
Deta berjalan sambil terus menyunggingkan senyumnya kepada semua orang. Tapi begitu tatapannya bertemu dengan Ricky, Deta langsung menundukkan kepalanya.
'Cih! Sudah kukatakan, jangan pernah menundukkan kepalanya apalagi di depan banyak orang.' umpat Ricky dalam hati.
Bu Rika segera berdiri menghampiri Deta dan langsung memeluknya. "Kamu manis sekali." bisiknya.
Wajah Deta bersemu merah mendengar pujian dari bu Rika yang sebentar lagi akan menjadi ibu mertuanya.
"Terima kasih, Bu," ucap Deta pelan.
"Jangan panggil seperti itu lagi. Panggil mama saja!" titah bu Rika setelah melepaskan pelukannya.
Karena tidak tahu harus menjawab apa, Deta hanya tersenyum sebagai tanda persetujuannya.
"Ayo, kita mulai acaranya!" seru Refita yang di setujui semua orang.
Acara yang sederhana itu berlangsung dengan sangat khidmat , walau tanpa persiapan yang matang. Terutama saat Ricky meminta izin kepada pak Danang untuk menikahi putri sulungnya itu.
"Pak, sebelumnya saat saya datang kesini, kita sudah berjabat tangan." tutur Ricky, "Tapi saat itu hanya sebagai temannya Deta." sambungnya.
Deta menatap Ricky yang kembali mengungkit kejadian tersebut.
'Kenapa harus membahas hal itu?' Batin Deta.
"Hari ini, saya datang kesini bersama dengan kedua orang tua saya bermaksud untuk melamar putri Bapak. Saya harap Bapak dan Ibu berkenan menerima saya yang masih banyak kekurangan ini sebagai menantu kalian." ungkap Ricky dengan penuh keyakinan.
Bu Sarah tersenyum, matanya di penuhi keharuan melihat putri kesayangannya sebentar lagi akan memulai hidupnya yang baru.
Tak jauh berbeda dengan bu Sarah, pak Danang juga tak dapat menahan keharuannya. Berkali-kali ia memalingkan wajahnya untuk sekedar mengusap matanya yang berkaca-kaca menahan haru.
"Bagaimana, Kak? Apa Kakak sudah yakin dengan Nak Ricky?" tanya pak Danang seraya menggenggam tangan Deta yang duduk di sampingnya.
Lidah Deta terasa kelu, bibirnya bergetar hebat menahan air mata yang merangsek ingin keluar. Ia tak mampu berkata-kata. Hanya bulir air yang menetes satu persatu dari mata bulatnya.
Melihat putrinya menangis, pak Danang langsung mengusap air mata Deta dengan lembut sambil terus tersenyum dan bergumam, "tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja."
__ADS_1
Deta dapat mendengar gumaman ayahnya dengan jelas. Ia mencoba tersenyum di sela-sela air mata yang terus berjatuhan.
"Deta yakin, Pa." jawab Deta dengan suara yang masih terisak.
Ia langsung memeluk ayahnya dan terisak seperti anak kecil. Kebiasaan yang selalu ia lakukan ketika ia merasa sedih ataupun bahagia. Sang ayahlah tempatnya untuk bersandar.
Bu Rika dan Refita meneteskan air mata merasakan keharuan yang luar biasa melihat kedekatan Deta dengan ayahnya.
Tiba-tiba saja pak Firman berkata, "kamu begitu sedih akan menikahi Ricky. Gadis yang malang."
"Papa!" teriak Ricky kesal.
***
Acara lamaran berjalan lancar dan cepat karena Deta menolak untuk bertukar cincin dengan Ricky.
Walau sudah di bujuk dan hampir di paksa, ia tetap teguh tak ingin bertukar cincin karena cincin pemberian Ricky sudah melingkar di jarinya.
"Kamu tidak romantis." celetuk Ricky pada Deta yang sedang menatap keluar jendela.
Ricky menghela nafas mendengar jawaban Deta, ia merasa gadis itu menjadi semakin dingin terhadapnya.
Sejak acara lamaran sampai mereka tiba di sebuah restoran, Deta selalu menghindari Ricky.
Ricky menghembuskan nafas kasar. "Ada apa? Katakanlah! Jangan bersikap seperti itu, kamu menyiksaku!"
Mendengar ucapan Ricky yang terdengar kecewa sekaligus pasrah membuat Deta menatap pria yang sedang duduk di hadapannya.
"Kenapa Anda melakukan itu, Pak?" tanya Deta sinis.
"Apa?" jawab Ricky bingung.
"Kenapa Anda menentukan tanggal pernikahan tanpa bertanya dulu pada saya?" Kilatan amarah mulai nampak di mata Deta.
__ADS_1
Walaupun Deta sudah menunjukkan kemarahannya, namun Ricky hanya tersenyum seraya meneguk kopinya.
Deta yang kesal dengan tingkah Ricky kembali menatap keluar jendela.
"Apakah ada sesuatu yang menarik di luar sana? Kenapa kamu terus memandanginya?" ucap Ricky yang merasa di abaikan.
"Semua hal di dunia ini sangat menarik bagiku kecuali Anda." ketus Deta.
Sebenarnya, Ricky terkejut dengan sikap Deta namun ia bisa memahaminya karena ia tahu alasan di balik kemarahan gadis itu.
Ricky sudah menentukan bahwa pernikahan mereka akan di laksanakan dua minggu lagi, dan hal itu membuat Deta sangat marah.
"Aku sudah menunda tanggal pernikahan kita, Sayang. Sebelumnya, aku berpikir kita akan langsung menikah hari ini." Ricky terkekeh melihat ekspresi terkejut Deta.
"Pernikahan bukan lelucon, Pak!" sergah Deta.
"Aku tahu. Itu sebabnya aku tidak mau menundanya terlalu lama." jawab Ricky.
Dengan tenang ia menanggapi kemarahan Deta, melihat kemarahan Deta membuat Ricky semakin jatuh ke dalam pesona gadis tercintanya itu.
"Kenapa terburu-buru? Kita bisa menikah bulan depan." rengek Deta. "Saya masih ada ujian untuk menyelesaikan pendidikan saya." sambungnya lirih.
"Lakukan itu setelah menikah, aku tidak bisa menundanya lagi." tegas Ricky.
Hallo semuanya 🤗
Masih stay di dunianya Deta dan bang Ricky kan 😁😁 Maafkan atas ke amburadulan jadwal upnya 🙏
Semoga kalian masih setia nunggu aku up 🥰
Jangan lupa jempol dulu sebelum baca 👍😁
Selesai baca tolong tinggalkan jejak 👣 kalian di kolom komentar ya (boleh apa saja, asal jangan bullying 🤭)
__ADS_1
Daaann tolong vote aku ya pleaseee 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh