Poros Jodoh

Poros Jodoh
SEBUAH NAMA


__ADS_3

"Kakak darimana saja? Dania mencari Kakak sejak tadi." tanya Dania kesal, ia memang berkata jujur. Seharian ini, kakaknya sudah menghilang dan tidak meninggalkan pesan.


"Kakak di sini sejak tadi." jawab Deta santai.


Matanya masih terus memandangi pasangan kekasih yang berlalu lalang di hadapannya. Andai hari itu tidak pernah datang. Mungkin saat ini ia sudah menjadi wanita paling bahagia di dunia.


Tak terasa bulir air mata menetes di pipinya, mewakili hatinya yang selama ini memendam kepedihan karena harus merelakan cinta pertamanya kandas tepat di hari pernikahan mereka.


"Kakak?" Dania menggenggam tangan Deta begitu ia merasakan tetesan air di tangannya.


Dengan cepat Deta menghapus air matanya dan menoleh ke arah Dania yang nampak khawatir melihat keadaan kakaknya.


"Kakak baik-baik saja, Dania. Bagaimana kalau kita makan es krim?" usul Deta, ia juga ingin mendinginkan pikirannya sejenak.


***


Tut, tut, tut, tut, tut, tut. Klik!


Pintu apartemen Ricky terbuka setelah ia memasukkan kodenya. Setelah kepergian Deta, Ricky memilih untuk tinggal di apartemen. Ia ingin hidup sendiri tanpa ada yang mengganggu. Dengan begitu, ia bisa bebas memikirkan Deta sesuka hatinya.


Sejauh mata memandang, hanya ada kesunyian di dalam apartemen mewah itu. Selain Ricky, tidak pernah ada yang menginjakkan kaki di apartemennya.


Ricky berjalan ke dapur dan membuka lemari es. Tidak ada apapun yang menarik disana. Ia menutup kembali lemari es dan merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.


"Hallo, dimana kamu?" tanya Ricky pada seseorang di seberang panggilan.


"Aku di rumah. Ada apa, Ky?" jawab orang yang di hubungi Ricky.


"Minggu depan kamu akan menikah. Ayo, kita adakan pesta lajang!"


***


Dentuman musik yang keras serta bau alkohol yang menyengat langsung menyambut kedatangan Ricky dan juga Jerry.


Minggu depan adalah hari pernikahan Jerry dengan Syafitri, itu sebabnya Ricky mengajak Jerry untuk mengadakan pesta lajang bersama dengannya dan juga Nino.


Tatapan mata Ricky berkeliling mencari sosok Nino yang nampak samar-samar karena cahaya lampu yang redup.


"Hei, Brother! Disini." Nino melambaikan tangannya kepada Ricky dan Jerry, yang langsung di jawab lambaian tangan oleh Jerry.


Ricky dan Jerry menghampiri Nino yang sedang duduk dengan beberapa botol minuman berbaris di meja.


"Kamu mabuk, No?" tanya Ricky yang mencium bau alkohol dari mulut Nino.

__ADS_1


"Tidak!" sanggah Nino sembari menepuk bahu Ricky yang kini duduk di sebelahnya dengan wajah dingin.


"Aku ingin bersenang-senang, tapi kamu sudah mabuk sebelum pesta di mulai." sungut Ricky, kesal melihat ulah Nino yang semakin menjadi-jadi saja.


Minum alkohol dan mabuk-mabukkan kini menjadi kebiasaan baru Ricky, alasannya sama karena kepergian Deta. Ia berpikir jika dirinya mabuk, maka Deta akan menghilang dari ingatannya.


Memang, saat mabuk seseorang akan melupakan segalanya dan akan menjadi dirinya sendiri. Namun, itu hanya sesaat. Rasa sakit yang ingin di lupakan justru semakin terasa saat kesadaran sudah kembali.


Ricky mengambil salah satu botol minuman yang ada di meja dan langsung meneguknya seperti orang yang kehausan.


"Hei... hei... hei... apa yang kamu lakukan?" Nino yang sudah setengah mabuk langsung merebut botol minuman yang berada di tangan Ricky.


"Aku ingin melupakannya... aku ingin melupakannya ...," gumam Ricky, air mata mengiringi setiap kata yang keluar dari bibirnya.


***


Langkah kaki penuh semangat dan tawa yang riang menggema di seluruh rumah yang lebih terlihat seperti kastil.


"Darimana kalian?" Suara seseorang mengejutkan Deta dan Dania yang baru saja memasuki rumah.


Mereka menoleh dan melihat Angga yang sedang menuruni tangga dan menatap mereka berdua dengan tatapan tajam.


Deta tersenyum dan mengusap rambut Dania. "Kamu istirahat dulu, ya, Dania!"


"Apa kamu menungguku?" tanya Deta, masih dengan wajah yang seolah tidak melakukan kesalahan apapun.


"Menurutmu?" Angga bertanya balik, kedua tangannya sudah terlipat di dada.


"Ehmm... aku tidak tahu. Mungkin iya, mungkin juga tidak." jawab Deta dengan bahu terangkat.


"Apa kamu pergi untuk menulis tentang dirinya lagi?" Kemarahan mulai menguasai Angga.


"Bisakah kamu lebih tenang sedikit? Aku hanya pergi untuk mencari udara segar. Jangan berlebihan!" sungut Deta, ia segera melangkah melewati Angga. Namun, Angga langsung menarik tangannya.


Pandangan mereka bertemu, tapi sama seperti biasanya. Deta tidak merasakan apapun terhadap Angga. Kehangatan yang ia rasakan saat menatap Ricky, tidak ia rasakan saat menatap Angga. Pria yang sudah menjadi suaminya selama lima tahun ini.


"Jawab aku! Kamu menulis tentang dirinya lagi, kan?" tanya Angga lagi, kali ini ia mencengkram tangan Deta dengan kuat.


"Apa yang kamu inginkan? Aku sudah menemanimu selama lima tahun ini dan kamu masih meragukan perasaanku terhadapnya?" Deta balik bertanya pada Angga yang tampak ragu.


"MOMMY!!!" Seorang anak kecil berlari dan menubruk kaki Deta.


Deta menunduk dan melihat wajah menggemaskan itu sedang menatapnya, berharap mendapatkan pelukan atau ciuman seperti biasanya.

__ADS_1


"Hallo, Darling!" Dalam sekejap, bocah tampan itu sudah berada dalam dekapan Deta.


"I miss you, Mommy." ungkap anak itu, satu kecupan mendarat di pipi Deta yang sudah tidak chubby lagi.


"Aku hanya pergi sebentar dan kamu sudah merindukanku?" tanya Deta, tangannya mencubit hidung mancung anak itu.


"Ya. I leally miss you, Mommy." tutur anak itu, cara bicaranya terdengar menggemaskan karena ia belum bisa mengucapkan huruf R dengan benar.


"Rayyan, kembali ke kamarmu! Aku ingin bicara dengannya." Angga sudah menyentuh tubuh Rayyan dan akan menurunkan anak itu dari gendongan Deta.


"NO, DADDY! NO!!!" teriak Rayyan, saat Angga menariknya dengan paksa dan menyerahkan Rayyan pada pengasuh.


"Kamu bersikap konyol, Ga." lontar Deta, ia tak habis pikir dengan sikap Angga pada Rayyan.


"Ikut aku!" pinta Angga sembari menarik tangan Deta.


***


"Apa ini?" Angga melemparkan sebuah buku di atas meja kerjanya.


Deta menatap buku itu sekilas dan berganti menatap Angga yang kini terlihat gelisah. "Ini novelku. Darimana kamu mendapatkannya?"


Angga mengambil buku yang ia lemparkan tadi. "Novel ini menceritakan tentang dia, kan?" tanya Angga, tangannya mengangkat buku itu ke udara.


"Aku tidak mengerti maksudmu." elak Deta, ia sudah berdiri dan akan meninggalkan Angga.


"Siapapun yang membaca cerita ini akan tahu jika kamu menulis tentang Ricky di dalamnya." lontar Angga, menghentikan Deta yang akan keluar dari ruangan itu.


DUARR!!!


Deta merasakan sesuatu dalam hatinya. Sudah lama ia tidak mendengar nama itu. Nama yang selalu membuatnya merasa sedih sekaligus bahagia. Nama yang terpatri secara permanen di hatinya.


'Pak Ricky Sanjaya.'



Hallo semuanya šŸ¤—


Jangan lupa jempol šŸ‘ dulu sebelum atau sesudah membaca dan juga tinggalkan jejak kalian di kolom komentar šŸ‘‡ agar author menyadari kehadiran kalian 😘


Yang mau vote author boleh banget ya šŸ˜


Iā¤U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2