
Bandara kota xx...
"Kakak!!!" Seorang pria bertubuh tinggi dan kekar dengan seragam militer melambaikan tangannya pada seorang wanita cantik yang sedang menggandeng seorang anak kecil berwajah menggemaskan.
Tiba-tiba muncul seorang gadis belia dari balik tubuh wanita cantik itu. "Kak Dito!!!" Gadis itu langsung menubruk tubuh pria yang tadi melambaikan tangannya.
Kerinduan di antara mereka berdua terlihat sangat jelas, masa lalu yang pahit sudah tak lagi mereka rasakan. Yang ada kini hanya kebahagiaan dan perasaan saling menyayangi. Cukup lama mereka saling berpelukan dan melepaskan rindu yang selama ini terpisah oleh dua benua.
"Ehem ...," Deta melepaskan kaca mata hitam yang bertengger di atas hidungnya. "Apakah kalian sudah melupakanku?" sindir Deta.
"Tentu tidak, Kak." ucap Dito seraya memeluk kakak tersayangnya itu. "Bagaimana kabar Kakak?" tanyanya kemudian.
"Aku baik. Bagaimana kabarmu, Dek? Sepertinya kamu kerasan disini, ya?" Deta menepuk-nepuk pundak adiknya yang kini semakin kekar.
Dito tersenyum, matanya berkaca-kaca menahan haru. "Tentu, Kak, ini 'kan negaraku sendiri. Tapi aku akan lebih kerasan jika Kakak dan Dania juga ada disini. Kembalilah, Kak!"
Kali ini mata Deta yang berkaca-kaca, bukannya ia tak ingin kembali ke tempat asalnya. Namun, keadaan yang belum memberinya kesempatan untuk kembali. "Belum waktunya, Dek."
"Tapi, Kak -"
"Uncle!" Dito menunduk karena merasa ada yang menarik-narik celananya.
"Hei, Rayyan!" Dito langsung mengangkat tubuh Rayyan ke udara. "Kak, kenapa Kakak mengajak Rayyan?" tanya Dito, masih dengan Rayyan yang berada di sebelah lengannya.
Deta menghela nafas. "Angga sedang pergi, Dek, dan Kakak tidak mungkin meninggalkan Rayyan bersama para pengasuh."
__ADS_1
Dito menatap nanar kakaknya, perjuangan kakak perempuannya itu telah ia saksikan sendiri. "Baiklah, ayo kita mengunjungi mama dan papa!" ajak Dito, mencoba mengalihkan perhatian Deta.
"Ayo!!!" Dania dan Rayyan bersorak bersamaan.
***
"Apa katamu? Kapan mereka tiba? Kenapa kamu tidak memberitahuku?" Angga langsung meninggalkan pekerjaannya dan pergi begitu saja dari ruang rapat.
"Maaf, Tuan, karena anda sedang rapat jadi saya -"
"Kamu tahu apa prioritasku, Dhirgam!" bentak Angga, ia tak memperdulikan tatapan mata para karyawannya.
"Maaf, Tuan, ini memang kesalahan saya. Tapi anda harus kembali ke ruang rapat. Jika tidak, tuan Sanjaya akan menghancurkan segalanya." tutur Dhirgam, pria itu tetap terlihat tenang walau Angga telah di kuasai amarah.
Angga berpikir sejenak, memang benar apa yang di katakan Dhirgam. Perusahaannya sedang dalam kondisi yang tidak baik karena ulah Ricky yang telah mengakuisisi beberapa saham miliknya.
"Nyonya dan tuan muda sudah dalam perlindungan tuan muda Riady, Tuan." ucap Dhirgam.
"Dito?" tanya Angga memastikan.
"Benar, Tuan."
"Baiklah, biarkan mereka. Sepertinya mereka butuh waktu."
***
__ADS_1
'Mama... Papa... Deta datang. Maaf karena Deta baru bisa mengunjungi mama dan papa sekarang, ada banyak hal yang harus Deta pertimbangkan. Tapi percayalah, Deta tidak pernah melupakan mama dan papa. Terima kasih sudah menjadi sandaran untuk Deta selama ini. Tolong bantu Deta dari atas sana. Deta sayang mama dan papa, selamanya.'
Buliran air mata tak bisa lagi Deta bendung. Ia menangis di depan tempat peristirahatan terakhir kedua orang tuanya.
Pak Danang Riady meninggal dunia dua tahun setelah insiden batalnya pernikahan Deta dan Ricky karena serangan jantung. Setengah tahun kemudian, bu Sarah pun menyusul suaminya untuk menghadap sang Pencipta. Cobaan bertubi-tubi di alami Deta dan kedua adiknya. Namun, mereka tetap teguh dan bertahan di negara asing meski kehidupan yang mereka jalani tidaklah mudah.
"Kak, mama dan papa pasti sudah memaafkan Kakak." Usapan lembut di punggung Deta membuatnya menoleh dan melihat Dito sedang tersenyum memberinya semangat.
Dito Riady yang di kenal sangat keras kepala dan mudah marah, kini telah berevolusi menjadi pria yang lebih sabar dan tegar. Ia juga lebih banyak diam dan mendengarkan setiap keluhan dari kakak ataupun adiknya.
"Terima kasih, Dek," ucap Deta masih dengan air mata yang membanjiri mata bulatnya.
Penyesalan terdalam Deta adalah ketika ia tak mau menghadiri pemakaman kedua orang tuanya. Permintaan terakhir tuan dan nyonya Riady yaitu mereka ingin di semayamkan di tempat kelahiran mereka sendiri. Sedangkan saat itu Deta masih sangat terluka atas kebohongan yang di lakukan Ricky. Trauma yang ia rasakan cukup dalam sehingga membuatnya takut untuk kembali ke tempat yang pernah ia tinggalkan dulu. Dengan berat hati, Deta membiarkan orang lain yang menemani kedua orang tuanya memasuki tempat peristirahatan terakhir mereka.
"Kita mulai hidup yang baru, Kak, itu juga pasti keinginan mama dan papa. Lupakan masa lalu dan biarkan saja berlalu." bujuk Dito, itulah salah satu alasannya kembali ke negara asalnya. Ia ingin Deta juga kembali kesini dan mengingat masa-masa bahagia yang pernah mereka lalui saat kecil.
"Kakak belum bisa, Dek." sergah Deta. Matanya menatap Rayyan yang sedang menunggunya di mobil. "Apalagi sekarang ada Rayyan, Kakak tidak mungkin meninggalkannya."
"Biarkan dia bersama kak Angga. Lagi pula dia bukan-" ucapan Dito menggantung karena Deta langsung berdiri dari posisinya.
"Kakak pikir kamu sudah berubah, Dek," sela Deta. Ia sempat membungkuk dan mengusap batu nisan kedua orang tuanya sebelum pergi meninggalkan Dito seorang diri.
Hallo semuanya π€
Jangan lupa jempol π dulu dan juga tinggalkan jejak kalian di kolom komentar πsertakan juga vote π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini πππ
__ADS_1
I β€ U readers kesayangan kuhh