
Suara tawa Ricky membahana di seluruh ruangan. "Hahahahaha ...."
"Apakah ada sesuatu yang begitu lucu, Pak?" tanya Deta.
Ia heran melihat Ricky yang terus tertawa hingga terpingkal-pingkal.
Melihat raut wajah Deta yang mulai kesal, Ricky mencoba mengendalikan dirinya dan menarik nafas. "Maaf," ucap Ricky.
"Tidak masalah, Pak, hanya saja kenapa anda tertawa sampai seperti itu?" tanya Deta lagi.
Ricky menatap bola mata Deta. Benarkah dia sepolos itu?
Perasaan kurang nyaman karena terus di tatap oleh Ricky membuat Deta menundukkan kepalanya.
"Angkat kepalamu!" perintah Ricky.
Perlahan, Deta kembali menaikkan pandangannya dan melihat Ricky yang berjalan ke arahnya.
Jangan mendekat! Jangan mendekat! Batin Deta. "Tunggu!" Deta mengangkat tangannya mencoba menghentikan langkah Ricky.
Tentu saja Ricky langsung menghentikan langkahnya. Namun, ia mengangkat sebelah alisnya menuntut penjelasan pada Deta.
"An-Anda mau apa, Pak?" tanya Deta dengan terbata-bata.
"Tentu saja menanam bibit." jawab Ricky.
Sepertinya Ricky tahu persis jika Deta sangat tidak nyaman dengan kata "bibit" itu.
Ia menyeringai melihat reaksi Deta yang tiba-tiba membelalakan matanya.
Tanpa ragu, Ricky melanjutkan langkahnya mendekati Deta yang masih berdiri di sisi tempat tidur.
Rasanya Deta ingin sekali berlari, tapi entah mengapa kakinya tak bisa di gerakkan seolah sudah menempel dengan lantai.
Ricky semakin mendekat dan mengurangi jarak di antara mereka. Hingga mereka berdua berdiri berhadapan dan hanya menyisakan ruang beberapa centi saja.
Hati mereka sama-sama berdebar dan menggelorakan hasrat yang luar biasa.
Ricky mendekatkan wajahnya pada wajah Deta. Matanya terlihat sayu dan sudah di penuhi oleh gairah.
Rasa takut serta gugup membuat Deta memilih memejamkan matanya, serapat-rapatnya.
Melihat Deta yang bertingkah seperti itu justru membuat Ricky mengurungkan niatnya. Hasratnya menguap bersama angin.
Ia menatap wajah Deta dengan teliti. Wajah bulat dengan pipi yang chubby.
Tiba-tiba saja Ricky mencubit pipi Deta dengan gemasnya. "Embeeemm."
"Aduh, sakit, Pak!" teriak Deta.
"Itu salahmu! Kenapa pipimu itu sangat menggemaskan?" Ricky tidak merasa bersalah sedikitpun.
Ricky sudah akan mencubit pipi Deta lagi. Namun, dengan cepat Deta menepis tangannya.
Seperti biasa, karena kesal Deta memajukan bibirnya. Ia lupa akan peringatan Ricky sebelumnya.
Ricky yang melihat hal itu langsung merespon. "Kamu yang mengundangku."
__ADS_1
Dengan cepat tangannya meraih tengkuk Deta dan mendapatkan bibir Deta dengan sempurna.
"Ummm ...," Deta mencoba melepaskan pagutan bibir mereka.
Ia mendorong Ricky dengan sekuat tenaga. Tapi Ricky justru mendesaknya hingga membentur dinding.
Tubuh Ricky semakin dekat dengan Deta, hingga akhirnya Ricky menempelkan tubuhnya dengan tubuh Deta dan menunjukkan "adiknya" yang menegang.
Deta sangat terkejut merasakan ada sesuatu yang keras menekan perutnya dan membuatnya meringis.
Ricky yang sudah tenggelam dengan manisnya bibir Deta itu pun langsung melepaskannya.
"Ada apa?" tanya Ricky.
"Tidak apa-apa Pak, ada sesuatu yang menekan perut saya." jawab Deta.
Wajah Ricky memerah karena memahami apa yang di maksud oleh Deta.
Ia mundur beberapa langkah dan menggaruk-garuk kepalanya yang bahkan tidak gatal.
Deta yang tidak menyadari bahwa dirinyalah yang membuat Ricky jadi salah tingkah seperti itu, hanya menatap Ricky dengan heran.
Di tengah-tengah kecanggungan mereka, tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan itu.
"Kakak!!!" teriak Dania.
Gadis kecil itu berlari menghampiri Deta dan memeluk kakak kesayangannya itu.
"Maaf, Tuan. Nona muda memaksa ingin bertemu dengan Nyonya." Bu Sri membungkuk hormat.
"Tidak masalah, Bu. Sekarang Ibu bisa beristirahat." jawab Ricky.
***
"Aku melihatnya menangis di depan gerbang sekolah. Saat aku bertanya kenapa dia menangis? Dia justru menangis dengan lebih keras." Ricky terkekeh sembari memperhatikan Dania yang sedang bermain di halaman belakang bersama dengan bu Sri.
"Apa yang Anda lakukan di sana, Pak? Kenapa Anda tidak pergi ke kantor?" Serentetan pertanyaan Deta yang sebenarnya keluar dari topik pembicaraan mereka.
Ricky hanya tersenyum menatap Deta. "Kamu ingin tahu?"
"Tidak juga. Hanya bertanya saja," elak Deta.
"Aku menginap di apartemen Angga semalam bersama dengan Nino. Aku berniat kembali pagi ini dan langsung mempersiapkan lamaran untukmu. Tapi yang aku dapatkan justru penolakan darimu." jelas Ricky.
Walaupun Deta berkata tidak ingin tahu. Tapi Ricky merasa ia tetap harus menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.
Dan hal itu adalah suatu kewajiban bagi Ricky dalam menjaga sebuah hubungan dan kepercayaan.
"Nino?" Deta mengerutkan keningnya.
Astaga, dia justru fokus pada Nino. Batin Ricky kesal. "Nino itu temanku," jelas Ricky.
"Angga?" tanya Deta.
"Angga?" Ricky bertanya sama seperti yang baru saja Deta lakukan.
Ricky tersenyum dengan sumringah. "Dia sahabatku."
__ADS_1
"Baguslah," ucap Deta.
"Kenapa?" tanya Ricky.
"Setidaknya kalian tidak akan bertengkar karena diriku seperti saat itu." Deta mengerjap mencoba menghilangkan ingatannya.
"Kami memang sering bertengkar, tapi itu hanya sesaat saja." ungkap Ricky.
Mereka saling menatap kemudian tersenyum. Perlahan, semakin sering berada di dekat Ricky membuat Deta berani menatap pria itu.
"Kenapa kamu menolakku?" Ricky mencoba memanfaatkan keadaan Deta yang sudah mulai tenang.
"Saya ...."
"Katakan!" pinta Ricky.
"Entahlah, saya hanya tidak ingin menikah saja." Deta beralasan.
"Karena Dania?" Ricky menebak pikiran Deta dengan tepat.
Deta tak bisa menjawab apapun. Ia hanya menundukkan kepalanya dan berharap bisa menyembunyikan segalanya dari Ricky.
"Jika itu karena Dania," Ricky menatap Deta. "Kita akan membawanya bersama kita ke rumah ini." sambungnya.
Tidak ada jawaban.
Deta tetap menunduk dan menyembunyikan matanya.
Terlihat bahunya naik turun seperti seseorang yang sedang menangis.
Ricky segera meraih tangan Deta dan menggenggamnya.
"Hei, katakan sesuatu!" Ricky mengusap tangan Deta dengan ibu jarinya.
Tiba-tiba saja, isak tangis terdengar dari mulut Deta dan air mata sudah membasahi pipinya.
Tanpa bertanya lagi, Ricky langsung memeluk Deta dan membenamkan wajah Deta di dadanya.
Untuk beberapa saat, Ricky membiarkan Deta meluapkan emosinya dengan air mata.
Apakah dia begitu tidak ingin menikah denganku? Batin Ricky berkecamuk.
Ia berusaha menenangkan Deta dengan mengusap rambutnya dan sesekali menciumi puncak kepala Deta.
"Tenanglah! Aku di sini untukmu, Sayang." ungkap Ricky.
Perlahan Deta mulai tenang. Ia menghapus air matanya dan melepaskan diri dari pelukan Ricky.
"Terima kasih, Pak, Anda memang pelanginya Dania." Deta tersenyum dengan hangatnya.
Hallo semuanya🤗
Semoga masih stay di dunianya Deta sama bang Ricky ya😘
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 kalian di sini dong biar aku tau bahwa kalian hadir untuk mendukungku 🥰
Aku juga menunggu like, comment, rate dan vote dari kalian semua 😘
__ADS_1
I❤U readers kesayangan kuuhh 😍