Poros Jodoh

Poros Jodoh
MUNGKIN CEMBURU


__ADS_3

Tumpahan air di nampan keluar dari gelas yang sedang Deta bawa karena ia tergesa-gesa berjalan menuju ruang tamu tempat dimana Ricky dan Mika sedang berbicara.


Tanpa bicara sepatah katapun, Deta meletakkan gelas yang berisi minuman dingin itu di atas meja.


Ricky yang geram melihat tingkah Deta yang menurutnya selalu merendahkan dirinya sendiri. Mulai bertingkah seperti tuan muda lagi.


"Duduklah!!!" perintah Ricky pada Deta yang sedang meletakkan gelas.


Deta tidak bergeming sedikitpun. Membuat Ricky semakin geram.


"Aku bilang duduklah! Dan simpan nampan itu!" Kali ini Ricky berbicara dengan menaikkan nada bicaranya.


Mika yang sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi hanya bisa menatap Ricky dengan heran.


"Anda ingin saya duduk atau menyimpan nampan ini, Pak?" jawab Deta tapi tak berani menatap Ricky.


Jari tangannya meremas ujung nampan. Menahan gejolak emosi yang Deta sendiri tak bisa mengartikannya.


"Duduk di sini! Dan letakkan nampan itu di atas meja!" Ricky menunjuk sofa di sampingnya kemudian menunjuk sisi meja yang kosong.


Tidak ingin berdebat dengan Ricky. Tanpa menjawab Deta langsung melakukan hal yang di perintahkan olehnya.


'Aku sangat lelah berlagak seperti tuan muda begini. Bagaimana Angga bisa melakukannya setiap saat**???'


Ricky terus mengomel dalam hatinya.


Di perhatikannya Deta yang kini duduk di sampingnya dan terus menghindari tatapannya.


Terdengar suara Mika berdehem dengan cukup keras mencoba memecah keheningan.


Ia melingkarkan tangannya pada tangan Ricky dan menyandarkan kepalanya di sana.


"Kenapa kamu berbohong padaku? Kamu penipu Ricky!!!"


Deta cukup terpukul melihat apa yang di lakukan Mika, ia mengepalkan tangannya dan menahan dirinya untuk tetap duduk di sana.


"Bohong apa? Menipu apa?" Ricky menjawab malas namun tidak melepaskan kaitan tangan Mika.


Ricky merasa hal yang wajar Mika bersikap seperti itu padanya. Namun berbeda dengan Deta. Ia berpikir bahwa mereka terlihat sangat mesra. Seperti sepasang kekasih.

__ADS_1


"Kamu tidak datang saat aku memintamu datang. Aku menunggu kamu. Aku sangat membutuhkanmu saat itu." Mika berbicara dengan manja dan masih terus menempel pada Ricky.


Rasanya bokong Deta terasa sangat panas. Ia sudah tak sanggup duduk di sana untuk menonton kemesraan Ricky dan Mika.


"Maafkan aku -" Ricky belum selesai bicara karena tiba-tiba Deta berdiri dan terlihat gelisah.


"Maaf, saya harus ke belakang." Ia segera berlari ke dalam meninggalkan Ricky yang bahkan belum memberinya izin.


Ricky meraih udara seolah meraih Deta. Karena gadis itu berlalu dengan sangat cepat.


Tiba-tiba Mika tergelak dan menepuk-nepuk bahu Ricky.


"Apakah ada sesuatu yang patut di tertawakan?" Ricky menaikkan sebelah alisnya.


"Dia kah gadis itu? Gadis yang membuatmu menjadi seorang Ricky Sanjaya? Iya!!! Aku yakin pasti dia." Mika tersenyum puas seolah ia telah menemukan harta karun.


Ricky menghela nafas panjang dan mengacak-acak rambutnya yang sudah terlihat sempurna.


"Aku tidak tahu, Mika. Aku ingin mengikatnya di sampingku karena aku takut dia akan berlari menjauhiku."


"Dia sudah terikat olehmu, Ricky." Mika tersenyum dengan penuh keyakinan.


***


Ia juga terlalu bingung ingin melakukan apa.


Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memberi makan ikan-ikan di kolam taman belakang.


Namun Pikirannya terus berlarian entah kemana. Dan tanpa sadar ia terus menerus menuangkan makanan ikan ke kolam.


"Ikan-ikan itu akan mengalami obesitas jika kamu memberi mereka makan seperti itu." Suara seseorang membuyarkan lamunan Deta.


Ia menoleh dan melihat Mika sedang berjalan dengan anggun ke arahnya.


Deta memaksakan senyumnya. Ia tahu tak pantas baginya untuk cemburu pada Mika. Di lihat dari sudut manapun, Mika lah yang pantas bersanding dengan Ricky. Bukan dirinya.


"Ah, iya," Deta segera menutup kemasan makanan ikan tersebut dan meletakkannya di pondok dekat kolam.


Mika menyusul Deta dan duduk di tepi pondok. Ia memiringkan kepalanya ke samping meminta Deta bergabung bersamanya.

__ADS_1


Mereka duduk berdampingan dan menatap ke depan. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


Deta memandang Mika sesaat. Dan melihat kecantikan wanita itu membuat Deta semakin merasa tidak percaya diri.


Ia memilih menundukkan kepalanya menatap kakinya yang terjuntai ke bawah. kemudian ia menggoyang-goyangkan kakinya untuk menghilangkan kegelisahannya.


"Aku sudah lama terikat dengan keluarga ini. Bahkan jauh sebelum aku lahir." Mika membuka pembicaraan.


Seketika Deta menoleh dan melihat gadis itu tersenyum sekilas padanya dan kembali menatap ke arah depan namun dengan tatapan yang kosong.


"Mendiang ibuku bersahabat baik dengan tante Rika. Mereka berniat menjodohkan anak-anak mereka di masa depan. Namun sayangnya, mereka sama-sama melahirkan anak perempuan saat itu." Mika terkekeh yang di ikuti senyuman oleh Deta.


"Hingga beberapa tahun kemudian mereka tak kunjung mengandung lagi namun persahabatan antara kak Fita dan kakakku justru terjalin dengan sangat baik tanpa di duga. Akhirnya, ibuku dan tante Rika berpikir bahwa persahabatan mereka akan tetap terjalin walau tanpa ikatan pernikahan ataupun ikatan kekeluargaan." Lanjut Mika seraya terus tersenyum mengingat kenangan manis keluarganya.


"Setelah membatalkan janji mereka untuk menjodohkan anak mereka. Kemudian aku dan Ricky lahir di tahun yang sama. Tak jauh berbeda dengan kakak kami. Aku dan Ricky pun bersahabat. Tidak pernah sedikitpun aku berpikir untuk memiliki perasaan khusus terhadapnya." Kali ini Mika tersenyum dengan sangat manis hingga matanya hampir tertutup rapat.


Deta mendengarkan Mika dalam diam. Walau sebenarnya dalam hati ia bertanya-tanya kenapa tiba-tiba Mika menceritakan hal ini padanya. Dan pada pertemuan pertama mereka.


"Aku merasa sudah seperti bagian dari keluarga ini. Tante Rika sangat baik. Ia sangat menyayangiku dan juga kakakku. Saat ibuku meninggalkan kami untuk selamanya. Keluarga inilah yang mendukung kami. Hingga om Firman membelikan rumah di dekat sini untukku dan kakak." Air mata mulai mengalir dari mata sipit Mika.


Tidak tahu harus berbuat apa. Deta mencoba menggenggam tangan Mika.


Merasa mendapat dukungan, Mika menatap Deta dan membalas genggaman tangannya.


"Ketika kakakku mengalami hal terburuk dalam hidupnya. Keluarga tante Rika juga yang membantu kami. Namun sayangnya, kakak menolak dan memilih untuk pergi. Jika saja kakak tetap di sini, dia dan keponakanku pasti masih ada bersamaku." Semakin deras air mata yang keluar dari mata Mika.


Deta mengusap punggung Mika mencoba untuk menenangkannya.


Setelah merasa lega karena telah mengeluarkan semua ganjalan di hatinya. Mika menatap Deta yang masih duduk di sampingnya dan tersenyum dengan hangat.


"Sekarang aku tahu kenapa Ricky memilihmu."


***


Hallo semuanyašŸ¤—


Semoga kalian suka ceritanya 🄰


Jangan lupa tinggalkan jejak šŸ‘£ kalian di sini berupa likešŸ‘, comment, rate dan vote 🤭

__ADS_1


Iā¤U readers kesayangan kuuhh


__ADS_2