajam kepada gadis yang sedang menunggunya mengatakan sesuatu.
Cukup lama Deta menunggu Ricky bicara tapi pria itu tak tampak akan bicara. Maka Deta memutuskan untuk pergi.
"Tunggu!" Ricky mencoba menahan Deta. "Kamu belum menjawab pertanyaanku." tanyanya.
"Anda juga, Pak." Deta menjawab dengan sinis. Dan itu dapat di rasakan dengan jelas oleh Ricky.
'Sepertinya dia marah padaku. Aku harus memberikan ruang baginya untuk bicara.'
Ricky berpikir dan mulai menyadari kesalahannya.
"Maaf." Suara Ricky terdengar lirih, dan hal itu seketika menghentikan langkah Deta yang hendak membuatkan susu hangat untuknya.
"Tidak ada yang perlu di maafkan, Pak." Deta kembali melangkah.
Ricky memperhatikan Deta yang sedang membuat susu di dapur, ia memilih menunggunya di meja makan agar bisa melihat gadis itu dengan jelas.
Selama beberapa menit menunggu, akhirnya Deta datang dengan segelas susu hangat yang langsung ia letakkan di hadapan Ricky.
"Ayo, duduklah!" Ricky menarik lengan Deta memintanya untuk duduk bersamanya.
"Kamu marah padaku?" Ricky bertanya setelah Deta menurutinya untuk duduk.
"Tidak."
"Benarkah?"
"Tentu."
"Lalu kenapa kamu bersikap dingin seperti itu?" Ricky mulai meminum susunya yang terasa hangat di perut.
"Saya tidak mengerti maksud anda."
__ADS_1
"Kamu tidak ingin bicara denganku?" Kali ini nada bicara Ricky sedikit terdengar tidak nyaman di telinga Deta.
"Saya tidak punya hak untuk itu." Deta sempat menaikkan pandangannya saat mengatakan hal itu dan pandangannya langsung bertemu dengan Ricky.
"Tentu kamu punya hak untuk segalanya."
"Saya hanya seorang pelayan, Pak,"
"Kamu bukan pelayan!" Ricky menggeser kursinya hingga semakin dekat dengan Deta.
"Kenyataannya saya seorang pelayan di rumah anda, Pak," Deta memalingkan wajahnya menghindari tatapan Ricky.
"Itu bukan rumahku! Itu rumah orang tuaku. Jadi kamu bukan pelayanku, dan kamu punya hak untuk bicara denganku."
Deta meremas jari-jari tangannya, mencoba mencari keberanian di dalam dirinya.
"Hak apa yang saya miliki, Pak? Bahkan anda menganggap saya wanita murahan!" Deta berbicara dengan air mata yang sudah siap meluncur dari matanya.
Ricky terlihat bingung dengan ucapan Deta, tapi karena melihat Deta yang sudah hampir menangis ia langsung memeluknya dan meminta maaf.
"Maafkan aku, tapi tolong jangan mengatakan hal seperti itu lagi. Aku tidak pernah berpikir sekotor itu!!!"
"Lalu apa? Anda seenaknya saja menabrakkan bibir anda bahkan tanpa bertanya kepada saya."
Ricky melepaskan pelukannya dan menatap Deta yang sudah mulai berlinang air mata.
'Sial! Aku justru membuatnya menangis.' sesal Ricky.
"Maaf," Ricky menatap Deta yang masih tertunduk.
"Angkat kepalamu!" Deta menggeleng.
"Atau kamu ingin aku yang mengangkatnya?"
Perlahan Deta mengangkat kepalanya dan melihat wajah Ricky yang tampan sedang menatapnya.
Ricky tersenyum simpul melihat mata bulat yang jernih itu telah di basahi air mata dan itu gara-gara ulahnya.
"Jangan pernah menyembunyikan matamu lagi!" Ricky hendak mencium Deta lagi tapi kali ini Deta langsung berpaling.
"Saya hanya seorang pelayan, Pak, saya tidak pantas terlalu dekat dengan anda." Deta berdiri dan meninggalkan Ricky sendirian.
'Apa yang harus kulakukan sekarang? Si brengsek Nino memberiku ide yang salah!!!' Ricky mengumpat dalam hatinya.
Dan seseorang yang sedang berada di tempat yang berbeda tiba-tiba saja bersin.
"Haaaaccciihhh!!!"
"Siapa yang sedang memaki ku tengah malam begini?"
Hallo semuanya🤗
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like 👍 dan votenya yaa 😊
Semoga kalian suka ceritanya🥰
__ADS_1